SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 77. BERKUMPUL KEMBALI


__ADS_3

Zero pun kembali masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan ujian pelajaran berikutnya.


Dengan sangat cepat diapun berhasil mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru pengawas hingga membuat tim pengawas geleng kepala serta membuat teman-temannya kasak-kusuk minta diajari.


"Zero! Silahkan kamu kumpulkan lembaran soal serta jawabanmu dan kami izinkan kamu untuk pulang, tapi ingat ya...besok harus tepat waktu seperti biasa."


"Baik Pak...Bu," ucap Zero sambil berjalan ke depan kelas untuk mengumpulkan lembaran soal serta lembar jawaban yang ada di tangannya.


Sesuai rencana, sepulang dari mengikuti ujian, Zero pun pergi ke rumah Seto. Tapi sebelum berangkat ke sana, Zero terlebih dahulu mengambil karung mulung yang dia sembunyikan di dekat kantin sekolah.


Zero mengambil karung, melipat serta memasukkannya ke dalam tas. Kemudian dengan menggunakan keahlian dan kecepatan berlari, hasil dari pemberian sistem, diapun sampai di lingkungan rumah Seto.


Sejenak Zero berhenti, dalam benaknya terlintas pikiran, jika hari ini ayah Seto benar bebas berarti misi dengan hadiah 1M yang diberikan oleh sistem bakal selesai.


Lalu Zero melanjutkan langkahnya, memasuki pekarangan rumah Seto, di sana dia menginjak beberapa cup minuman yang telah kosong. Tanpa berpikir panjang lagi, Zero segera mengambil kesempatan itu, mengeluarkan karung dari dalam tasnya serta memasukkan cup tersebut ke dalam karungnya.

__ADS_1


Saat dia hendak kembali melangkah tiba-tiba ponsel jadulnya pun berdenting.


[Ting!]


Zero segera memeriksa ponsel jadulnya itu dan ternyata di sana ada notifikasi masuk yang menyatakan bahwa,


[🌟 Selamat!!! Misi yang diberikan oleh sistem untuk membongkar kejahatan terselubung dan menyelamatkan seseorang yang tidak bersalah telah berhasil kamu selesaikan. Silahkan nikmati hasil kerja keras Anda! Sistem telah mentransfer sisa saldo serta telah memberikan hadiah sesuai yang di janjikan]


Zero tersenyum, lalu dia memeriksa karungnya yang tiba-tiba terasa berat. Di sana Zero melihat berikat tumpukan uang dengan lembaran ratusan ribu rupiah.


'Alhamdulillah...hari ini aku akan memberikan hadiah dari sistem ini kepada ayah Seto untuk mendirikan usaha, jadi kedepannya beliau bisa merekrut tenaga kerja dari penduduk kampung pemulung sesuai harapanku,' batin Zero.


"Kak! Kak Zero...ayo sini!" panggil Seto.


Mendengar seseorang berteriak memanggil namanya, Zero pun tersentak, lalu dia memandang ke arah datangnya suara sembari tersenyum lalu berkata, "Iya Dek! sebentar," ucap Zero.

__ADS_1


Kemudian Zero mendekati Seto dan bertanya, "Apa ayahmu sudah keluar Dek?" tanya Zero.


"Kata Pak Pradipta hari ini ayah akan dibebaskan Kak, tapi aku kok belum dapat kabar lanjutannya ya, dari Pak pengacara itu. Aku jadi khawatir kak, bagaimana jika ayah batal dibebaskan," jawab Seto.


"Sebentar ya Dek, biar kita nggak penasaran, aku akan coba menelephone Pak Pradipta," ucap Zero sambil mengambil ponsel dari dalam tasnya.


Zero pun segera menghubungi Pradipta, pengacara yang menangani kelanjutan kasus Pak Arya Seto Wiguna. Padahal dia sangat yakin Pak Pradipta saat ini sudah berhasil membebaskan beliau.


Belum sempat panggilan tersebut terhubung, terdengar suara klakson dari mobil mewah yang memasuki pekarangan rumah Seto.


Zero tersenyum, dia ingat dengan nomor plat mobil tersebut, itu adalah mobil milik pengacara Pradipta.


Seto yang melihat pengacara turun dari dalam mobil sendirian merasa cemas, lalu dia berlari mendekat, mengintip ke dalam mobil, Seto ingin segera memastikan keberadaan ayahnya.


Arya Seto Wiguna, segera menurunkan kaca mobil saat melihat putranya yang celingukan. Senyum lebar pun menghiasi wajahnya ketika Seto, putra yang dirindukannya berkata, "Selamat datang ayah! Aku sangat merindukanmu," ucap Seto sambil menggenggam dan mencium tangan ayahnya yang mulai nampak keriput.

__ADS_1


Derai air mata tidak bisa terbendung lagi, Pak Arya pun turun lalu memeluk Seto dengan sangat erat sambil berucap, "Terimakasih Nak! berkat temanmu, ayah bisa kembali menghirup udara bebas."


Kerinduan akan sosok sang ayah membuat Seto enggan untuk melepaskan pelukannya. Namun saat dia mendengar suara ibu dan adiknya yang juga memanggil ayah, Seto segera merentangkan tangan mungilnya, lalu mereka berempat berpelukan sambil menangis haru.


__ADS_2