
Rey datang ke kantor masih dengan wajah datar dan dinginnya namun tetap saja terlihat berbeda. Karena hatinya terasa berseri-seri. Setelah sekian lama dia mendapatkan balasan dari perasaan meski belum diucapkan secara langsung oleh istrinya dari bibirnya.
Aldi yang melihat hal itu tampak heran. Bosnya terlihat berbeda meski semua orang melihat Rey seperti biasanya, datar dan dingin. Namun Aldi sudah mengenal Rey tidak cukup sehari dua hari tapi sudah bertahun-tahun sejak mereka kuliah S1 dan hingga berlanjut ke S2. Aldi tak mau bosnya terjadi masalah langsung mengikuti Rey ke ruang kerjanya.
"Sepertinya ada yang berbeda?" Sindir Aldi memicingkan matanya menatap Rey yang masih terdiam. Rey merasa suasana hatinya sedang baik, jadi dia tidak marah dengan sindiran Aldi.
"Apa yang kau butuhkan?" Tanya Rey tanpa menunjukkan respon marah atau emosi seperti biasanya. Malah sedetik Aldi melihat senyum tipis sangat tipis kalau saja sedikit saja Aldi menoleh mungkin Aldi akan kecolongan tidak melihat senyuman itu.
"Wah... Sepertinya semalam terjadi sesuatu... Tunggu! Kemarin kau dan...ah... sepertinya telah terjadi sesuatu dengan kalian yang tidak kuketahui?" Tanya Aldi sambil menepuk jidatnya.
"Selamat pagi." Sapa seseorang yang tiba-tiba muncul di dalam ruang kerja Rey.
"Karin?" Sapa Aldi merasa bahwa memang sedang terjadi sesuatu kepada pasangan ini.
"Kau sudah datang sayang?" Sapa Rey dengan nada ceria yang begitu bahagia, bahkan senyumnya sangat lebar.
Wajah datar dan dinginnya seketika berganti sumringah. Rey langsung berdiri dari duduknya menyambut istrinya yang kini tengah memerah karena malu, apalagi Rey memanggilnya dengan sebutan sayang di hadapan asisten pribadinya.
"Wah... Aku benar-benar melewatkan sesuatu hal disini. Karin!" Karina sontak menoleh menatap Aldi dengan tersenyum malu-malu, apalagi kini Rey menggamit jemari tangannya mesra dengan lembut bahkan menuntunnya duduk di sofa ruang kerja tak jauh dari tempatnya berdiri. Rey bahkan bersikap romantis mengecup punggung tangan Karina berkali-kali semakin membuat Karina malu.
"I-iya tuan?" Jawab Karina gugup.
"Jangan panggil dia seperti itu, dia bawahanku! Panggil saja namanya!" Titah Rey tegas tidak suka istrinya memanggil formal Aldi.
Aldi terdiam, rahang Aldi terasa jatuh terkejut melihat sikap bosnya berubah seratus delapan puluh derajat pada istrinya. Bahkan memperlakukan Karina lembut dan penuh kasih sayang dan perhatian yang tidak seperti sebelumnya. Meski dia tahu sejak dulu bosnya itu sangat mencintai istrinya.
__ADS_1
"Ini kantor, jadi aku..."
"Tidak masalah, hanya dia yang tahu pernikahan kita. Jadi jangan bersikap sungkan padanya."
"Yak!" Seru Aldi tak terima.
"Bisa kau pergi, aku sedang ada urusan dengan istriku!" Tegas Rey mengusir Aldi tanpa belas kasihan dengan wajah datar dan dinginnya seperti semula.
"Masa bodohlah." Aldi segera keluar dari dalam ruang kerja Rey dengan kesal. Dia juga bahagia melihat sahabatnya itu kini sudah bahagia bersama dengan wanita yang dicintainya. Meski dia tahu Karina belum sepenuhnya menerima pernikahan mereka lebih tepatnya perasaan Rey.
Cklek
Blam
"Berani sekali dia!" Kesal Rey melihat Aldi membuka pintu kasar dengan menutupnya kencang.
"Nanti dulu, aku merindukanmu. Tubuhmu seperti candu bagiku." Guman Rey mendekap erat tubuh Karina dari belakang dan mengecupi punggung Karina mesra.
"Mas... Ah..."
"Aku suka dengan panggilanmu." Ucap Rey lagi mengecupi tengkuk belakang Karina.
"Ini sudah siang mas, aku...ah...harus beker...ah.." Belum selesai Karina bicara Rey mulai mempermainkan p**ing dadanya, memelintirnya dengan gemas membuat Karina mende**h karena sentuhan tiba-tiba suaminya.
"Mas...ah... Henti...ah... kan..." Desa**n dan era**an terdengar di dalam ruang kerja Rey karena dia mulai membalikkan tubuh Karina sambil melepas satu persatu kancing blouse Karina membuat wajah Karina sayu karena godaan suaminya.
__ADS_1
"Bolehkah?" Rey mendongak menatap wajah Karina yang memerah karena malu. Ini kantor, Karina takut jika ada yang tiba-tiba masuk dan belum ada satu pun orang yang tahu tentang pernikahan mereka. Karina takut dituduh sebagai wanita murahan tak tahu malu pada bosnya seperti dulu awal-awal dia bekerja sebagai sekretaris kedua Rey.
Apa maksudnya meminta izin setelah membuka penutup dadaku? Seharusnya kan izin dulu baru membukanya dan wajahmu seperti anjing yang minta dikasihani dan tak mampu aku menolaknya kan?
Batin Karina merasa malu, seharusnya Rey tahu kalau dia menolak pasti sejak awal Karina akan menahan blouse nya. Karina memalingkan wajahnya malu membuat Rey tersenyum seringai karena dia hanya ingin menguji istrinya apa dia akan menolak atau tidak. Dan wajah merah istrinya terlihat menggemaskan di matanya.
Rey mulai menyu** di dada Karina, satu persatu dada tersebut dised** bergantian membuat Karina menggigit bibir menahan desa**nnya. Rey semakin brutal saja saat melirik wajah bergairah istrinya yang semakin membuatnya menyerang lebih lanjut lagi.
Cklek
"Maaf tuan, ada berkas yang...arrgh..." Jeritan Ima membuat Karina sontak mendorong tubuh Rey namun Rey malah menarik kencang pinggang Karina ke dalam pelukannya.
"Ma-maaf tuan, sa-saya tidak... sa-saya akan kembali nanti."
Cklek
Blam
Karina tak berani mendongak masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rey. Karina malu.
"Sial." Umpat Rey lirih melirik istrinya yang terdiam pasti karena malu, terlihat leher serta telinganya memerah. Meski posisi Karina membelakangi pintu masuk, semua orang bisa menebak apa yang mereka lakukan saat ini.
"Maaf."
.
__ADS_1
.
TBC