
Zero pun melajukan mobilnya kembali pulang ke rumah, dia sekarang sudah lumayan mahir mengemudi jadi tidak mengandalkan Zeya lagi.
Sesampainya di rumah, Zero mempersilakan semua untuk masuk, lalu mencari keberadaan Mak Salmah dengan bertanya kepada pelayan.
Ternyata, Mak Salmah sedang di pekarangan belakang melihat-lihat tanaman yang baru saja dibersihkan oleh pengurus pekarangan.
Melihat Zero sudah tiba, Mak Salmah pun bertanya, "Sudah pulang, Ro? Bagaimana kabar mereka dan kapan Royan dan Nayla berangkat?"
"Semua sehat Mak, rencananya besok pagi mereka berangkat. Ibu, Abah dan yang lain akan tinggal disini, supaya lebih aman dan memiliki teman. Mak ada yang ingin aku tanyakan!"
"Apa itu Ro? kenapa kamu jadi formal seperti ini. Biasanya langsung ceplos saja apa yang mau kamu tanya," ucap Mak Salmah.
"Aku sudah tahu Mak, rahasia tentang siapa itu Bu Riana," ucap Zero.
Mak Salmah sontak berhenti memperhatikan tanaman, dia berbalik menatap Zero, lalu berkata, "Apa yang kamu ketahui?"
"Apa benar beliau ibu kandungku Mak?" tanya Zero.
Mak Salmah terdiam, lalu beliau berkata, "Siapa yang mengatakan hal itu?"
"Bu Riana Mak, karena tidak sengaja mendengar candaan Zeya tentang pernikahan kami," ucap Zero.
Sejenak dia terdiam, lalu berkata lagi, "Beliau melarang kami menikah dan membuka cerita masa lalu. Beliau mengatakan jika aku adalah putranya dan Zeya adalah putri dari ayahku."
"Apa! Kalian saudara se ayah? Mak baru tahu rahasia ini. Jika kamu putra Bu Riana memang benar, Mak tidak ingin menutupinya lagi darimu. Syukurlah jika kamu sudah tahu, karena Bu Riana juga berhak mengatakan kebenarannya."
"Terimakasih Mak, walaupun Bu Riana itu, ibu kandungku tapi Mak tetap ibuku. Aku sayang sama emak sampai kapanpun. Emak yang merawat dan membesarkan ku hingga aku bisa seperti sekarang, jasa emak tidak akan pernah bisa aku balas," ucap Zero sambil memeluk Mak Salmah.
"Mak Salmah membalas pelukan Zero sambil menangis dan berkata, "Mak beruntung telah menemukanmu Ro, Mak juga sayang kamu lebih dari diri Mak sendiri. Terimakasih masih mau menyayangi emak walau kamu sudah mengetahui kebenarannya."
"Ayo kita masuk, Mak ingin bicara dengan Ibu kamu," ajak Mak Salmah.
Mak Salmah dan Zero kembali ke dalam rumah, di sana Kiara sedang menyuguhkan minuman dan cemilan.
"Mak," sapa Bu Riana dan di susul oleh Bu Ambar dan Abah.
"Maaf ya Bu, kami jadi merepotkan. Kami izin untuk tinggal di sini selama Royan dan Nayla pergi," ucap Abah.
__ADS_1
"Dengan senang hati Bah, saya senang rumah ini jadi ramai."
Kemudian Bu Riana pun meminta maaf karena telah membuka rahasia tanpa izin dari Mak Salmah.
"Mak, aku minta maaf karena telah membuka identitasku tanpa izin dari Emak," ucap Bu Riana.
"Nggak apa-apa kok Bu, ibu juga punya hak atas Zero, kita sekarang sama-sama ibunya," ucap Mak Salmah.
"Terimakasih Mak", ucap Bu Riana.
"Nak Zeya, sekarang kamu juga anak kami, jadi emak mohon, tetaplah di sini sebagai anak perempuan kami."
"Iya Mak. Terimakasih, sudah mau menerima aku menjadi bagian keluarga ini," ucap Zeya.
"Apa sudah ada kabar dari Mama kamu Nak?" tanya emak.
Tadi aku telepon Mama, tapi tidak diangkat, nggak tahu lah Mak sekarang beliau ada di mana!" ucap Zeya sedih.
"Sabar ya, nanti beliau juga pasti menghubungimu," ucap Mak Salmah lagi.
Saat mereka ngobrol, Zero pun permisi untuk mengangkat telepon, karena dia melihat ada panggilan masuk dari Satria. Barangkali Satria ingin memberitahu info terbaru dari kampus.
"Ro, ada kabar gembira, kalian semua lulus. Jadi Senin depan sudah bisa daftar ulang," ucap Satria.
"Alhamdulillah, terimakasih infonya Sat. Aku akan infokan ke teman-teman ku," ucap Zero.
"Tapi sayang..." ucapan Satria terhenti, dia mendesah hingga membuat Zero penasaran, lalu bertanya.
"Ada apa Sat, apa ada masalah dengan kelulusan kami?" tanya Zero.
"Bukan itu Ro, tapi sayang Alena juga lulus," ucap Satria.
"Oh ya, bagaimana kabar Alena di sana? Apa dia melanjutkan kuliah Sat?" tanya Zero.
"Belum Ro, dia katanya ingin mencari pekerjaan dulu, baru mendaftar kuliah malam. Barangkali dia mau waktunya full penuh dengan kegiatan, jadi bisa melupakan kesedihannya. Padahal Mama Papa sudah bilang agar kuliah saja dulu, soal kerja nanti belakangan dipikirkan."
"Boleh aku menemuinya Sat, aku ingin bicara dengan dia," ucap Zero.
__ADS_1
"Kamu serius Ro, kamu mau ke Padang untuk menemui dia?" tanya Satria yang merasa tidak yakin.
"Iya, mumpung perkuliahan belum di mulai, aku harus bicara dengan dia. Dan aku ingin mengajak Zeya jalan-jalan agar dia bisa menenangkan pikiran," ucap Zero.
"Kalau kamu bawa Zeya, sama saja namanya membuka luka hati Ro!" ucap Satria.
"Aku dan Zeya sebenarnya Kakak adik Sat!" ucap Zero.
"Bagaimana bisa! Kalian 'kan pacaran?" tanya Satria heran.
"Ceritanya panjang, aku tidak bisa menceritakannya melalui telepon. Saat ini, aku hanya ingin menghiburnya dan jika kamu tidak keberatan, coba kirimkan alamat orang tua kamu yang sekarang. Jika Zeya mau, kami akan jalan-jalan kesana, sekaligus menemui Alena. Aku mau Alena kuliah disini, sayang 'kan, sudah lulus di universitas negeri malah milih pergi," ucap Zero.
"Baiklah Ro, jika kamu tidak keberatan aku ikut dengan kalian boleh? mumpung urusan di kampus sudah selesai, aku juga ingin jalan-jalan melihat rumah baru orangtuaku," ucap Satria.
"Tentu saja boleh. Aku malah senang, perjalanan kita jadi lebih ramai. Kita menggunakan mobilku saja, perjalanan satu hari sampai kan kesana?" tanya Zero.
"Iya, memangnya kamu sudah mahir nyetir?" tanya Satria.
"Kita minta tolong Bang Beni saja untuk nyetir, beliau pasti mau," ucap Zero.
"Baiklah jika begitu, kamu tanya dulu si Zeya, bersedia atau tidak."
Setelah mengirimkan alamat Alena, Satria pun menutup panggilan, lalu Zero kembali ke dalam rumah.
Ternyata Zeya juga sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Terdengar Zeya sedang bicara sambil menangis.
Zero penasaran, lalu mendekati Zeya. Setelah Zeya menutup teleponnya, Zero pun bertanya, "Ada apa Zey, kenapa kamu menangis?"
"Mama Kak! Mama saat ini di rumah sakit. Kata pihak rumah sakit, mama ditemukan oleh seseorang dalam keadaan pingsan di jalan dan dalam keadaan terluka parah," ucap Zeya.
"Jadi bagaimana keadaan Mama kamu sekarang?" tanya Zero.
"Belum sadar."
"Di rumah sakit mana Zey?"
"Rumah sakit yang tidak jauh dari pelabuhan Kak!" jawab Zeya.
__ADS_1
"Kamu bersiap! kita akan kesana, tapi sebelumnya aku akan telepon Bang Beni supaya mengantarkan kita kesana."
Sambil menunggu kedatangan Bang Beni, Zero menceritakan kejadian itu kepada emak dan Ibunya. Merekapun turut prihatin dengan kejadian buruk yang telah menimpa mamanya Zeya.