SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 157. MENCEGAH ALENA PERGI


__ADS_3

Ada apa Bos! Kenapa kita putar balik?" tanya Beni.


"Kita ke rumah Alena Bang, ada sesuatu yang harus diselesaikan, " ucap Zero.


"Oke bos," jawab Bang Beni


"Tolong tambahkan kecepatan ya Bang!" ucap Zero.


"Bahaya Bos, kita saat ini ada di jalur padat," ucap Bang Beni.


Mereka saat ini terjebak macet hingga membuat Zero gelisah.


"Bang aku turun saja di sini! Abang boleh langsung kembali ke rumah, barangkali emak membutuhkan bantuan Abang. Tolong bilang ke emak ya Bang, jika aku masih ada urusan, aku akan kembali lebih cepat, sebelum maghrib aku pasti sudah sampai di rumah," ucap Zero.


Kemudian Zero turun dari mobil, dengan berjalan kaki dia melewati padatnya kendaraan yang sedang macet.


Tanpa membuang waktu Zero pun mencari tempat yang agak tersembunyi dan sepi untuk memakai rompinya sambil dia menerawang ke mana sebenarnya Alena akan pergi.


Dalam terawangannya itu Zero melihat Alena sudah keluar dari rumah Satria, dengan menenteng tas kemudian Alena berjalan menuju terminal Bus tujuan luar kota.


Zero mempergunakan kekuatan supernya untuk berlari mengejar Alena di terminal bus, lalu sesampainya di sana dia mencari Alena di tengah kerumunan para penumpang yang hampir saja berangkat.


Begitu dia melihat Alena disana, Zero pun berteriak, hingga dia menjadi pusat perhatian bagi para penumpang Bus.


"Al tunggu! Tolong turunlah, kita harus bicara," teriak Zero lagi sambil dia melompat kedalam Bus.


Alena tidak bisa menghindari Zero saat tangannya ditarik dan diajak turun dari bus yang sempat dinaikinya.


Kemudian Alena berkata, "Lepaskan aku Kak! Biarkan Aku pergi. Aku tidak bisa terus tinggal di sini, aku butuh menenangkan diri, jadi...aku mohon Kak, izinkankah aku pergi," ucap Alena.

__ADS_1


"Memangnya kamu mau pergi ke mana Al? Sementara kamu sudah tidak memiliki keluarga lagi. Bagaimana dengan kehidupanmu nanti di sana!" tanya Zero.


Alena hanya terdiam, dia juga bingung harus pergi ke mana, tapi dia tidak bisa selamanya tinggal di kota ini, sementara hatinya tidak bisa melupakan Zero. Dia sakit saat melihat Zero dengan gadis lain.


Zero yang melihat Alena terdiam lalu berkata, "Ayolah Al, kita cari tempat untuk ngobrol. Tolong ceritakan semua keluh kesah, kesulitan apa yang kamu hadapi. Kenapa kamu sampai harus pergi meninggalkan kota ini, sementara keluarga Satria sudah begitu baik terhadapmu, mereka mau menerimamu sebagai anak," ucap Zero.


"Kak Zero nggak mengerti apa yang aku rasakan, aku sedih kehilangan orang tuaku dan aku sedih setiap kali melihat kakak bersama gadis itu," ucap Alena sambil menangis.


"Keluarga Satria memang baik, bahkan terlalu baik, tapi selama kita masih tinggal dalam satu kota dan sering bertemu, aku tidak akan pernah bisa melupakan Kakak, hidupku akan seperti ini terus kak," ucap Alena.


"Tapi, mau kemana tujuanmu, tolong katakan padaku agar aku bisa memastikan kamu akan baik-baik saja di sana," ucap Zero.


"Kakak nggak perlu khawatir, aku pasti baik-baik saja di sana, jika aku nanti sampai di sana, aku akan beri tahu kalian, minimal memberi kabar


kepada Kak Satria dan orangtuanya.


Zero terdiam, dia masih tidak mengerti harus bersikap bagaimana, hatinya sakit mendengar pengakuan Alena, tapi dia juga tidak mungkin untuk mengecewakan Zeya.


"Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu di luar kota sana. Tolonglah, tolong Al!" Mohon Zero lagi.


"Jujur, aku merasakan sakit ketika melihatmu begini, tapi aku tidak bisa mengecewakan Zeya. Aku juga mencintai di Al, dia terlalu baik," ucap Zero lagi.


"Makanya Kak, ikhlaskanlah aku, biar aku pergi dari kota ini, mudah-mudahan dengan begitu kita akan berhasil hidup dengan jalan kita masing-masing," ucap Alena.


"Jangan keras kepala Al, bagaimana kamu bisa yakin dengan semua itu, sementara di sana kamu sendiri belum tahu seluk beluknya, belum tahu akan tinggal dimana6


tolong Al pikirkan sekali lagi jangan gegabah di luar sana bahaya banyak, kehidupan sangat keras, Aku tidak ingin hidupmu hancur. Aku menyayangimu Al, ucap dengan sedih.


"Begini saja, kembalilah dulu ke rumah Satria, aku akan memikirkan cara yang terbaik untuk mengatasi masalah kamu," ucap Zero.

__ADS_1


Kemudian Zero berkata lagi, "Aku mohon beri waktu seminggu, aku akan pikirkan semuanya, setelah itu kita akan bertemu di sini dan aku akan memberikan solusi yang terbaik untukmu. Aku mohon Al dengarkan omongan ku kali ini," ucap Zero.


"Baiklah Kak, aku akan penuhi permintaan kakak, kita akan ketemu di sini minggu depan, jika kakak tidak atau terlambat datang, mungkin aku sudah pergi dari sini," ucap Zero.


"Insyaallah aku pasti datang. Sekarang, ayolah kita pulang, Satria dan keluarganya pasti sangat khawatir, melihat kamu tidak ada di rumah. Apalagi dengan membaca tulisan pada secarik kertas yang kamu tinggalkan," ucap Zero.


"Bagaimana Kakak bisa tahu, jika aku meninggalkan secarik surat buat mereka? Dan kenapa kakak bisa langsung tahu dan menyusul ku ke tempat ini?" tanya Alena yang merasa heran.


"Ntahlah, tiba-tiba saja ada yang membisikkan dan memberitahuku, tentang rencana kepergianmu."


Alena jadi berpikir, mungkin saja Zero memiliki kelebihan indera penglihatan dan indera perasa, hingga dia bisa tahu apa yang telah dan akan Alena lakukan.


Kemudian Zero memesan taksi online untuk mengantar mereka pulang. Setelah taksi itu datang mereka pun segera naik, pulang ke rumah Satria.


Selama dalam perjalanan, Zero dan Alena sama-sama diam, mereka bergelut dengan pikirannya masing-masing, hingga tidak terasa mereka telah tiba di halaman rumah Satria.


Di halaman rumah, terlihat Satria dan kedua orangtuanya sedang khawatir, mereka mondar mandir, telepon sana sini, menghubungi orang-orang terdekat untuk membantu mencari Alena.


Melihat kedatangan Alena bersama Zero, yang baru saja turun dari taksi, Satria merasa lega, lalu dia berkata, "Pa, Ma, lihatlah Alena sudah kembali!"


Mama Satria langsung mendekati Alena dan memeluknya sambil berkata, "Darimana saja kamu Nak, kami sangat khawatir, kenapa kamu pergi dari sini, apa kami telah membuatmu tersinggung? Kalau begitu, Mama minta maaf mewakili Papa dan Satria.


"Maafkan Alena Ma, kalian semua terlalu baik, tidak ada yang menyinggung Al. Al hanya ingin menenangkan diri untuk sementara waktu," jawab Alena.


"Dasar lu, kalau cuma itu, kamu bisa beritahu aku Al," ucap Satria.


"Aku bersedia mengantarmu kemana saja, kalau hanya ingin mencari ketenangan. Tolong, jangan pergi seperti ini lagi, beritahu kami, jika memang kamu punya masalah," ucap Satria lagi sambil menarik adiknya kedalam pelukannya.


"Iya Kak, maafkan kebodohan ku," ucap Alena.

__ADS_1


"Nah! Baru sadar, jika tindakanmu ini sangat bodoh!" ucap Satria lagi sambil membimbing adeknya untuk masuk ke dalam rumah.


Orang tua Satria pun mengajak Zero masuk, mereka ingin menanyakan apa sebenarnya yang terjadi dengan Alena.


__ADS_2