
Tit
Cklik
Trak
Suara pintu apartemen di buka seseorang, Karina saat itu sedang berada di dapur untuk mengambil minum karena merasa air di sepertiga malam. Karena botol air minum yang selalu disiapkan di kamar habis, dia harus pergi ke dapur pukul dua dini hari itu.
Dengan langkah malas-malasan di mengambil air dari dispenser dan meminum segelas air dan tak lupa mengisi pula botol minuman untuk persediaan di dalam kamarnya. Meski dia sudah menebak siapa yang membuka pintu depan adalah suaminya. Namun tidak menutup kemungkinan kalau yang masuk bukan suaminya. Bisa saja ada orang yang tak bertanggung jawab.
Padahal hanya dua orang yang bisa membawa kartu kunci unit pintu apartemen dan tak mungkin bisa sembarangan orang masuk ke dalam apartemen yang tergolong mewah itu. Namun kehidupan dulu yang serba sederhana tetap saja membuat kewaspadaan Karina tetap ada. Apalagi dia sedang sendiri di unit apartemen.
Bibi maid yang biasanya menginap saat suaminya perjalanan bisnis, tadi dia pamit terpaksa pulang karena cucunya sedang sakit. Karina pun dengan rela mengizinkan bibi maid pulang untuk menjenguk cucunya.
Karina meletakkan botol minuman dan gelas setelah mengambil sebuah senjata yaitu sapu untuk menyerang jika mungkin yang masuk ke dalam unit apartemen adalah maling, mungkin.
Karina berjalan mengendap-endap menuju pintu depan. Dia mencoba menguping menajamkan pendengarannya berharap bisa mendengar suara suaminya, mungkin.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki terdengar ringan seolah tanpa beban, namun agaknya si pemilik langkah terlalu banyak pikiran hingga tak menyadari kedatangannya sudah disambut dengan sapu oleh pemilik unit.
Blarr
Pemilik langkah tersebut langsung berhenti di tempat menatap lampu ruang tengah menyala terang dan langsung mencari seseorang yang menyalakan lampu tersebut dan berdiri di dekat saklar pintu.
"Oh... Kau terbangun?" Tanya Rey menatap istrinya dengan wajah tidurnya melihatnya datar. Juga suaranya pun tak kalah datar meski ada rasa bersalah tiba-tiba yang menelusup di hatinya.
"Aku mengambil air minum." Jawab Karina menyembunyikan sapunya karena seharusnya dia sudah bisa menebaknya kalau selain dirinya ada suaminya yang bisa masuk ke dalam unit apartemen karena memiliki kartu khusus untuk mengakses pintu masuk apartemen.
"Oh..." Keduanya terdiam membuang pandangannya ke sembarang arah.
Karina lebih dahulu meninggalkan tempatnya. Entah kenapa dia malas berbasa-basi melihat suaminya dan saat itu juga foto mesra yang dikirimkan Jessica melintasi pikirannya. Namun Karina tidak berniat untuk bertanya atau meminta penjelasan. Apalagi penjelasan karena suaminya meninggalkannya begitu saja perjalanan bisnis yang tentu saja tidak ada dalam agenda jadwalnya.
Memang Karina sudah memutuskan untuk tidak terlalu menjatuhkan hatinya lagi semakin dalam meski itu pada suaminya ini. Berkali-kali suaminya menyatakan cinta namun dia tak pernah membalasnya dengan ucapan cinta yang sama karena memang dia belum mempunyai perasaan yang sama pada suaminya.
__ADS_1
Namun saat dirawat kemarin, dia mulai menyadari kalau dirinya mulai jatuh meski belum sepenuhnya pada suaminya. Dan kepergian suaminya tanpa pamit tanpa kabar tanpa pesan ataupun menghubunginya selama perjalanan bisnisnya ditambah kiriman foto telanjang di balik selimut dengan mantan wanita yang dijodohkan dengannya membuat Karina menutup kembali pintu hatinya rapat-rapat. Setelah memastikan perasaannya pada mantan kekasihnya sudah tidak ada.
"Apa kabar?" Pertanyaan Rey membuat tubuh Karina berhenti sejenak enggan berbalik. Setelah menghela nafas panjang, Karina berbalik menjawab pertanyaan suaminya dengan senyum tipis meski membuat Rey sedikit heran dengan sikap istrinya yang terlihat sama-sama dingin terhadapnya. Rey tahu senyuman itu tidak sampai ke mata.
"Syukurlah, sudah sehat." Jawab Karina berbalik lagi meninggalkan suaminya. Tidak menyambut suaminya seperti kebanyakan istri yang lainnya. Hal itu membuat Rey terdiam, ingin bicara namun waktunya tidak tepat. Dia memilih untuk diam menatap punggung istrinya yang sudah menjauh masuk ke dalam kamarnya.
"Bukankah seharusnya aku yang marah? Entah kenapa dia terlihat dingin?" Guman Rey melangkah masuk ke dalam kamar juga setelah meletakan kopernya di sudut kamar. Rey melirik istrinya yang sudah kembali berbaring di ranjang, sama sekali tak memperdulikannya.
Padahal biasanya saat Rey pulang istrinya membantunya menyiapkan baju ganti atau melepaskan kancing kemejanya. Namun rasa bersalah Rey membuat dia berpikir positif kalau istrinya mungkin sedang mengantuk dan capek, apalagi berdasarkan informasi Aldi, istrinya sudah memaksa untuk bekerja pagi tadi.
Rey masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya di bawah shower air hangat kamar mandinya. Setelah itu keluar dengan kimono handuk untuk berganti piyama tidur. Dia sempat melirik istrinya yang terlihat sudah tertidur di ranjang.
Rey pun membaringkan tubuhnya di ranjang menatap istrinya lekat yang berbaring memunggunginya, entah kenapa Rey merasa istrinya sedang marah padanya. Namun Rey tidak tahu karena apa. Karena rasa rindunya yang sudah membuncah membuat Rey tak mau berpikir lebih, segera melingkarkan lengannya ke pinggang istrinya mendekap erat dari belakang.
"Ini...sesak." Ucap Karina mirip dengan gumanan membuat Rey kembali membuka matanya mendengar suara istrinya yang serak khas bangun tidur.
"Oh maaf... Aku merindukanmu." Bisik Rey yang tidak dijawab Karina yang hanya membuka matanya dengan tatapan mata sendu.
"Sudah hampir pagi. Tidurlah!" Jawab Karina membuat Rey terdiam melihat istrinya acuh padanya.
"Selamat tidur." Ucap Rey memilih untuk tidak membahasnya sekarang, mereka butuh istirahat. Jika dilanjutkan pasti akan ada perang besar karena masih dalam keadaan lelah dan mengantuk.
Pagi hari, Karina bangun lebih dulu karena sudah memasang alarm. Semalam bibi maid minta izin untuk tidak bisa datang ke unit apartemen karena cucunya meminta menemani periksa ke rumah sakit dan Karina hanya mengiyakan tanpa banyak bertanya.
Dia pun menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya meski suasana hatinya buruk karena suaminya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dan tidak berusaha menjelaskan atau bicara padanya. Semakin saja membuat Karina untuk menutup pintu hatinya dengan kekecewaan yang besar.
Karina menghentikan kegiatan memasaknya saat lagi-lagi mengingat foto kiriman itu begitu memenuhi otak dan pikirannya.
"Rileks Karin, tarik nafas dan hembuskan! Kamu bisa, kamu kuat." Guman Karina mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh. Kalau saja dia lemah mungkin dia akan terus terusan menangisi nasibnya. Untungnya dia sejak kecil terbiasa melakukan pekerjaan yang menyerap tenaga dan pikirannya. Dan syukurnya dia bisa bertahan sampai saat ini dan entah kenapa dia terlihat sedikit melow akhir-akhir ini.
Apa karena perlakuan suamiku yang begitu lembut dan penuh perhatian? Apa aku mulai menjatuhkan hatiku?
Tanpa sadar air mata Karina menetes dan segera saja Karina menghapusnya tak mau suaminya memergoki yang tiba-tiba muncul di sana. Namun punggung bergetar Karina tidak bisa dibohongi, Rey yang memang kebetulan ada di sana hendak menyapa istrinya karena tidak ada disana membuat Rey mengurungkan niatnya.
Dia ingin sekali menarik tubuh istrinya untuk dipeluk. Namun ingatan rasa bersalah karena secara tidak langsung sudah mengkhianati istrinya tidak sengaja tidur dengan wanita lain yang pernah dijodohkan dengannya itu.
Rey pun kembali menuju kamarnya untuk membersihkan diri dulu. Entah kenapa dia merasa kotor dan jijik pada tubuhnya sendiri. Padahal dia sudah berkali-kali membersihkannya. Namun bayang-bayang tubuhnya digerayangi oleh wanita lain yang bukan istrinya saat dirinya terlelap membuat rasa trauma tersendiri bagi Rey.
.
__ADS_1
.
"Apa belum ada kabar apapun?" Tanya Bastian lagi itu dengan senyum lebar menatap Lucas yang sedang menjemputnya.
"Belum tuan." Jawab Lucas sopan membuat Bastian menghela nafas panjang.
"Apa dia tidak merindukanku?" Ucap Bastian yang mirip dengan gumanan.
"Papa!" Seru Reina yang tiba-tiba muncul membuat keduanya menoleh ke arah Reina.
"Aku nebeng ya pa, mobilku di bengkel." Pinta Reina menatap papanya penuh harap.
"Masuklah!" Jawab Bastian menatap putrinya lembut.
"Terima kasih papa." Jawab Reina sambil mengecup pipi papanya lembut dengan senyum ceria seperti biasanya.
Kini mobil sudah melaju meninggalkan pelataran mansion Bastian. Pembicaraan tentang pertanyaan Bastian otomatis tidak berlanjut karena Bastian belum menceritakan tentang Karina pada putri sulungnya itu. Bastian akan mengatakan semuanya setelah Karina memberikan keputusan tentang kabar yang diberikannya.
"Kau terlihat bersemangat?" Tanya Bastian melihat senyum di bibir putrinya cerah dan ceria.
"Oh tentu saja papa, hari ini ada pertemuan kolega dengan pihak perusahaan XXX." Jawab Reina penuh semangat.
"Ah, dengan Reynald ya?" Ucap Bastian.
"Aku dengar kemarin dia baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya dan akan ikut meeting proyek membahas kerja sama kita. Jadi, tentu saja aku bersemangat karena akan bertemu dengannya." Jelas Reina antusias.
"Kau begitu menyukainya kah?" Tanya Bastian terkekeh mendengar antusias cerita putrinya tentang rekan bisnisnya yang memang menjadi target untuk menjadikannya menantunya.
"Aku sungguh sangat menyukainya. Dia pria pertama yang membuat dadaku berdebar pa." Jawab Reina membuat Bastian kembali terkekeh.
"Setidaknya tidak melebihi rasa sukamu pada papa kan?" Sindir Bastian membuat Reina tertawa riang.
"Tentu saja papa tetap cinta pertamaku." Jawab Reina menggelayut manja ke lengan papanya yang pasti membuat siapapun yang melihat keakraban mereka akan iri. Bastian hanya terkekeh bahagia melihat tingkah manja putrinya tersebut. Lucas hanya melirik dalam diam dengan tatapan mata datar dan dingin.
.
.
TBC
__ADS_1