SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 141. DOKTER GADUNGAN


__ADS_3

Zeya tetap berada di dalam ruangan Royan sampai Zero tiba, dia tidak ingin hal buruk menimpa kakaknya lagi.


Saat Zero sudah sampai di sana dirinya baru merasa tenang, lalu Zero memintanya untuk beristirahat dan makan cemilan yang dia bawa.


"Kamu istirahat dulu Zey, berbaringlah di sofa sana, biar gantian aku yang menjaga Kak Royan, mana tahu dokter gadungan itu mencoba memaksa masuk lagi, aku bisa bertindak," ucap Zero.


"Iya kak," ucap Zeya.


"Kamu 'kan juga lelah dan butuh istirahat Ro, malam ini nggak mungkin mereka balik lagi karena penjagaan sudah kita perketat."


"Oh ya Ro, bagaimana dengan Nayla dan Abah? apa penjagaan di ruangan mereka juga sudah di tambah?" tanya Royan.


"Sudah Kak! Nanti aku juga akan mengecek kesana lagi, guna berjaga-jaga."


"Terimakasih ya Ro, untung saja ada kamu yang bisa kami andalkan."


"Sama-sama Kak, istirahat lah Kak, supaya kakak cepat pulih."


"Iya Ro."


Malam ini Zero menjaga Royan dan sesekali keluar untuk mengecek penjagaan di ruangan Abah. Para pengawal juga waspada, mereka tidak ingin kecolongan.


Pagi pun tiba, semua aman untuk malam ini, Zeya meminta Zero untuk istirahat sejenak setelah subuh dan Zeya meminta pengawal untuk membelikan sarapan untuk mereka semua.


Sekitar jam sepuluh, Zero pamit untuk pulang, tapi di lorong rumah sakit dia melihat seorang dokter yang gelagatnya terlihat aneh. Zero seperti mengenal dokter wanita itu dari perawakan tubuhnya.


Masker yang menutupi wajah sang Dokter membuat Zero susah untuk mengenali siapa sebenarnya Dokter tersebut.


Zero secara diam-diam mengikutinya, Dokter itu bersama seorang perawat masuk ke ruangan Royan. Pengawal tidak curiga karena memang saat ini adalah jam kunjung Dokter untuk memeriksa pasien.


Setelah Dokter masuk, Zero memberi kode ke para pengawal agar waspada, lalu diapun ikut masuk ke dalam ruangan Royan dengan pura-pura ada sesuatu yang tertinggal.

__ADS_1


Zeya yang melihat Zero kembali merasa heran, lalu dia bertanya," kenapa Kak Zero kembali?"


"Ada sesuatu yang tertinggal dan aku lupa meletakkannya dimana," ucap Zero berpura-pura mencari.


Dokter wanita itu merasa canggung dengan kehadiran Zero di sana. Tangannya sedikit gemetar saat menggunakan alat periksa hingga membuat alat tersebut jatuh ke lantai.


Zero kemudian mengambilnya dan memberikan kepada dokter tersebut sambil berkata, "Kenapa Dok? Dokter sedang sakit? Kalau sakit lebih baik istirahat Dok, tidak perlu menggantikan tugas teman Anda. Ayo Dok, saya antar anda ke ruang istirahat para Dokter, daripada nanti Anda pingsan di sini," ucap Zero tanpa mengalihkan perhatiannya dari dokter dan perawat tersebut.


Kemudian Dokter itu mengulurkan alat suntik yang telah diisi obat kepada perawat tanpa mengatakan sepatah katapun.


Ketika perawat hendak menyuntikkan jarum tersebut ke tubuh Royan, Zero pun pura-pura terhuyung dan menabrak perawat tersebut hingga jarum jatuh ke lantai.


"Maaf, maaf Dok. Saya oyong karena tidak tidur semalaman, jarum suntiknya jadi tidak steril lagi," ucap Zero.


"Dokter tidak bersuara, hanya perawat yang menjawab, "Kalau begitu kita kembali dulu yuk Dok, ambil obat dan jarum yang baru."


Dokter hanya berkata pelan, tanda setuju dengan perawat untuk meninggalkan ruangan tersebut.


Zeya juga merasa aneh, kenapa malah perawat yang punya kendali sementara dokter hanya diam.


Belum siap Zeya berucap Zero pun menjawab, "Ya, aku curiga makanya aku kembali ke sini."


"Astaga Kak! untung saja Kak Zero jeli memperhatikan situasi. Jadi bagaimana Kak, kita ikuti mereka?" tanya Zeya.


"Aku sudah perintahkan anak buah Kak Royan untuk mengikuti mereka, kita tinggal menunggu bagaimana hasilnya," ucap Zero lagi.


"Syukurlah kak, mudah-mudahan mereka segera ketangkap dan kita tahu sebetulnya siapa orang yang tega mencelakai Kak Royan dan yang menculik Kak Nay serta abah," ucap Zeya.


"Mungkin kita kenal Dokter wanita tadi Ro makanya dia tidak berani bersuara dan aku curiga baju yang di gunakan sepertinya ukuran besar hingga dia bisa menggunakan pakaian berlapis-lapis untuk menutupi postur tubuhnya yang asli," ucap Royan.


"Benar juga kata Kak Royan," ucap Zeya.

__ADS_1


Saat mereka berusaha menebak-nebak siapa sebenarnya Dokter wanita itu, tiba-tiba ponsel Zero berdering.


Melihat panggilan itu dari anak buah Royan, Zero segera mengangkatnya dan ternyata dia mengatakan bahwa mengenal dokter palsu tersebut. Lalu Zero pun segera berkata, "Apa dokter tersebut sudah kalian tangkap?" tanya Zero.


"Maaf Bos! Kami tidak berani, beliau ternyata adalah mamanya si Bos Royan yaitu Nyonya Shena. Kami tadi hanya mengikutinya saja dan melihat dari kejauhan saat beliau membuka masker dan jas dokter itu serta memberikannya kepada seorang cleaning servis."


"Jadi sekarang beliau pergi ke mana? Apa kalian masih mengikutinya?" tanya Zero.


"Iya Bos, kami masih mengikuti beliau dan tadi kami juga sempat mengambil fotonya serta membekuk cleaning servis tersebut. Sekarang dia kami kurung di kamar jenazah. Bos silahkan lihat ke sana, sebelum ada petugas rumah sakit datang," ucap salah satu pengawal Royan.


"Kerja bagus, terimakasih. Sekarang, lanjutkan tugas kalian, ikuti terus mama Bos Royan dan beri kami info selanjutnya!" perintah Zero.


Setelah pengawal itu menutup panggilannya, Zero berbalik, menatap Zeya dan Royan sambil berkata, "Ternyata..."


Belum sempat Zero menyelesaikan kalimatnya, Zeya menyahut, "Aku malu punya mama seperti itu. Mama terlalu kejam! sanggup mau membunuh anak yang selama ini baik dan menjadi sumber uang untuknya. Maafkan aku Kak Roy, kenapa aku musti terlahir dari Mama seperti itu."


"Sudahlah Dek, suatu saat mama pasti menyadari kesalahannya," ucap Royan.


"Tapi sampai kapan Kak? Menunggu salah satu dari kita jadi korban," ucap Zeya.


Royan hanya menghela nafas, dia pun tidak mungkin memenjarakan mama Shena, mama dari adik yang dia sayang.


"Aku akan menemui mama Kak, untuk membicarakan hal ini, jika mama tidak mau sadar juga, aku tidak peduli, aku akan memenjarakan mama. Mungkin itu jalan terbaik untuk menyadarkannya, daripada jatuh korban," ucap Zeya.


"Cobalah kamu bicara dulu Dek dengan mama, mudah-mudahan mama mau mendengarkan ucapanmu, tapi jika mama tidak sadar juga, apa kita culik saja mama ya dan kita kurung di suatu tempat, daripada harus memenjarakan beliau. Rasanya kita sebagai anak terlalu kejam bila memenjarakan orang tua sendiri," ucap Royan.


"Baiklah Kak! Aku akan mencobanya," ucap Zeya.


Zero hanya mendengarkan percakapan kakak beradik tersebut, dia tidak berani ikut campur dalam urusan keluarga mereka. Tapi dia akan ikut dengan Zeya untuk melindunginya, siapa tahu Mama Shena khilaf.


"Kak Roy, aku pergi dulu ya, aku akan menemui mama sekarang juga," pamit Zeya.

__ADS_1


"Aku ikut ya Zey," ucap Zero.


"Jangan Kak, Kakak lebih baik jaga Kak Royan saja," pinta Zeya


__ADS_2