
"Bagaimana Ro, sudah selesai urusan pembelian rumahnya?" tanya Mak Salmah.
"Sudah Mak, besok kita belanja barang-barang ya Mak, soalnya barang-barang kita sudah habis terbakar termasuk peralatan dapur."
"Apa uangmu masih ada Ro buat belanja barang-barang. Bukankah kamu sudah harus mempersiapkan biaya kuliah?"
"Emak jangan khawatir, semua sudah aku persiapkan dan Kak Royan juga membantu kita Mak," ucap Zero.
Royan memang sudah menawarkan jika Zero mau pakai uang untuk keperluan isi rumah, dimintanya agar berbelanja menggunakan kartu black gold yang waktu itu dia titipkan kepada Zeya dan Zero.
"Oh...Emak jadi nggak enak sama Nak Royan, kita sudah nyusahin dia."
Royan yang baru keluar dari kamar mamanya mendengar hal itu, lalu dia berkata, "Mak...jangan sungkan denganku, anggap aku juga anak Emak, jadi uangku juga uang Zero dan Emak."
"Terimakasih Nak, bagaimana Mak harus berterimakasih dengan kalian? Kalian begitu baik sama kami," ucap Mak Salmah.
"Pergilah besok Zey! Ajak Emak dan Kiara sekalian, untuk belanja pakaian, bukankah kamu masih libur sekolah?"
"Iya Kak. Kita berangkat bertiga besok ya Mak, kak Kiara... karena Kak Zero mau ada urusan ke sekolah sekaligus mengurus pendaftaran kuliahnya, jadi nanti Kak Zero nyusul saja," ucap Zeya.
"Iya Mak, benar yang dikatakan Zeya, lagipula, nanti jika ada aku para wanita tidak akan nyaman belanja pakaian, khususnya pakaian dalam," ucap Zero hingga membuat mereka tertawa.
"Iya benar Mak," jawab Kiara malu.
"Ayo sudah malam, kita istirahat dulu, takutnya besok pada bangun kesiangan," ajak Mak Salmah.
Mereka kembali ke kamarnya masing-masing, tapi belum sempat Zero masuk ke dalam kamar, Zeya menarik tangannya sambil berkata, "Sekarang ceritanya ya Kak! Please," mohon Zeya.
__ADS_1
"No...kita lanjut besok! Sekarang kita harus istirahat," ucap Zero dan langsung masuk ke dalam kamar.
Zeya mencebikkan bibirnya, lalu berbalik meninggalkan tempat itu menuju kamarnya.
Semua pergi beristirahat, tapi di dalam kamar, mama Ambar tidak bisa tidur, beliau meringkuk ketakutan, sambil berteriak, "Pergi! Pergi kamu! Jangan ganggu aku dan putraku. Aku bunuh kamu! Aku bunuh kalau kamu ambil lagi putraku!"
Bu Riana berusaha menenangkan Mama Ambar, tapi beliau gagal. Mama Ambar terus saja berteriak dan menangis hingga membuat Royan dan Zero yang kamarnya bersebelahan merasa terkejut dan berlari keluar.
Royan mengetuk pintu, dia ingin tahu apa sebenarnya yang membuat sang mama berteriak dan menangis.
Bu Riana pun membukakan pintu, lalu meminta tolong agar Royan menenangkan mamanya.
Royan memeluk sang mama, dia meminta mamanya agar tenang dan menyanyikan lagu kesukaannya waktu kecil.
Bu Ambar akhirnya bisa tenang dan tertidur dalam pelukan Royan. Royan pun mengelus rambut mamanya, dia terlihat begitu sedih melihat keadaan sang Mama.
"Iya Ro, aku sedang mencari rujukan dokter jiwa terbaik, bila perlu kita datangkan dari luar. Tapi aku tidak mau jika perawatannya dilakukan di rumah sakit karena aku tidak ingin keselamatan mama terancam kembali," ucap Royan.
"Kak Royan benar, setidaknya disini Mama Ambar aman dari jangkauan Mama Shena."
"Iya Ro."
"Aku permisi dulu ya Kak, semoga mama segera sembuh."
"Silahkan Ro, aku juga mau balik ke kamar," ucap Royan sambil merebahkan tubuh mamanya perlahan ke atas kasurnya.
Mereka kembali ke kamar untuk beristirahat, tapi sebelum tidur, Zero memeriksa ponsel jadulnya. Karena sistem sebelumnya sudah memberi tahukan agar Zero merefresh ulang sistem apabila telah sempurna menyelesaikan misi istimewanya.
__ADS_1
Zero pun segera merefresh sistem yang ada pada ponsel jadulnya itu. Dan ponsel pun dalam mode gelap untuk beberapa saat, lalu menyala kembali dan terdengar suara dentingan.
[Ting!]
[[Refresh sistem selesai, Apakah pemilik siap untuk misi berikutnya? Silahkan jawab: Ya/Tidak]]
Zero langsung saja menjawab, "Ya...aku siap dengan misi selanjutnya."
Kembali ponsel jadul itu dalam mode gelap, dan tak lama berdenting lagi.
[Ting!]
[[Misi utama : π Ungkap kasus 17 tahun silam dan beri hukuman kepada si pelaku]]
π Hadiah : Penambahan saldo dan poin tak terbatas, sesuai permintaan pelaku misi.
π Dana : Cek senilai 10 T ( habiskan dalam waktu satu bulan, sesuai permintaan orang terdekat dan spesial )
π Hukuman :
~ Jika gagal melaksanakan misi, semua akan kembali ke awal seperti sebelum menemukan sistem.
~ Jika gagal menghabiskan dana tepat waktu, maka pelaku misi akan di pisahkan oleh sistem dari orang-orang terkasih dengan batas waktu yang akan ditentukan kemudian.
Setelah memberitahukan misi terbarunya, ponsel itupun kembali ke mode gelap untuk beberapa saat.
Zero terpaku di kamar itu sambil menatap ponsel jadulnya. Dia bingung, sebenarnya masalah apa yang terjadi pada 17 tahun lalu dan itu terkait dengan siapa serta harus di mulai dari mana.
__ADS_1
Kepala Zero pun pusing memikirkannya, hingga dia memutuskan untuk tidur sejenak. Zero berharap, begitu dia terbangun akan mendapatkan petunjuknya.