SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 130. DISERANG


__ADS_3

Semua barang sudah di kirim ke rumah baru dan pembantu yang dipekerjakan oleh Zero juga sudah menyusun sebagian barang-barang sesuai tempatnya.


Zero, emak dan juga Kiara menata pakaian mereka di lemari dan di kamar masing-masing.


Saat ini rumah sudah terlihat rapi, hanya tinggal hiasan dinding yang belum terpasang. Zeya pun meminta tolong kepada mamang yang dipekerjakan mengurus taman untuk membantunya memasang hiasan dinding.


Malam ini mereka belum menginap di rumah baru, karena masih harus berbenah dan juga pamit kepada Royan. Rencana Zero besok pagi barulah pindah sekaligus mengajak Mama Ambar dan juga Bu Riana.


Hari ini semua merasa letih, jadi mereka tidur lebih awal, sedangkan Royan pulang larut malam karena singgah dulu ke rumah Nayla.


Royan dan Nayla membicarakan tentang kelanjutan pernikahan mereka. Royan dan Nayla ingin acara di percepat, supaya mereka bisa mengurus Mama Ambar dan tidak merepotkan Zero dan Emak.


Abah setuju, akad nikah akan diadakan minggu depan sedangkan pesta pernikahan akan di gelar di gedung dua minggu setelahnya.


Royan memilih membuat acara di gedung agar tidak merepotkan abah yang belum terlalu sehat.


Setelah kata sepakat di capai, Royan pamit pulang, karena dia khawatir seharian telah meninggalkan mamanya.


Nayla mengantar Royan sampai ke teras, entah mengapa perasaannya tidak enak. Ketika Royan hendak naik ke mobil, Nayla pun memanggilnya, "Kak... hati-hati di jalan ya! Soalnya hari telah larut, perasaanku sejak tadi tidak enak. Biasanya pertanda akan terjadi sesuatu, seperti saat abah sakit."


Royan kembali menghampirinya, lalu memegang tangan Nayla dan berkata, "Jangan khawatir Nay, kamu mungkin capek, istirahatlah! insyaallah tidak akan terjadi apapun," ucap Royan ingin menenangkan hati Nayla.


"Iya Kak, mudah-mudahan tidak akan terjadi apa-apa."


Royan pun mengecup kening Nayla, mengucapkan selamat malam, lalu menuju mobilnya sambil melambaikan tangan.


Berhubung jalanan sepi, Royan melajukan mobilnya dengan kencang, tapi dia tidak menyadari jika dibelakangnya ada dua mobil sengaja mengikuti.


Satu mobil sengaja menghimpit dan yang satunyai melewati dan berusaha menyalib mobil Royan.


Royan terkejut, dia berusaha jangan sampai lepas kendali dengan setirnya. Dia berusaha keluar dari himpitan mobil di sebelahnya, lalu melajukan mobilnya dengan lebih kencang.

__ADS_1


Kejar-kejaran pun terjadi, Royan berusaha menghubungi anak buahnya dan mengatakan bahwa ada orang-orang yang sengaja ingin mencelakainya.


Anak buah Royan bergerak cepat menuju lokasi Royan saat ini yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat mereka sedang berkumpul.


Empat orang dengan mengendarai dua sepeda motor melesat cepat di kesunyian malam, ingin segera membantu bos mereka.


Mobil Royan terus melaju kencang tapi di sebuah tikungan satu mobil yang mengejarnya berhasil menghantam sisi kanan mobilnya. Tak ayal, mobil Royan oleng ke kiri dan menghantam pembatas jalan.


Mobil Royan penyok, untung saja dia tidak cidera, hanya pelipisnya saja yang mengeluarkan darah, mungkin terhantam stiur saat dia mencoba mempertahankan mobilnya yang sedang oleng tadi.


Royan terpaksa tidak bisa melanjutkan perjalanan dan kesempatan itu di manfaatkan oleh kedua pengemudi mobil tersebut.


Satu mobil berhenti di depan dan satu lagi di belakang mobil Royan, dari dalam mobil tersebut keluarlah enam orang preman yang tubuhnya tinggi besar serta samar-samar terlihat bertato dan dengan wajah menyeramkan.


Royan yang merupakan mantan bos mafia tidak gentar sedikitpun, dia mengambil senjata yang selalu di bawanya di dalam mobil, sebuah pistol dan pisau yang sangat tajam.


Walaupun lawannya banyak, Royan dengan santai keluar dari dalam mobilnya.


Keenam orang tersebut tertawa lalu salah satunya berkata, "Menyerahlah! Percuma kamu melawan, taringmu tidak berguna di sini! Royan...mantan bos mafia akan tamat riwayatnya malam ini dengan tragis tanpa satu orangpun akan datang menolongmu!"


Kemudian para preman tersebut mengeluarkan senjata tajam dan rantai yang akan mereka gunakan untuk melilit leher Royan.


Pertarungan pun terjadi, Royan bergerak dengan gesit kesana kemari untuk menghindari serangan lawan.


Namun sehebat apapun ilmu beladiri yang dia kuasa, enam orang bukanlah tandingan yang sepadan untuknya.


Peluru dari pistol Royan memang berhasil menembus dada tiga orang lawannya tapi pisau dari kedua preman itu juga berhasil menggores lengan dan perut Royan hingga darah mengucur membasahi bajunya.


Royan limbung, tapi dia berusaha untuk tetap tenang. Tiga orang preman yang masih tersisa tertawa dan lalu salah satunya berkata, "Tamat riwayatmu malam ini Royan, jangan coba-coba kau melawan bos kami. Ibu mu selamat dan kau yang harus menggantikannya."


Satu preman menendang Royan hingga tubuhnya terjungkal ke tanah. Royan berusaha bertahan agar tetap sadar, tapi satu orang lagi menginjak luka di lengannya hingga Royan mendesis menahan sakit.

__ADS_1


Royan tidak mau berteriak dan terlihat lemah di mata ketiga preman tersebut, dengan susah payah dia berusaha bangkit tapi akhirnya tersungkur lagi.


Ketiganya tertawa dan saat mereka hendak menghabisi Royan, anak buah Royan pun sampai. Mereka menggeber motor dan memutari ketiga preman tersebut.


Royan tersenyum saat samar-samar dia melihat anak buahnya datang.


Keempat anak buah Royan turun dari motor lalu mereka menerjang ketiga preman yang tersisa.


Sekarang berbalik, kubu Royan lebih banyak, empat banding tiga. Perkelahian terjadi dengan sengit dan akhirnya anak buah Royan berhasil menghajar, menendang dan melukai ketiganya dengan senjata tajam yang mereka bawa.


Tiga preman tersebut pun bergelimpangan dan jatuh ketanah bersimbah darah dan meregang nyawa.


Salah satu anak buah Royan berlari menghampirinya dan berteriak, "Cepat kita tolong Bos Royan! Lukanya banyak sekali mengeluarkan darah."


"Bos tahan ya, kami akan membawamu ke rumah sakit."


"Kau! Coba periksa mobil Bos! Apa masih bisa kita pakai untuk membawa beliau ke rumah sakit, jika tidak gunakan saja mobil mereka!" perintah salah satu anak buah Royan kepada temannya.


Ternyata mobil itu masih bisa digunakan, lalu mereka mengangkat tubuh Royan dan membawanya ke rumah sakit.


Baru saja mereka pergi dari tempat itu, polisi patroli pun tiba di sana. Mereka terkejut melihat banyak mayat bergelimpangan dan darah ada di mana-mana.


Anak buah Royan mencari rumah sakit terdekat, mereka sangat khawatir melihat kondisi bos mereka yang banyak sekali mengeluarkan darah.


Begitu tiba di rumah sakit, mereka tidak mau menunggu perawat atau yang lain datang untuk membawakan brankar, melainkan menggotong tubuh Royan hingga ke ruang UGD.


Dokter segera menangani Royan, membersihkan luka dan memasang selang infus. Dokter mengatakan jika Royan membutuhkan donor darah.


Saat ini rumah sakit serta PMI tidak memiliki stok darah yang Royan butuhkan. Anak buah Royan pun bingung, golongan darah mereka berempat juga tidak ada yang cocok dengan golongan darah Royan.


Lalu salah satu dari mereka memeriksa ponsel Royan untuk mencari nomor Zeya. Karena mereka tahu Zeya adiknya Royan dan pasti golongan darah mereka sama hingga bisa menolong kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2