SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 98. DUA HATI YANG HANCUR


__ADS_3

Zero sangat terkejut, dia tidak yakin dengan apa yang barusan dia dengar dan tidak yakin jika Alena, sanggup mengatakan semua itu setelah setahun lebih hubungan cinta mereka terjalin.


Dengan menggenggam erat besi ayunan, Zero berusaha menekan perasaannya, hingga membuat telapak tangannya mengeluarkan darah karena terkena ujung besi yang menonjol.


Zero menyeringai, merasakan sakit, tapi rasa sakit itu belum seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit akibat perkataan Alena.


Alena yang melihat hal itu refleks mengambil sapu tangan dari dalam tasnya, dia ingin membalut luka itu agar darahnya tidak semakin banyak menetes.


Namun Alena tiba-tiba tersadar jika tujuan utama dia adalah ingin membuat Zero semakin membencinya tapi kenapa malah ingin menolongnya.


Alena pun mengurungkan niat dengan memasukkan kembali sapu tangan itu ke dalam tasnya.


Hati Alena semakin sakit, dia hampir saja tidak tahan, diapun memalingkan wajah ketempat lain agar Zero tidak melihat air matanya yang hampir jatuh.


'Aku harus kuat, aku harus tega melihat Zero terluka, aku tidak boleh gagal,' batin Alena.'


Tapi Alena tidak tahan lagi saat dia kembali melihat telapak tangan Zero sudah penuh dengan darah, dan melihat wajah Zero semakin pucat.


Akhirnya Alena menarik tangan Zero, lalu membalut lukanya dengan sapu tangan sambil berkata, "Sebaiknya kita ke rumah sakit, lukamu perlu diobati agar tidak terinfeksi."


Zero menepis tangan Alena hingga saputangan itu jatuh ke tanah dan lukanya kembali mengeluarkan darah, lalu diapun berkata, "Kenapa kamu masih mempedulikan ku, luka ini belum seberapa jika dibandingkan dengan luka yang kau berikan di sini," ucap Zero sambil menunjuk dadanya.


Alena hanya bisa menunduk, air matanya mulai menetes, setetes demi setetes membasahi pipinya yang putih dan chubby itu.


"Kenapa kamu menangis! Kamu puas 'kan sekarang! Kamu telah menghancurkan mimpiku, mimpi masa depan kita," ucap Zero lagi.

__ADS_1


Dengan menarik nafas berat serta dalam, kemudian Zero melanjutkan ucapannya, "Terimakasih telah membuatku sadar, bahwa saat ini pemulung tidak berhak bermimpi untuk memiliki cinta sejati dan kehidupan yang lebih baik."


"Tapi aku janji Alena, suatu saat aku akan buktikan bahwa aku tidak bermimpi, aku bisa punya cinta dan bisa memberikan kehidupan terbaik untuk keluargaku. Sekarang kamu pulanglah! sejak hari ini kamu bukan siapa-siapa ku lagi. Aku membencimu Alena! Anggap saja kita tidak pernah kenal, dulu, sekarang dan selamanya. Maaf...kali ini, aku tidak bisa mengantarmu, sekali lagi terimakasih atas cinta palsumu selama ini."


Mendengar perkataan Zero, hati Alena seperti diiris-iris, diapun turun dari ayunan, berlari meninggalkan tempat itu sambil menangis sesenggukan.


Ternyata sejak tadi, ada seseorang yang mengawasi pertemuan mereka dari tempat yang tersembunyi.


Melihat Alena berlari meninggalkan tempat itu, orang tersebut yang tidak lain adalah Vano, segera mengejarnya, dia tidak ingin terjadi hal buruk pada Alena yang saat ini, hati dan pikirannya sedang kalut.


Setelah kepergian Alena, Zero pun berkata sambil meneteskan air mata, "Aku mencintaimu sejak dulu Alena, apakah aku akan sanggup setelah ini membencimu?" tanya Zero lirih kepada dirinya sendiri.


Sejak hari itu hubungan Zero dan Alena sudah selesai, keduanya bersikap seperti tidak pernah saling kenal, baik di lingkungan sekolah maupun di luar.


Namun kerja keras Zero selama lima bulan belum juga menghasilkan banyak uang seperti yang dia harapkan, karena ada saja pengeluaran tak terduga hingga membuatnya hampir putus asa.


Sampai akhirnya dia bertemu Ahmad pertama kali saat anak itu berdagang kacang keliling, yang akhirnya menyadarkan Zero untuk selalu bersyukur, bahwa masih banyak orang yang lebih kekurangan dan kurang beruntung dibandingkan dirinya.


Rasa syukur Zero di balas dengan menemukan sebuah sistem, yang bisa membantu mempermudah kerja kerasnya bukan hanya untuk kebutuhan pribadinya saja melainkan juga untuk membantu orang lain.


Zero juga menutup diri dari yang namanya cinta, sejak dia putus hubungan dengan Alena, sampai saat dia kalah bertaruh dengan Zeya dan memutuskan untuk menjadi kekasih gadis itu.


Walaupun Zero selalu mengatakan bahwa Zeya, bukanlah tipe gadis idamannya tapi dia berusaha untuk membalas cinta Zeya karena dia yakin, Zeya gadis baik dan suatu saat akan bisa menjadi pendamping hidup yang baik baginya.


Sementara Alena sendiri berusaha menutupi luka hatinya dengan fokus belajar, merawat sang ibu dan membantu usaha dagang ayahnya.

__ADS_1


Alena sudah cukup bahagia bisa melihat ibunya sembuh, ayahnya bisa berdagang lagi dengan tenang tanpa harus takut ditindas oleh rentenir.


Sebentar lagi Alena juga akan menyibukkan diri pada perkuliahan, dengan begitu dia berharap suatu saat, bisa benar-benar melupakan Zero dan ikhlas menerima Vano.


Dengan menanamkan rasa benci di hati Zero serta membuat Zero menganggap dirinya sebagai cewek matrealistis, Alena juga berharap, hal itu akan bisa mendorong Zero agar segera melupakannya dan mencari wanita lain yang lebih baik darinya.


Begitulah sobat kisah sedih percintaan Zero dan Alena. Apakah kelak Zero akan mendapatkan kembali cinta sejatinya itu? Ataukah dia akan tetap bersama Zeya meraih dan mewujudkan masa depan terbaik untuk keluarganya.


Bagi yang merasa penasaran dengan jawabannya, ikuti terus yuk cerita ini hingga tamat ya....πŸ™πŸ˜‰



Hai para sobat, ini aku kasi rekomendasi lagi ya buat kalian, karya temanku lho, mampir juga yuk di sana, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya ....πŸ™β™₯️



Blurb :


Kisah Cinta dari pasangan muda yang berawal dari perjodohan, sepertinya berbuah manis.


Namun, masalah justru datang dari orangtua Ika, lebih tepatnya, sang mama yang mendadak menolak pernikahan mereka hanya karena hasutan dari masa lalu Ika.


Akankah mereka menyerah atau mempertahankannya?


__ADS_1


__ADS_2