Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 66


__ADS_3

Cahaya dari korden jendela kamar masuk mengenai wajah sejoli itu yang sedang berbaring lelap di sana. Sepertinya kegiatan semalam mereka tidak cukup sekali dua kali saja. Rey mendekap tubuh Karina dari belakang dan melingkarkan lengannya dengan erat dengan tubuh Karina membelakanginya dengan lengan satunya dijadikan bantalan.


Keduanya tampak lelap dan lelah setelah pertemuan pertama sebagai pasangan. Bahkan adik kecil Rey enggan untuk keluar dari rumahnya. Dan pagi itu adik kecil Rey yang terbangun di pagi hari membuat Karina mengerang dalam tidurnya. Rey bergerak semakin mendekatkan tubuh Karina melekat di dadanya tanpa celah. Dalam tidur lelapnya, Rey tanpa sadar bergerak seolah sedang bercin** dalam tidurnya.


"Ukh... Nikmat sayang..." Guman Rey memaju mundurkan tubuh bawahnya memberikan sensasi yang asing dan menyenangkan untuk Karina yang malah menanggapi dengan menungging dan posisi berbaring miring dan bibirnya terus mendesah keenakan.


.


.


"Kau sudah bangun?" Tanya Rey tersenyum lebar melihat istrinya sedang membuka matanya perlahan, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Rey memilih untuk izin tidak datang ke kantor menyuruh untuk menunda semua pekerjaan dan meeting. Tak lupa dia juga meminta izin untuk Karina yang tidak bekerja.


"Ah..." Erang Karina merasakan sakit di seluruh tubuhnya yang terasa remuk.


"Tuan..ukh..." Karina menghentikan gerakannya yang hendak mundur ke belakang menghindari Rey yang semakin mendekatkan wajahnya padanya. Namun saat bayangan pertempuran mereka semalam membuat wajah Karina memerah karena malu.


"Kau baik-baik saja?" Bisik Rey sambil menggigit kecil daun telinga Karina.


"Ba-baik." Karina hendak bangun setelah melihat jam dinding sudah pukul sebelas membuatnya tersentak.


"Sa-saya terlambat." Ucap Karina merasa bersalah.


"Aku sudah mengizinkanmu untuk libur." Ucapan Rey membuat Karina mau tak mau dia menatapnya.


"Ta-tapi bagaimana bisa?"


"Kau pasti lelah, lebih baik kau istirahat."


"Ta-tapi.." Rey menatap dengan wajah datar dan dinginnya membuat nyali Karina menciut langsung.


"Terserah anda saja!" Guman Karina menutupi tubuhnya sampai ke wajahnya.


"Ada apa?" Tanya Rey melihat tingkah Karina membuka selimutnya.


"Ti-tidak apa tuan." Elak Karina, Rey pun menghela nafas.

__ADS_1


"Sayang..."


"Eh." Sontak Karina menatap Rey tak percaya dengan panggilannya tadi. Karina pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sayang." Karina terdiam.


"Bisakah kau tidak bersikap formal padaku?" Pinta Rey dengan wajah memelas menatap penuh permohonan pada istrinya.


"I-itu..."


"Mulai besok aku akan memindahkan mejamu ke dalam ruanganku lagi, aku memang tidak bisa jauh darimu." Bisik Rey mendekap tubuh Karina yang hendak lari tapi keburu didekap Rey.


"Jangan!"


"Kenapa?"


"I-itu akan mencurigakan."


"Aku tak peduli."


"Tidak."


"Kumohon!"


"Panggil aku sayang? Dan berhenti bersikap formal." Peringat Rey.


"Sa-saya... Tidak bisa." Tolak Karina.


"Kalau begitu aku tetap akan memindahkan mejamu!"


"Baiklah... sa-sayang." Karina langsung menutupi wajahnya yang memerah karena malu.


"Sekali lagi."


"Sudah."

__ADS_1


"Kumohon!"


"Sayang." Karina memberanikan diri membuat Rey gemas dan mengecupi seluruh wajah Karina yang mendorongnya menjauh namun Rey tidak mudah menyerah secepat itu.


.


.


"Tuan muda." Panggil Gio lagi merasa frustasi melihat tuan mudanya tidak mengindahkan panggilannya. Bryan terduduk lunglai di meja bar apartemennya dengan banyaknya botol-botol minuman yang berserakan di meja bar. Gio menggeleng tak percaya melihat bosnya mabuk-mabukkan hanya karena seorang gadis yang dicintainya menikah dengan orang lain dan lebih parahnya, pria itu adalah kakak tirinya.


Gio merasa iba dengan bosnya, dia tahu betul usaha bosnya tidak main-main selama mereka berjuang untuk mendapatkan kepercayaan para pemegang saham demi menjadi seorang CEO yang berkuasa di perusahaan tuan besarnya. bahkan kepemilikan saham Bryan lah yang memegangnya.


"Aku merindukanmu Karin...." Racau Bryan dalam mabuknya.


"Huff... cinta membuat orang gila." Guman Gio yang masih mengawasi di belakang tubuh Bryan sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Jangan pergi Karin! Bersabarlah sebentar lagi!" Racau Bryan lagi mabuk berat.


"Aku sedang berjuang dan sebentar saja...kenapa kau tidak... mau menungguku...hik." Racau Bryan lagi.


"Tuan... Lebih baik anda tidur." Ucap Gio menepuk pundak Bryan. Gio mencoba memapah Bryan ke dalam kamar.


"Gio...kau Gio kan?" Gio hanya tersenyum masih berusaha membawa Bryan ke kamarnya.


"Kalau tahu seperti ini akhirnya... sudah kuhamili sejak dulu dia...hahaha...hik..." Racau Bryan tertawa.


"Aku mencintainya... bodohnya aku malah seperti menjaga...hik... jodoh orang...haha..hik..." Racau Bryan lagi.


Bruk


Gio membaringkan tubuh Bryan di ranjang dengan hati-hati dengan Bryan masih mengoceh tidak jelas hingga akhirnya mulai pulas. Gio menghela nafas panjang dan melepas sepatu dan membenarkan posisi tidur Bryan dan pergi meninggalkan kamar Bryan di lantai dua dan dia juga kembali ke kamarnya yang ada di apartemen itu di lantai satu.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2