
Bryan mondar-mandir di dalam kamarnya, dia sudah berusaha ponsel Karina tapi tidak diangkat. Bryan masih terus mencoba.
"Ayo diangkat sayang!" Guman Bryan tidak sabaran.
"Apa dia sibuk?" Guman Bryan lagi.
Sementara Karina yang baru saja keluar dari dalam restoran terdiam menatap jalanan yang begitu ramai. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan hatinya saat ini. Di dadanya berkecamuk penuh pikiran tentang ucapan Ambar saat di dalam restoran.
Saat hendak melangkah ponsel Karina berdering, dia pun segera melihat siapa yang menghubunginya. Dahi Karina berkerut saat melihat nomor baru tertera di layar ponselnya. Nomor tidak dikenal menghubunginya membuat Karina ragu untuk mengangkatnya. Hingga ponselnya kembali diam. Namun panggilan itu lagi-lagi berdering menyala membuat kening Karina kembali berkerut.
"Siapa?" Guman Karina lagi-lagi ragu. Hingga panggilan ketiga Karina memutuskan untuk tidak mengangkatnya dan memilih untuk pergi meninggalkan restoran menuju sepeda motor yang diparkir di halaman restoran.
"Sial." Umpat Bryan di seberang karena diacuhkan panggilannya.
"Apa dia tidak tahu kalau aku yang menghubunginya?" Guman Bryan mulai menyerah.
"Tuan muda."
"Apa?" Sentak Bryan kesal menatap bodyguard yang dipinjam ponselnya tadi.
"Nyonya menanyakan kemana ponsel saya tidak bisa dihubungi." Jawab bodyguard itu secara tidak langsung meminta ponselnya.
"Ini." Jawab Bryan emosi menyerahkan ponselnya kasar karena merasa marah.
Setelah menekan password pintu apartemen, Karina masuk ke dalam masih dengan banyak pikiran. Apalagi kini dia sejak pagi tidak bisa menghubungi Bryan. Seolah Bryan menghilang dari pandangannya.
Karina mencoba menghubungi lagi namun ponselnya dijawab operator sedang di luar servis area alias mati.
"Apa dia baik-baik saja?" Guman Karina.
"Semoga tidak terjadi hal buruk padanya." Doa Karina merasakan firasat buruk.
.
.
Arwana pulang ke rumah siang itu berencana untuk makan siang dengan putranya Bryan. Namun saat melihat banyaknya bodyguard di depan mansionnya membuat dia mengernyit heran. Memang biasanya juga ada beberapa bodyguard yang diperkerjakannya namun untuk hari ini melebihi yang biasa ditentukan. Arwana segera turun dari mobil saat sudah memarkirkan mobilnya di garasi mansion.
"Ada apa ini?" Tanya Arwana saat dua bodyguard berjaga di depan pintu depan, bukan hanya disitu tapi di pos sekuriti depan juga ada, bahkan di setiap pintu mansion.
"Nyonya besar yang meminta kami menambah penjagaan." Jawab salah satu bodyguard dengan tegas membuat Arwana semakin mengernyit heran.
"Untuk apa?"
"Kami diberi tugas nyonya besar untuk mengawasi tuan muda kedua agar tidak meninggalkan mansion."
"Bryan?"
"Benar tuan."
"Memang kenapa?"
"Kami hanya menjalankan tugas nyonya besar tuan."
"Dimana istriku?"
"Beliau ada di dalam."
__ADS_1
Arwana langsung masuk mencari keberadaan istrinya untuk menanyakan alasan tentang para bodyguard itu.
"Sayang." Seru Arwana masuk ke dalam.
"Ya sayang."
"Ada apa ini?"
"Apa maksudmu sayang?"
"Kenapa Bryan harus dilarang meninggalkan mansion? Dia sudah dewasa sayang." Beri tahu Arwana tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya.
"Tidak apa-apa. Itu untuk kebaikannya juga." Jawab Ambar santai sambil berjalan beriringan menuju ruang makan.
"Kebaikan apa? Jangan katakan karena hubungannya dengan Karina!"
"Jangan sebut nama wanita itu!" Sela Ambar cepat.
"Jadi benar?"
"Aku tidak mau mempunyai calon menantu yang tidak jelas asal-usulnya." Tegas Ambar sambil menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Apa maksudmu sayang? Mereka saling mencintai."
"Tapi aku tidak suka."
"Putra kita mencintainya."
"Dia harus melupakannya."
"Huff... Kenapa kau tidak mencoba menerimanya? Coba kau posisikan diri kita jika kita sebagai dia?"
"Bukan maksudku untuk menyinggungmu sayang. Biarkan mereka menjalani hubungan, kita bisa putuskan nanti apa dia pantas berada di sisi Bryan."
"Sekali tidak tetap tidak. Aku tidak menginginkan calon menantuku dengan status sosial rendah."
"Sayang..."
"Papi tidak usah ikut campur untuk urusan ini, aku tahu mana yang baik dan mana yang tidak untuk Bryan. Aku tak mau dia nanti dijadikan olokan saat berkumpul dengan semua keluarga besar kita."
"Tapi keluarga kita tidak semua seperti itu?"
"Tapi ada yang seperti itu dan itu sangat menyakitkan. Aku melakukannya sekaligus melindungi wanita itu kan?" Jawab Ambar masih tetap kukuh.
"Tapi bukan begitu caranya memperlakukan Bryan? Dia sudah dewasa, beri dia waktu untuk berpikir. Kau mengurungkan di dalam kamar seperti dia masih kecil saja."
"Aku tidak mau kecolongan."
"Sayang..."
"Lebih baik kita makan sebelum makanan ini dingin." Potong Ambar sambil memulai makan siang.
"Apa Bryan sudah makan siang?"
"Bibi sudah mengantarkan makan siangnya ke kamar, mungkin sebentar lagi turun. Dia tidak menolak makanannya." Bersamaan dengan ucapan Ambar bibi maid turun dari lantai dua dengan membawa nampan.
Keduanya menoleh serempak menatap kedatangan bibi maid.
__ADS_1
"Apa dia mau makan bi?" Tanya Arwana.
"Iya tuan besar, tuan muda menghabiskan makanannya." Jawab bibi maid mengangguk sopan. Arwana menghela nafas lega, Ambar hanya diam melanjutkan makan siangnya diikuti Arwana.
Setelah selesai makan siang, Arwana menuju kamar Bryan setelah istrinya ke kamar mereka. Arwana mengetuk pintu kamar Bryan dan mendapatkan jawaban di dalam untuk masuk.
"Papi." Bryan segera menghampiri Arwana yang ternyata datang ke kamarnya dengan wajah sumringah.
"Kau sudah makan siang?" Bryan menganggukkan kepalanya.
"Pi, bantu aku membujuk mami." Pinta Bryan menatap papinya penuh harap.
"Huff... Kita duduk dulu." Keduanya pun duduk bersisian di sofa dekat ranjang kamar Bryan yang ada di dalam kamar tersebut.
"Masak mami mengurungkan di dalam kamar tidak mengizinkan aku keluar rumah. Aku bukan anak kecil lagi Pi." Protes Bryan sedih.
"Bryan?"
"Iya Pi."
"Sejauh mana hubungan kalian?" Tanya Arwana menatap Bryan lekat.
"Aku sudah melamarnya pi, aku berencana melamarnya secara resmi bersama kalian setelah mengenalkannya pada kalian. Tapi, aku tak mengira kalau respon mami seperti itu." Binar mata Bryan awalnya sangat cerah dengan senyuman bahagia, namun binar mata itu langsung meredup saat saat bercerita tentang penolakan maminya.
"Apa kalian sudah berhubungan intim?" Wajah Bryan langsung memerah mendapatkan pertanyaan sensitif itu langsung menggeleng kuat berusaha mengelak.
"Apa maksud papi? Kami belum sejauh itu. Meski kami sudah berciuman tapi untuk berhubungan sejauh itu, aku tidak bisa melakukan. Aku terlalu mencintainya hingga tak mau merusaknya Pi, aku ingin memilikinya saat malam pertama kami nanti." Jelas Bryan menahan malu karena memang itulah kenyataannya. Dia tak mau kedua orang tuanya salah menilai sikap berpacarannya dengan Karina.
"Huff... Begitulah seharusnya seorang laki-laki. Menjaganya bukan merusaknya." Bryan tersenyum sumringah mendengar pujian papinya. Bahkan dia tak berani bercerita kalau dia sudah menikmati tubuh atas Karina.
"Papi merestui kami kan?" Tanya Bryan penuh harap.
"Papi tidak masalah kau berhubungan dan menikah dengan siapapun asal dia gadis baik-baik yang bisa menghargai hubungan meski dia gadis seperti Karina. Hanya saja..." Arwana menjeda ucapannya menghembuskan nafas kasar.
"Sepertinya kalian harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan restu mamimu." Lanjut Arwana membuat Bryan menghembuskan nafas kasar.
"Papi bisa membantuku untuk membujuk mami kan?" Arwana menatap Bryan lekat, meski pemuda di hadapannya ini bukanlah putra kandungnya, tapi dia menyayanginya seperti putra kandungnya sendiri. Dia tahu sesulit apa membujuk istrinya. Namun demi tidak melihat raut wajah kekecewaan di wajahnya, Arwana pun akhirnya memilih untuk menganggukkan kepalanya.
"Papi akan coba."
"Terima kasih Pi, terima kasih. Aku menyayangimu."
"Papi juga." Keduanya saling berpelukan ala lelaki. Wajah suram Bryan kini sudah hilang berganti binar bahagia karena mendapat dukungan dari sang papi.
"Bisa pinjam ponselnya Pi?"
"Untuk?"
"Aku ingin menghubungi Karina, ponselku disita mami." Adu Bryan membuat Arwana menghembuskan nafasnya kasar.
"Pakailah sepuasmu!"
"Terima kasih Pi." Sambut Bryan tersenyum bahagia. Dia yakin, Karina pasti akan mengangkat panggilannya karena dia tahu papinya adalah atasan Karina di kantor.
.
.
__ADS_1
TBC