
"Ukh." Karina membuka matanya merasakan tubuhnya lebih baik dari sebelumnya. Mungkin karena dokter sudah memberikan suntikan sebagai pereda nyeri tubuhnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rey mendekati ranjang Karina yang terlihat membuka matanya. Karina menatap Rey dengan tatapan tak bisa diartikan hingga dia memilih untuk membuang pandangannya ke arah lain karena di benak Karina terlintas bayangan kejadian semalam, saat Rey merenggut kehormatannya.
"Maaf." Lirih Rey melihat Karina enggan menatapnya karena mengira marah padanya tentang kejadian semalam.
"Aku ingin pulang." Ucap Karina lirih masih membuang pandangannya.
"Dokter mengatakan kalau keadaanmu sedang tidak baik-baik saja, kau harus banyak istirahat..."
"Aku mau pulang!" Teriak Karina histeris, isakan tangis pun terdengar darinya. Bahunya bergetar terlihat dari belakang tubuhnya yang tidur menyamping membelakangi tubuhnya. Rey terenyuh dan merasa bersalah melihatnya.
"Kau makan dulu dan minum obat. Jika dokter menyatakan keadaanmu baik-baik saja, kita pulang!" Tegas Rey meninggalkan Karina di ranjang, dia menuju sofa luar yang hanya terhalang sebuah lemari sebagai penghalang tempat tidur di kamar hotel tersebut. Dan memberi kode pada pelayan hotel untuk merawat Karina karena sepertinya Karina enggan bersamanya.
Pelayan tersebut segera melangkah ke arah ranjang sambil membawakan troli berisi makanan bergizi sesuai anjuran dokter.
"Mari nona!" Ucap pelayan tersebut dengan nada lembut menyiapkan makanan untuk Karina.
"Aku... Hiks... Bisa ... Sendiri...hiks...hiks.." Ucap Karina parau sambil mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir.
Pelayan tersebut memberikan pada Karina tapi masih berdiri tak jauh dari troli tempat makan untuk memastikan kalau Karina memakan makanannya sesuai perintah Rey.
"Sebaiknya segera dimakan nona, sebelum dingin." Ucap pelayan tersebut melihat Karina hanya diam menunduk menatap makanan yang sama sekali tidak disentuh.
"Pergilah!" Titah Rey tak sabaran karena sejak tadi menyimak percakapan Karina dengan pelayan yang terdengar Karina hanya memainkan makanannya. Padahal dia butuh stamina jika ingin sembuh dan segera pulang.
Karina ikut mendongak menatap Rey yang juga menatapnya tajam sambil beralih menatap pelayan yang langsung keluar dari kamar setelah mendapat titah dari Rey.
"Mau aku suapi?" Tawar Rey dengan nada lembut dan wajah yang datar.
"Aku bisa sendiri." Tolak Karina membuang pandangannya ke arah lain sambil menyuapkan makanannya dengan malas. Rey mengembuskan napas melihat Karina masih menghindarinya. Dia tidak peduli selama masih mau makan demi kesehatannya.
"Mau kubantu?" Tawar Rey lagi mulai tidak sabaran karena Karina baru masuk dua suapan padahal hampir lima menit Rey duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Tidak." Tolak Karina tegas tanpa menatap Rey.
"Kau masih sakit, kalau kau tidak segera sembuh, kita akan tidak segera pulang." Ucapan Rey membuat Karina terdiam masih menundukkan kepalanya yang masih mengaduk-aduk makanannya saja sejak tadi. Karena terus terang Karina tidak berselera sekali untuk makan.
"Huff.. biar aku suapi?" Tawar Rey lagi menatap Karina hendak merebut piring Karina namun ditolak Karina mentah-mentah.
"Bisakah tinggalkan aku sendiri?" Pinta Karina menatap sendu wajah Rey yang mulai kesal dengan sikap Karina. Namun wajah sendu itu membuat Rey merasa bersalah lagi namun dia tak mau dianggap tidak bertanggung jawab.
"Tidak!" Tegas Rey menatap Karina lekat tak mau goyah dengan sikap Karina yang ingin mendorongnya menjauh.
"Apa tidak cukup anda memperlakukan buruk saya? Apa kurang anda melecehkan saya?" Hati Rey mencelos mendengar suara serak dan sendunya. Karina segera mengusap kasar air matanya yang tidak mampu dibendungnya lagi.
"Aku akan bertanggung jawab." Jawab Rey tak kalah tegas memberikan tatapan yang meyakinkan.
"Apa anda mencintai saya?" Rey terdiam mendengar pertanyaan itu, ingin dia berteriak menjawab ya padanya namun entah kenapa dia merasa bukan itu jawaban yang ingin didengar Karina.
"A-apa maksudmu?"
"Apa anda mencintai saya? Sehingga anda mau bertanggung jawab?"
"Jika anda hanya ingin bertanggung jawab tanpa mencintai saya lebih baik lupakan yang semalam terjadi. Saya tidak mau anda bertanggungjawab hanya karena perbuatan anda semalam. Jadi, anggap semalam tidak pernah terjadi apapun di antara kita. Dan aku tidak akan menuntut anda apapun." Tegas Karina meletakkan piringnya karena benar-benar tak berselera makan.
"Apa maksudmu?" Rey mencekal pergelangan tangan Karina saat hendak kembali berbaring memunggunginya.
"Lupakan yang terjadi semalam! Anggap hanya one night stand saja seperti..."
"Lupakan! Semudah itu kau mengatakannya? Apa karena semalam aku sedang dalam pengaruh obat sehingga kau merasa untuk melupakan semuanya?" Rey marah menatap tajam mata Karina yang juga menatapnya dengan pupil mata yang tampak bergetar menahan diri.
"Bukankah memang seperti itu? Dan hal itu adalah ketidak sengaja an yang memang harus dilupakan?" Jawab Karina seolah menantang tatapan Rey yang tidak ramah.
"Ah, bagaimana kalau aku menolak? Apakah kamu akan percaya jika aku mengatakan kalau aku mencintaimu?" Bahkan sudah sejak dulu. Batin Rey melanjutkan dalam hati. Karina terlihat tersentak kaget mendengar pertanyaan yang mirip dengan pernyataan.
"Hentikan omong kosong anda! Tak mungkin anda tidak pernah melakukannya dengan wanita lain kan?" Ucap Karina ragu masih sama-sama saling menatap.
__ADS_1
"Jadi, serendah itu kau menilaiku?" Jawab Rey menyugar rambutnya membuang pandangannya ke sembarang arah mengabaikan rasa sakit hatinya dituduh seperti itu.
"Bukankah... memang seperti itu?" Ucap Karina ragu melihat reaksi Rey yang terlihat..ma-rah.
"Bereskan barang-barangmu kita pulang! Kita urus pernikahan kita setelah sampai di tanah air!" Titah Rey tegas keluar dari dalam kamar menuju kamar hotel di depannya yang sudah tidak dimasuki dari kemarin.
Karina bengong mendengar ucapan Rey barusan. Tubuhnya terpaku mendengar pernyataan cinta juga ajakan menikah.
"Tuan Rey... Aduh..." Ringis Karina saat hendak bangun mengejar Rey yang sudah menutup pintu kamar hotelnya entah kemana.
"Tuan!" Seru Karina berusaha berdiri dari duduknya mengejar Rey lagi hingga mengetuk pintu kamar hotel Rey tak sabaran.
Rey yang memang baru masuk beberapa detik lalu kembali berbalik ke arah pintu membukanya tak mengira kalau Karina yang muncul.
Cklek
Rey melotot melihat Karina yang ternyata mengikutinya sampai ke depan kamarnya. Terlihat wajah menahan rasa sakit membuat Rey melupakan kemarahannya.
"Apa yang kau lakukan?" Kesal Rey menarik Karina masuk ke dalam kamarnya. Bukan... bukan untuk mesu* tapi tubuh Karina hanya memakai bath rope dan sepertinya dia tidak sadar dengan pakaiannya yang sedikit melorot bahunya.
"Apa maksud tuan dengan menikah?" Tanya Karina hanya menurut digeret paksa untuk masuk ke dalam kamar hotel Rey meski dengan ringisan kesakitan pada pangkal tubuhnya.
"Tentu saja kita menikah! Aku bukan pria yang bertanggung jawab setelah tega merenggut kehormatan seseorang." Jawab Rey yakin meski bukan itu alasan untuk menikahi Karina.
"Lupakan tentang menikah! Kita tidak saling mencintai dan untuk semalam bukankah sudah saya katakan untuk melupakannya?"
"Semalam aku sudah merenggut milikmu tanpa pengaman, dan berkali-kali aku melakukannya. Bagaimana jika benihku tumbuh di rahimmu?" Ucap Rey mulai kesal karena Karina ternyata sangat lemot.
"Eh..." Benak Karina mulai mencerna ucapan Rey. Dia baru pertama kali melakukannya dan tidak menutup kemungkinan nanti dia hamil lalu jika mereka tidak saling mencintai, apa mereka harus terpaksa menikah?
.
.
__ADS_1
TBC