Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 58


__ADS_3

Grep


Deg


Karina terkejut saat melihat sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Apalagi merasakan kehangatan di punggungnya. Dan dengan bodohnya dia merasakan kenyamanan disitu. Tubuhnya ditarik mundur ke belakang dengan perlahan di lorong antara tangga dan dapur di tempat yang tertutup. Bahkan mungkin tak akan ada orang yang menyadari keberadaan mereka mungkin.


Bibirnya dibekap dengan tangan besar seseorang yang terasa familiar bagi Karina. Hampir saja dia berteriak kencang kalau tangan yang mendekap juga langsung membengkapnya dan menariknya ke tempat tersembunyi tersebut.


"Sstt." Jemari telunjuk Bryan menutupi bibirnya memberi peringatan untuk Karina diam. Mata Karina melotot terkejut melihat siapa pelaku yang mendekap pinggangnya tadi tiba-tiba. Karina menganggukan kepalanya mengerti arti kode Bryan.


"Bry!" Seru Karina dengan nada rendah.


"Kenapa? Apa maksud semua ini?" Tanya Bryan menggeram rendam merasa marah namun rasa rindu dan cintanya lebih mendominasi.


"A-apa maksudmu?" Ucap Karina gugup membuang pandangannya ke arah lain.


"Tatap aku Karin! Katakan kalau semua ini tidak benar?" Tanya Bryan sarat akan emosi namun mencoba untuk bertahan. Dia menarik dagu Karina agar mau menghadap padanya.


"Maaf." Bryan hanya terkekeh getir mendengar ucapan yang hanya itu keluar dari bibirnya.


"Katakan kalau itu bohong! Kumohon!" Pinta Bryan menatap Karina intens, kekecewaan tergambar jelas di wajahnya membuat Karina merasa bersalah.


"Maaf." Ucap Karina sambil memejamkan matanya karena tak mampu melihat wajah kecewa dan keputus asaan pada pria yang masih sangat dicintainya itu tapi dia harus melupakannya.


"Kenapa Karin? Kenapa? Sebentar saja? Tak bisakah kau menungguku sebentar saja?" Ucap Bryan terdengar putus asa menatap Karina sendu.


"Maaf. Maafkan aku." Bisik Karina lirih bahkan tanpa sadar air matanya pun menetes membuat Bryan terdiam melihat air mata itu mengalir.

__ADS_1


"Tinggalkan dia, hmm! Kita kawin lari!" Ucap Bryan merasa keterpaksaan dalam pernikahan mereka.


"Aku tak bisa Bry, maaf... Kami sudah menikah." Ucap Karina semakin merasa bersalah karena tak tega melihat kesedihan pada wajah pria dihadapannya itu.


"Kau tak mencintainya kan? Kau dipaksa kan? Tinggalkan dia! Ayo kita pergi berdua!" Ajak Bryan penuh harap.


"Maaf Bry, kita tidak berjodoh."


"Jodoh? lima tahun Karin, kita bersama. Aku menjagamu, aku tak mampu merusakmu, aku menunggu saatnya nanti. Semudah itu kau menikah dengan orang lain?" Ucap Bryan semakin frustasi.


"Maaf Bry, kumohon lepaskan aku! Kau bisa mencari wanita lain."


"Persetan dengan wanita lain, aku tahu kau masih mencintaiku. Kau tak mencintainya." Hampir saja Bryan berteriak namun dia gelengan kepala Karina membuatnya tak tega.


"Aku sudah menjadi miliknya Bry, maaf. Lupakan hubungan kita dulu!" Bryan terdiam menatap Karina putus asa.


"Lepaskan aku Bry! Suamiku menungguku." Lirih Karina masih tak berani menatap wajah putus asa Bryan. Perlahan pegangan tangan Bryan mengendur merasa sudah tak punya harapan lagi. Karina pun memanfaatkan hal itu dan segera pergi dari tempat itu yang meninggalkan Bryan dalam keadaan linglung.


.


.


"Maaf, aku lama." Ucap Karina begitu sampai di sofa ruang keluarga, atmosfer di sekitar tersebut seperti sedang tidak baik-baik saja. Karina hendak duduk di sofa tempatnya tadi namun Rey segera menggandeng jemari tangannya untuk pergi.


"Karena sudah malam, kami pamit." Ucap Rey langsung menarik Karina keluar dari dalam mansion papanya tanpa menunggu Karina berpamitan.


Rey membukakan pintu mobil untuk Karina di bangku penumpang, tadi dia memang berangkat sendiri tanpa sopir. Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia pun hanya diam tidak bicara apapun selama dalam perjalanan. Begitu juga Karina memilih untuk diam tak mau mengganggu keterdiaman suaminya.

__ADS_1


Hingga satu jam kemudian Rey memarkirkan mobilnya di basemen parkiran gedung apartemennya. Rey segera turun diikuti Karina tanpa menunggu pintu dibuka Rey. Karina melangkah mengikuti Rey yang berjalan menuju lift tanpa banyak bicara diantara keduanya.


"Kau pasti lapar? Kau tadi tidak makan dengan baik." Suara Rey memecah keheningan di dalam lift.


"Tidak apa-apa."


"Maaf, kau harus mendengar drama keluarga papa." Ucap Rey membuat Karina menoleh menatap wajah Rey yang terlihat sendu dan kecewa.


"Kami tidak pernah akur sejak papa membawa wanita itu masuk ke dalam mansion. Karena ternyata dia adalah cinta pertama papa. Dan hal itu baru saja ku ketahui akhir-akhir ini." Lanjut Rey sambil tertawa getir menatap dinding lift.


"Aku bahkan tak berani mencari tahu lebih jauh tentang hubungan mereka di masa lalu karena aku takut. Takut kalau ternyata papa mengkhianati mama." Rey menundukkan kepalanya dan menghembuskan nafas kasar. Karina hanya diam memperhatikan wajah Rey yang datar dan dingin itu terlihat kecewa dan frustasi sekarang.


"Mamaku meninggal saat usiaku tujuh tahun, pernikahan mereka karena perjodohan. Tapi mama sangat mencintai papa, entah bagaimana perasaan papa. Selama kami bersama papa terlihat mencintai mama. Namun satu tahun setelah mama meninggal semudah itu papa menggantikan mama meski dengan alasan aku yang masih butuh perhatian dan kasih sayang seorang ibu. Bullshit." Umpat Rey di akhir katanya lirih. Karina masih diam mendengarkan tidak menyahuti memberi kesempatan pada suaminya untuk menumpahkan segala isi hatinya.


"Setelah sekian lama tidak bertemu semudah itu dia menginginkan untuk aku mengunjunginya dan awalnya aku menolak namun saat aku berpikir ulang kembali. Entah kenapa aku ingin menyombongkan diriku, bahwa tanpanya aku bisa. Dan aku pun juga tahu bagaimana wanita itu marah dan aku ingin memancing kemarahannya itu." Rey tidak melanjutkan ucapannya karena pintu lift pun terbuka.


Rey pun keluar diikuti Karina di belakangnya masih diam tidak menjawab. Hingga pintu unit terbuka dan mereka masuk ke dalam apartemen. Karina melangkah menuju kamar.


"Maaf, aku memanfaatkanmu. Tapi tentang pernikahan kita, aku serius. Aku hanya ingin terjadi sekali seumur hidupku. Jadi..." Karina menghentikan langkahnya sejenak dan berbalik menatap Rey yang menatapnya penuh harap. Baru kali ini melihat ekspresi wajah Rey yang terlihat penuh harap itu apalagi padanya membuat Karina tidak tega untuk tidak merasa iba.


"Jadi, maukah kau berusaha bersama dalam pernikahan kita ini?" Pinta Rey penuh harap.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2