SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 56. PENGORBANAN YANG TAK SEBANDING DENGAN HASIL


__ADS_3

Franky segera meminta anak buahnya untuk menyiapkan makanan, sesuai yang diperintahkan oleh Royan. Setelah itu dia segera menyusul Royan yang saat ini sedang berada di balkon.


Royan sedang berdiri di sana menatap lurus ke depan, dia sendiri bingung dengan hatinya, kenapa dia bisa jadi lemah seperti tadi.


'Siapa dia? Siapa wanita itu? Kenapa hatiku tidak tega menyakitinya. Apa sebenarnya yang terjadi padaku. Hahh...' desah Royan.


'Nay...dimana kamu? Apa aku lemah karena mu? Nay...kembalilah, maafkan aku. Lama-lama aku bisa gila, jika hidup seperti ini.' batin Royan lagi.


Royan menarik napas dalam dan menghempaskannya dengan kasar. Royan sadar, jika dia terus seperti ini bisnisnya bisa hancur, tapi dia juga sulit mengontrol perasaannya.


Franky yang berdiri di belakang Royan, menepuk pundak Bosnya, lalu berkata, "Ada apa denganmu Bos? Kamu bukan Bos Royan ku, kenapa bisa lemah di hadapan musuh?" tanya Franky.


"Entahlah Frank, aku sendiri bingung."


"Ayo Bos, semangat! Jangan lemah seperti ini. Ingat pengorbanan Tuan besar Bos! Hingga beliau bisa membuat Anda sampai ke puncak seperti sekarang," ucap Franky yang ingin membuat Bosnya sadar.


"Pengorbanan, hahaha...Mamaku yang telah menjadi korban Frank, bagaimana kehidupan Mamaku? akupun tidak pernah tahu, sementara wanita ular itu, menikmati semuanya. Sekarang dia yang hidup tenang, jalan-jalan ke luar negeri, kemana saja yang dia mau, menikmati kehidupan bebasnya, menghabiskan harta peninggalan Papaku. Apa aku harus hidup seperti Papa Frank? mengorbankan Nayla? mengorbankan cintaku? Nah setelah itu, apa yang aku punya? Aku kehilangan semua. Kehilangan Mamaku dan sekarang Nayla. Demi apa? demi bisnis kotor dan ketenaran yang suatu saat mungkin saja hidupku akan berakhir seperti Papa. Pengorbanan ini tidak sebanding Frank, dengan semua yang kita dapat."

__ADS_1


"Bos, semua akan berlalu, kita akan terus mencari Mama Bos dan nantinya, Bos pasti akan menemukan wanita yang lebih baik dari Mbak Nayla, aku yakin itu Bos!"


Royan hanya menggelengkan kepala, dia yakin dengan perasaan cintanya, cinta itu hanya untuk Nayla. Dia kembali menarik napas dalam dan membuangnya kembali secara perlahan.


Kemudian Royan pun berkata, "Oh ya Frank, sebaiknya kita mulai berbisnis bersih, kita tinggalkan bisnis kotor ini, sudah terlalu banyak dosa yang kita lakukan. Selama ini, kita telah menjual ibu, kakak, adik serta saudari kita sendiri, menjual barang haram."


"Harta berlimpah, kekuasaan, ketenaran, untuk apa? Jika ujung-ujungnya, hidupku seperti ini, hampa, kehilangan semua orang yang aku sayang dan cintai. Aku sendirian, aku kesepian, tujuan hidupku sudah tidak ada lagi. Mama, Papa dan sekarang Nayla...mereka pergi. Hanya tinggal dirimu yang setia bersamaku, dan suatu saat, kau pun pasti akan meninggalkan ku."


"Bos serius dengan ini semua? Lantas! Bagaimana dengan nasib mereka?" ucap Frank sambil menunjuk ke ruangan tempat berkumpul anak buahnya.


"Anda tidak sedang sakit 'kan, Bos?"


"Kamu pikir aku main-main Frank? Aku serius! Sudah saatnya aku harus menata hidupku lagi, memikirkan masa depan dan yang pasti memikirkan keluarga serta bagaimana menikmati hari tuaku nanti."


"Bos, sebaiknya kita sekarang pulang, istirahat, nanti Bos pikirkan lagi matang-matang, siapa tahu saat ini, Bos hanya sedang lelah dan nanti akan berubah pikiran lagi."


"Frank, tolong minta nomor Beni, aku mau ngomong dengan dia."

__ADS_1


Franky pun segera mencari nomor kontak Beni, lalu mengkliknya untuk melakukan panggilan.


Beni yang melihat panggilan masuk dari nomor tak dikenal, buru-buru mengangkatnya. Dia berharap, yang menelephonenya kali ini adalah si penculik anak dan istrinya.


"Hallo, siapa ini?" tanya Beni hati-hati.


"Royan!" jawab Royan dengan tegas dan tenang.


"Bos! tolong lepaskan istri dan anakku, mereka tidak bersalah, aku yang bersalah Bos dan aku siap menggantikan mereka. Tolong Bos! Aku mohon," pinta Beni.


"Kamu, datanglah kesini, aku tunggu di kompleks Villa Indah Permai, sekarang juga!" ucap Royan.


"Baik Bos, aku segera berangkat, tolong bos jangan sakiti mereka," mohon Beni lagi.


"Hemm...," dehem Royan tanpa menjawab apapun lagi.


Setelah menghubungi Beni, Royan duduk, dia ingin menikmati semilirnya angin sambil menunggu kedatangan Beni.

__ADS_1


__ADS_2