
Royan akan tetap menyayanginya Zeya, meski kenyataan nantinya membuktikan bahwa gadis itu bukan darah daging dari sang Papa.
Melihat Zeya menangis terisak-isak saja hati Royan rasanya sakit, dia tidak pernah melihat adiknya begitu sedih, seperti sekarang ini.
Zero yang melihat keduanya menangis pun ikut sedih, menurutnya mama Shena sangat keterlaluan telah mempermainkan perasaan Royan dan Shena sebagai kakak beradik.
Kasih sayang yang telah tumbuh diantara mereka selama puluhan tahun, ingin Shena hancurkan dalam sesaat dengan hasil tes DNA.
Untung saja hubungan Royan dan Zeya tidak terpengaruh dengan kenyataan yang coba mama Shena kuak untuk menggali jurang diantara keduanya.
Malah hal ini menjadi senjata makan tuan, berbalik ke diri Shena sendiri, karena Zeya sekarang semakin membenci mamanya dan dia telah meminta Royan untuk menuntut secara hukum sang mama atas perbuatannya.
Royan terus menenangkan sang adik, meredakan kemarahannya hingga akhirnya Zeya pun tertidur dalam pelukan Royan.
Royan jadi teringat saat Zeya masih kecil, dialah yang selalu bisa menenangkan gadis itu saat dia marah, sedih dan ngambek.
Dan ketika semua orang kewalahan dalam menghadapi sikap Zeya yang manja, malah justru bagi Royan merupakan kesenangan tersendiri.
Kakak beradik ini, tumbuh besar bersama dengan hanya mendapatkan kasih sayang dari papa yang mengalami stroke tanpa kehadiran seorang mama di sisi mereka, makanya bagi Zeya Royan lah, mama sekaligus Papa untuknya.
Royan tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya, walau kaki dan tangannya sudah terasa kebas karena menahan berat badan Zeya. Dia takut adiknya itu terbangun apabila berpindah posisi.
Zero yang melihat hal itu ingin menggantikan Royan tapi Royan menolak dan meminta Zero untuk beristirahat juga.
Malam ini mereka terapung-apung di lautan lepas, hanya tinggal Royan, awak kapal dan nahkoda yang masih terjaga.
Akhirnya rasa lelah dan kantuk pun membuat Royan tertidur, tanpa melepaskan pelukannya terhadap Zeya.
Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras yang berhasil membuat mereka semua terbangun dari tidurnya.
Ternyata, mama Shena dan sisa pengawal telah mengejar kapal mereka dan berhasil menembakkan peluru hingga kapal mereka pun oleng.
Zero segera bangkit, dia tidak bisa tinggal diam melihat kapal yang mereka tumpangi terus ditembaki hingga bisa berdampak buruk yang akan mengakibatkan kapal ini nantinya karam.
Nahkoda dan awak kapal pun ketakutan dengan datangnya serangan mendadak tersebut, tapi Royan berhasil menenangkan mereka.
__ADS_1
Zero sudah mengenakan rompinya, saat ini dia siap ingin melompat dan terbang ke arah kapal lawan demi keselamatan teman-temannya.
Zeya yang tidak melihat Zero ada diantara mereka pun merasa cemas, dia tahu Zero pasti sedang melakukan sesuatu untuk menghalangi lawan.
Royan menahan Zeya yang hendak beranjak dengan berkata, "Mau kemana Dek? Bahaya, jangan keluar! Kamu tetap di sana saja. Berdoalah, mudah-mudahan tidak terjadi apapun terhadap kapal kita."
"Biar kami yang akan melawan mereka Dek," pinta Royan.
"Kalian, bersiaplah! kita gunakan senjata yang ada untuk melawan mereka," ucap Royan.
Keempat pengawal Royan sudah bersiap dengan senjatanya, lalu merekapun keluar ke anjungan kapal dengan dipimpin oleh Royan.
Mereka membalas tembakan lawan, dengan peluru yang ada. Royan yang memiliki teropong, segera membidikkan pelurunya kepada mantan asisten Papanya yang saat ini sedang berdiri di atas anjungan kapal lawan.
Bayangan sang Papa telah memantapkan hati Royan, hari ini dia harus berhasil membalaskan dendam, membunuh pengkhianat tersebut.
Sekali tarik pelatuk, peluru pun melesat tepat mengenai sasaran. Royan berteriak senang sambil mengangkat tangannya ke udara, hingga membuat yang lain terkejut.
Pengkhianat seketika tewas, Shena histeris mendapati selingkuhannya jatuh terkapar dengan peluru menembus dadanya.
Hari ini Royan merasa puas, walau dia nanti harus mati karena melawan mereka, setidaknya Royan sudah membalaskan sakit hati almarhum sang Papa yang telah lama tertunda.
"Musuh terbesar almarhum Papaku, si pengkhianat," ucap Royan.
Zero yang sudah berhasil melompat ke dalam kapal Shena pun segera bertindak. Dia menyingkirkan nahkoda kapal terlebih dahulu, hingga kapal itu sekarang tidak memiliki nahkoda lagi. Kapal seketika terhenti karena Zero sudah mematikan fungsi kapal.
Setelah itu, Zero kembali melompat ke kapalnya dan membuka rompi di tempat aman, lalu bergabung dengan Pak nahkoda membantu mengendalikan laju kapal karena tadi sempat oleng.
"Bos lihatlah! mereka berhenti menembak dan kapal mereka jauh tertinggal di belakang," ucap salah satu pengawal Royan.
"Iya, kamu benar, sebenarnya ada apa ya, sampai mereka mengurungkan niat untuk mengejar kita," ucap Royan.
"Barangkali kapal mereka rusak Bos, jadi tidak bisa meneruskan perjalanan," ucap salah satu pengawalnya.
"Bisa jadi," ucap Mahen.
__ADS_1
Mereka pun kembali ke dalam kapal, Royan yang belum melihat Zero sejak tadi merasa heran, lalu dia bertanya kepada Zeya, "Dek, apa kamu melihat Zero?"
"Sejak keluar tadi, belum kembali Kak, barangkali sedang bersama Pak nahkoda, karena saat kapal oleng Kak Zero langsung berlari keluar," ucap Zeya.
"Coba kakak cek dulu ya, mudah-mudahan dia ada di sana," ucap Royan.
Kemudian Royan ke ruangan nahkoda, ternyata benar Zero ada di sana sedang ngobrol dengan pak nahkoda.
"Ro, kamu di cari Zeya, dia sangat cemas. Sekarang kita bisa tenang, mereka tidak lagi mengejar kita," ucap Royan.
"Iya Kak, ayo kita bersama Zeya," ucap Zero.
Mereka pun kembali ke dalam kapal, Zeya yang melihat semua baik-baik saja merasa tenang.
Lewat tengah malam, kapal mereka mendarat di pelabuhan dengan selamat, Zero segera menghubungi Beni untuk menjemput mereka, begitu juga Royan menelepon anak buahnya untuk segera datang menjemput.
Mereka menunggu, sampai mobil jemputan masing-masing tiba.
Sebelum pergi, Royan bertanya kepada Zeya, "Dek, kita langsung ke rumah Zero ya, masalahnya semua sedang menginap di sana.
"Terserah saja Kak, kesana juga boleh," jawab Zeya.
Mobil beriringan kembali ke kompleks Puri Indah, lalu Zero turun dari mobil untuk menemui security agar mengizinkan mereka masuk.
Pintu gerbang kompleks pun sudah di buka, mobil mereka pun masuk menuju rumah Zero.
Penjaga rumah membukakan pintu saat melihat Bos mereka sudah kembali, ternyata yang lain juga ikut bangun termasuk emak.
Emak memeluk Zero, beliau senang putranya telah pulang dengan selamat, begitu juga Nayla memeluk suaminya, dia menangis ketika melihat luka-luka pada tubuh Royan.
Mama Ambar juga menangis, lalu beliau meminta agar Bu Riana mengambilkan obat oles luka untuk Royan.
Malam ini rumah Zero sangat ramai, mereka bersyukur semua telah kembali dengan selamat.
Emak memeluk Zeya, sambil berkata, "Kamu istirahat saja di kamar Kiara ya Nak! Emak tahu kamu pasti lelah."
__ADS_1
Kiara langsung mengajak Zeya ke kamarnya untuk istirahat, sementara Royan dan Nayla menempati kamar tamu. Abah sendiri tidur di kamar Zero. Bu Ambar, Bu Riana dan Emak tidur di kamar emak.
Zero, Bang Beni serta keempat anak buah Royan memilih tidur di ruang tengah dengan menggunakan tikar yang telah di siapkan oleh pelayan rumah Zero.