
Rey keluar dari ruang kerjanya, dia lupa waktu sampai pukul delapan malam. Ima tadi pamit padanya untuk pulang saat pukul enam sore. Rey mengira Karina juga ikut pamit bersamaan dengan itu. Rey melangkah menuju lobi kantor yang sudah ada sopirnya. Aldi langsung pulang setelah pertemuan dengan klien di salah satu restoran karena Rey sedang malas untuk ikut.
"Istriku sudah pulang?" Tanya Rey saat mobil mulai melaju meninggalkan gedung kantor.
"Maaf tuan, nyonya menolak untuk diantar. Dia mengatakan akan pulang sendiri setelah pergi ke supermarket. Dan beliau juga mengatakan kalau sudah izin dengan anda." Jelas sopir membuat tubuh Rey membeku terkejut.
"Apa maksudmu?" Tanya Rey resah.
"Ya, tuan?"
"Kau yakin istriku pulang?" Tanya Rey sekali lagi.
"I-itu yang... dikatakan... nyonya tuan..." Jawab sopir ragu sambil fokus dengan mobilnya.
"Sial." Umpat Rey kesal meraih ponselnya untuk menghubungi apartemennya.
"Iya tuan?" Sapa yang di seberang panggilannya.
"Apa istriku sudah pulang?" Tanya Rey dengan gelisah karena dia sama sekali tidak memperhatikan istrinya sama sekali hari ini membuat Rey merasa bersalah.
"Maaf tuan, nyonya belum pulang sampai sekarang." Jawab maid itu takut-takut karena dia ditugaskan untuk menjadi asisten rumah tangga di apartemen Rey. Dia tidak diizinkan pulang sebelum Karina pulang ke apartemen. Karena hari ini Karina sudah mulai bekerja, sebelumnya Karina pun dilarang mengerjakan pekerjaan rumah apapun itu.
"****." Umpat Rey langsung memutuskan panggilannya tanpa bicara apapun lagi. Sopir yang sedang mengendarai mobil hanya bisa terdiam takut.
"Nomer yang anda tuju sedang di luar area. Cobalah beberapa saat lagi." Suara operator yang menjawab dari ponsel Karina yang dihubunginya membuat Rey semakin putus asa saja.
"Kemana kamu Karin?" Guman Rey mengusap wajahnya, berpikir lagi kira-kira dimana Karina sekarang.
"Dimana kau?" Guman Rey terlihat frustasi.
__ADS_1
"Mungkin nyonya berkunjung ke panti asuhan tuan." Ucap sopir ragu takut terkena kemarahan bosnya.
"Oh... Segera kesana sekarang!" Titah Rey yang langsung diangguki sang sopir.
.
.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Mira melihat Karina menangis sesenggukan setelah Bryan diusir oleh Hartono.
"Hiks...hiks...aku bersalah bu, aku bersalah... apa aku jahat? Apa aku salah menikah dengannya? Hiks...hiks..." Ucap Karina di sela sesenggukannya menatap Mira sendu yang sedang menepuk punggungnya lembut.
"Mungkin jodoh kalian sampai disini nak, sekarang kau sudah memutuskan untuk menikah dengan suamimu sekarang. Bagaimana pun juga kalian sudah menikah, kau harus menghormati pernikahan kalian. Pernikahan bukanlah main-main nak." Nasehat Bu Mira.
"Tapi kenapa disini sakit Bu...hiks...hiks...di sini terasa sesak...hiks...hiks..." Bisik Karina masih dengan sesenggukannya.
"Pasrahkan semua pada yang diatas, ikuti kata hatimu nak."
"A-aku akan menginap di sini, bolehkan?" Pinta Karina penuh harap. Mira dan Hartono saling menatap hingga keduanya menghela nafas.
"Hubungi suamimu dulu, minta izinnya ya!" Saran Mira yang diangguki Karina, dia pun menghentikan tangisannya meski masih tersisa sesenggukan.
"Ponselku mati, aku akan mengisi daya dulu." Mira mengangguk. Mira dan Hartono keluar dari kamar yang biasanya ditempati Karina saat menginap.
Karina pun memilih untuk membersihkan diri dulu sambil menunggu pengisi dayanya sudah cukup sehingga dia akan menghubungi suaminya nanti.
"Ada apa ini?" Seru Hartono yang muncul diantara Karina dan Bryan yang sejak tadi menahan diri untuk tidak muncul memberi kesempatan pada keduanya untuk bicara, namun saat Karina terlihat kesakitan karena cekalan tangan Bryan membuat Hartono tidak sabar lagi.
"Pak!" Panggil Karina sendu menatap Hartono penuh harap.
__ADS_1
"Lepaskan Bryan! Lupakan Karina! Dia sudah bahagia dengan pernikahannya." Nasehat Hartono.
"Lalu aku? Bagaimana denganku?" Seru Bryan.
"Bukankah kau yang mengakhiri hubungan kalian?" Ucapan menohok Hartono membuat Bryan terdiam membeku tidak bisa menjawab pertanyaan Hartono.
"Kau yang melepasnya, tapi kau tak terima saat ada pria lain yang menikahinya. Dia tidak mengkhianatimu atau meninggalkanmu." Cekalan tangan Bryan mengendur dan Karina memanfaatkan hal itu untuk melepasnya dan berdiri di belakang tubuh Hartono tak mau Bryan nekat.
"Terimalah kenyataan itu, biarkan Karina bahagia dengan pilihannya." Saran Hartono membawa Karina masuk ke dalam. Bryan tetap terdiam tak mampu bicara apapun.
.
.
Ting
'Aku menginap di panti.' Isi pesan Karina yang baru saja masuk di ponsel Rey namun semuanya terlambat karena Rey sudah turun dari mobil untuk masuk kedl dalam gedung panti.
Rey tak membalasnya dan masuk ke dalam panti setelah mengetuk pintu depan.
"Nak Rey?"
"Maaf Bu, Saya terlambat. saya datang untuk menjemput Karina pulang." Ucap Rey sambil tersenyum sopan pada ibu panti.
"Oh tidak apa-apa. Masuklah! Karina ada di dalam kamarnya." Beri tahu Mira. Rey langsung masuk menuju kamar yang dimaksud.
.
.
__ADS_1
TBC