
"Apa yang telah menyebabkan Royan turun langsung ke lapangan ya Bang? Berdasarkan rumor yang aku dengar, dia jarang sekali memunculkan dirinya ke publik, makanya anggotanya sendiri saja tidak tahu wajahnya seperti apa." tanya Zero.
"Iya Dek, benar itu. Makanya, kami yang sudah bertahun-tahun bekerja untuknya saja, baru hari ini aku melihatnya."
"Mungkin saja dia sudah mulai tidak percaya dengan anak buahnya?" ucap Togar.
"Bisa jadi begitu," ucap Zero.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan Dek, dia kasi tempo ke warga satu bulan untuk kosongkan tempat ini, mengenai ganti rugi kata Royan berurusan dengan pihak kelurahan," ucap Beni.
"Nanti, aku coba dulu temui pihak kelurahan Bang, aku mau tanya bagaimana sistem ganti ruginya. Jika sangat merugikan warga, kita tidak bisa tinggal diam," ucap Zero.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, ponsel Beni berdering. Beni melihat siapa yang sedang memanggilnya, tertera di sana nomor tak di kenal.
"Siapa Bang?" tanya Togar.
"Nggak tahu nih Gar, coba aku angkat mana tahu ada berita penting."
Saat Beni menerima panggilan tersebut, terdengarlah suara putranya yang sedang meminta tolong dan ada suara orang tertawa di sana.
"Pak...tolong kami!" ucap putra Beni.
"Hallo...hallo, hallo Nak!"
Tut..tut...tut...tut...
Suara telephone pun terputus. Beni khawatir, pasti terjadi sesuatu dengan keluarganya. Dia coba menelephone istrinya tapi ponselnya juga tidak aktif.
"Ada apa Bang?" tanya Zero.
"Keluargaku sepertinya dalam bahaya Dek, barusan putraku yang menelephone minta tolong, tapi panggilan terputus. Aku coba hubungi kembali tapi sudah tidak aktif. Bagaimana ini, aku saja tidak tahu sekarang mereka tinggal dimana? Sejak mereka pergi meninggalkanku, kami putus kontak."
__ADS_1
"Kita tunggu dulu Bang, kalau mereka di culik, pasti penculik bakal hubungi Abang lagi", ucap Togar.
"Iya Gar, tapi apa yang membuat keluargaku di culik, jika minta tebusan toh aku nggak punya uang Gar?"
"Abang lupa? kita buronan Royan!"
"Ah...iya, bodoh sekali aku. Benar Gar, ini pasti kerjaan mereka untuk memancing kita supaya keluar. Syukurnya istrimu di sini jadi terlindungi."
"Belum tahu juga Bang! Royan 'kan ada di sini, kapan saja kita bisa tertangkap."
"Bagaimana ini, aku harus membebaskan mereka, aku tidak mau mereka jadi korban gara-gara aku. Aku harus menemui Royan, tapi dimana aku harus mencarinya?" ucap Beni mulai panik.
"Tenang Bang, kita tunggu dulu, mereka pasti menghubungi abang lagi dan mengatakan apa yang mereka inginkan."
"Aku keluar sebentar ya Bang, mau lihat situasi di luar, mana tahu bisa bertemu pihak Royan. Jika tidak aku akan ke kelurahan, mereka pasti tahu di mana harus menghubungi orang itu. Abang berdua disini dulu sambil menunggu kabar, kalau ada berita dari mereka segera hubungi aku ya Bang," ucap Zero.
"Apa nggak sebaiknya aku ikut Dek?" tanya Togar.
"Baiklah Dek, tapi kamu harus hati-hati ya?"
Zero pergi ke kamarnya, dia mengambil tas dan rompinya, sebelumnya dia berpesan kepada Togar dan Beni, jika emak bertanya bilang saja Zero sedang ada urusan di kelurahan.
Jarak rumah Zero dengan kelurahan tidak terlalu jauh, jadi dalam waktu singkat Zero sudah tiba di sana. Untung saja para pekerja di kantor kelurahan belum pulang, saat dirinya tiba di sana.
"Permisi Mbak, saya ingin bertemu Pak Lurah?"
"Oh...Pak Lurah sedang keluar Dek, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya ingin bertanya mengenai penggusuran perkampungan pemulung, soalnya saya tinggal di sana Mbak."
"Silahkan masuk Dek! kita bahas di dalam."
__ADS_1
Zero pun segera mengikuti pegawai kelurahan itu ke ruangannya. Lalu mereka mulai ngobrol serius tentang masalah penggusuran tersebut.
"Jadi Mbak, berapa sebenarnya ganti rugi yang mereka tawarkan untuk kami, untuk perumahnya."
"Tergantung luas tanah Dek, kalau masalah rumah tidak di hitung Dek, karena kita 'kan sama tahu, bagaimana kondisi rumah-rumah yang ada di sana. Rumah-rumah tersebut tidak bernilai Dek."
"Ya nggak bisa seperti itu juga Mbak! Jika begitu cara ganti ruginya lebih baik kami tetap memilih tinggal di sana, toh jika kami terima tawaran ini kami cuma bisa beli tanah saja tanpa bisa membangun rumah lagi. Jadi kami semua mau tinggal di mana Mbak?"
"Dukunglah pembangunan Dek! perkampungan itu sangatlah kumuh, hingga merusak pemandangan, jadi jika di bangun mall dan pertokoan pasti desa kita ini bisa semakin maju."
"Maju sih maju Mbak, tapi untuk apa jika hanya menyengsarakan rakyat. Bisa sih uang ganti rugi kami DP 'kan untuk kredit perumahan tapi warga akan tercekik hutang, sementara buat makan dan sekolah anak saja mereka sudah kualahan."
"Tapi, masalah ini sudah harus rampung sebulan lagi Dek. Mau atau tidak mau, warga harus kosongkan perkampungan, karena alat berat akan standby untuk meratakan semua."
"Kalau begini, pihak kelurahan bukan membela rakyat malah membela pihak yang diuntungkan," ucap Zero yang sudah kesal.
"Ini sudah keputusan Pak Lurah dengan pihak Pak Royan, kami pun hanya bawahan jadi tidak bisa berbuat apa-apa."
"Maaf kalau begitu Mbak, tolong sampaikan ke Pak Lurah, kami warga perkampungan pemulung menolak pindah, apapun alasannya, kami akan tetap bertahan di sana. Jika memang kami harus merapikan perkampungan itu, kami sanggup asal jangan pindah. Saya janji, akan mengumpulkan warga agar bergotong royong merapikan dan membersihkan rumah kami semua."
"Tolonglah Dek bekerjasama dengan kami, kita tidak akan menang melawan mereka Dek, nanti malah warga juga yang susah."
"Kalau begitu, tolong berikan ke saya alamat pemilik atau nomor kantor perusahaan yang akan melaksanakan proyek ini, kami akan nego langsung dengan mereka," ucap Zero.
"Maaf Dek, kami tidak bisa sembarang memberikannya kepada siapapun tanpa seizin Pak Lurah atau pihak developer."
"Terimakasih Mbak sudah memberikan informasinya, tapi saya pastikan, kami menolak ganti rugi yang seperti ini. Maaf Mbak...saya permisi dulu, tolong sampaikan salam saya kepada Pak Lurah, saya Zero Ramadhan, salah satu pemuda dari perkampungan pemulung."
Zero sudah menduga keputusan penggusuran ini sangat merugikan warga. Zero tidak bisa tinggal diam, walau bagaimanapun caranya, dia harus menemui Royan secepatnya.
Saat ini Zero akan mencari info dulu tentang keberadaan keluarga Beni. Sejenak Zero mempokuskan pikirannya, dia ingin menggunakan keahlian khusus yang telah sistem berikan untuknya yaitu menerawang kejadian dan keberadaan seseorang melalui cermin yang ada dalam pusaran waktu.
__ADS_1
Dalam cermin tersebut, nampaklah tiga orang telah menyekap istri dan putra Bang Beni, membawa mereka ke sebuah rumah yang cukup besar di mana para anak buah Royan berkumpul.