
Ketiga anak buah Royan mencari kunci mobil truk, tapi tidak juga menemukannya.
Mereka pun segera melapor kepada Zero bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan selain meminta bantuan kepada anak buah yang lain untuk menjemput mereka menggunakan mobil.
Namun menurut Zero itu terlalu memakan waktu, takutnya keburu ada orang lain yang datang ke tempat itu.
Lalu Zero memikirkan solusinya dan berkata kepada ketiga anak buah Royan untuk menjaga abah dan yang lain sementara dia akan mencoba menghidupkan mobil tanpa menggunakan kunci.
Zero pun segera bergegas menuju truk tersebut, dengan bantuan poin keahlian, keterampilan dan kecekatan dari sistem, Zero berusaha menghidupkan truk tersebut tanpa menggunakan kunci.
Mendengar suara truk menderu, semua bersorak, lalu Zero meminta mereka semua untuk naik.
Dengan bantuan sebuah kursi, para wanita pun naik ke bak truk, sementara abah dan Nayla diminta Zero untuk duduk di depan bersama anggota Royan yang memang ahli dalam menyetir mobil.
Mereka kembali ke rumah Royan dulu, barulah besok para wanita itu akan dipulangkan ke daerahnya masing-masing.
Setelah mengantar mereka, anak buah Royan berganti mobil, lalu mengantarkan Zero, abah dan Nayla ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, Zero mengurus perawatan abah dulu, dan meminta suster untuk menjaganya sementara, setelah itu barulah dia dan Nayla menghampiri Zeya untuk menanyakan keadaan Royan.
Melihat kedatangan Zero dan Nayla, Zeya merasa bersyukur, lalu dia memeluk Nayla sambil menangis.
"Kak Nay...kakak tidak apa-apa 'kan, kak Royan Kak, dia belum sadar hingga sekarang," ucap Zeya.
"Kakak nggak apa-apa Dek, untung saja Zero datang tepat waktu kalau tidak kami pasti sudah di jual ke luar oleh penjahat-penjahat itu. Jadi bagaimana transfusi darah kak Royan Zey, apa masih membutuhkan donor lagi?"
"Kata Dokter untuk saat ini cukup, tinggal nunggu Kak Royan sadar, mudah-mudahan kakak segera pulih."
"Kita doa sama-sama ya Zey. Bagaimana kondisi Mama Ambar Zey?"
"Mama sedang tidur 'Kak, beliau di jaga oleh Bu Riana, emak juga kak Kiara. Keadaan abah bagaimana kak?"
"Abah juga sedang di rawat, di ruangan ujung sana Zey, tadi kata Dokter nggak kenapa-kenapa hanya lemas saja dan akan segera pulih."
__ADS_1
Syukurlah ya kak, itu Dokter yang menangani Kak Royan!" tunjuk Zeya.
Zero pun mendekati sang Dokter dan bertanya, "Bagaimana keadaan Kakak kami Dok?"
"Dia sudah sadar tapi kondisinya masih lemah, nanti apabila sudah bisa di jenguk, kami akan segera kabari keluarga," ucap Dokter.
"Alhamdulillah," ucap Zero dan yang lain.
Sekarang dia bisa tenang, lalu Zero pamit kepada Zeya untuk melihat Bu Ambar sekalian menemui emak.
Melihat Zero telah kembali, Mak Salma merasa lega, lalu beliau menceritakan keadaan Royan yang belum sadar. Tapi Zero langsung menjelaskan bahwa Dokter baru saja mengatakan jika Royan sudah sadar.
"Mak, Kak Kiara dan Bu Riana serta Bu Ambar, sebaiknya pulang ke rumah terlebih dulu biar bisa beristirahat, jangan sampai kalian juga ikut sakit. Biar anak buah Kak Royan yang akan mengantar pulang. Aku, Zeya dan Kak Nayla yang akan menjaga Kak Royan."
"Baiklah Dek, besok siang aku akan datang lagi membawa makanan buat kalian," ucap Kiara.
"Oh ya Kak, saat ini di rumah Kak Royan banyak wanita, ada 19 orang. Mereka tadi aku temukan saat menyelamatkan Kak Nay yang hampir di jual orang keluar negeri," ucap Zero.
"Apa Ro! Jadi kamu tadi berkelahi lagi?" tanya emak.
"Kamu! Lain kali jujur sama emak ya! Bagaimana jika kamu celaka coba, sementara Royan juga belum sembuh."
"Iya Mak, aku hanya tidak mau emak khawatir makanya tadi terpaksa bohong, tapi aku perginya bersama tiga orang anak buah kak Royan kok Mak.Yang penting sekarang semua selamat."
"Sekarang bersiap ya Mak, kak, Bu Riana dan Bu Ambar, biar aku hubungi anak buah Kak Royan dulu," ucap Zero yang keluar untuk mencari salah satu anak buah Royan.
Emak dan yang lain akhirnya pulang untuk beristirahat, kini Zero, Zeya dan Nayla sedang menunggu kabar dari Dokter.
Saat melihat Dokter keluar dari ruangan Royan, mereka bertiga mendekat dan menanyakan apakah sudah boleh menjenguk Royan.
Dokter pun mengizinkan, tapi satu persatu karena kondisi Royan masih lemah.
Zero dan Zeya mempersilakan agar Nayla dulu yang masuk. Nayla pun mengangguk lalu dia berganti pakaian rumah sakit, membersihkan tangannya dengan cairan pembersih baru masuk ke ruangan rawat Royan.
__ADS_1
Nayla sedih melihat Royan terbaring lemah, padahal tadi malam mereka bertemu dia masih baik-baik saja. Kenapa setiap mereka merencanakan hari pernikahan selalu saja ada musibah yang datang.
"Nay..." sapa Royan dengan tersenyum.
"Kak Roy kenapa bisa seperti ini? Siapa yang tega melukai Kakak?" tanya Nayla sambil menangis.
"Jangan nangis Nay! Aku tidak apa apa, sebentar lagi juga sembuh. Ini mungkin karmaku Nay, atas perbuatanku dulu. Biarlah aku tebus satu persatu dosa ku sekarang agar tanggungjawabku di sana nanti tidak terlalu berat," ucap Royan.
"Tapi Kak, kenapa musibahnya selalu datang di saat kita merencanakan pernikahan. Apa mungkin kita memang tidak diizinkan untuk menikah."
"Jangan berkata begitu Nay, insyaallah kita tetap akan melangsungkan pernikahan, walau aku masih terbaring di sini. Kita tidak akan menundanya lagi."
"Iya Kak."
"Oh ya, bagaimana keadaan Abah Nay? Kamu tinggal kesini, abah di rumah siapa yang jaga?" tanya Royan lagi.
"Abah sedang di rawat di sini Kak," ucap Nayla.
"Apa! Penyakit abah kambuh lagi?" tanya Royan khawatir.
"Tidak Kak," jawab Nayla.
Kemudian Nayla menceritakan apa yang terjadi tadi malam setelah Royan pulang, mereka di culik, Abah di pukul karena melawan lalu mereka di bawa ke suatu tempat dekat pelabuhan bersama para wanita yang akan di jual ke luar negeri.
Dan Nayla juga menceritakan bahwa Zero bersama anak buah Royan telah datang menyelamatkan mereka.
Mendengar cerita Nayla, Royan terkejut, dia langsung berpikir ini pasti perbuatan mama Shena.
Karena waktu Royan tidak meneruskan usaha itu, Shena marah besar, dia tidak terima jika Royan menghentikannya sebab otomatis setoran kepadanya juga di hentikan dan kliennya di luar negeri marah kerjasama mereka putus.
Royan menggeretakkan gigi, mengepalkan kedua tangannya, dia marah dan bertekad akan membalas perbuatan yang dilakukan Shena terhadap mama Ambar, terhadapnya juga terhadap keluarga Nayla.
Dan setelah dirinya nanti pulang dari rumah sakit, Royan akan menghancurkan bisnis kotor itu, cukup kesalahan itu dulu dia perbuat. Royan tidak ingin lagi melihat para wanita menderita, akibat di perdagangkan.
__ADS_1
Nayla yang takut melihat kemarahan Royan akan mempengaruhi kesembuhannya, lalu berkata, "Kak Royan tenang saja, yang penting Nayla, abah dan yang lainnya selamat 'kan. Sekarang kak Royan harus cepat sembuh agar pernikahan kita bisa segera terlaksana," ucap Nayla sambil tersenyum.