
Karina melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan tempatnya bekerja. Entah apa hanya perasaannya semua orang menatapnya penuh minat. Karina hanya diam tidak tahu apa yang terjadi. Kemarin seingat dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun sampai orang-orang menatapnya intens pagi ini. Hingga Dina rekan satu divisi berlari menghampirinya saat dia keluar dari dalam lift di lantai lima tempat kantornya berada.
"Karin, kemana saja kamu?" Tanya Dina membuat Karina mengernyit heran.
"Ini masih pagi, tentu saja aku dari rumah. Bukankah kantor masuk jam delapan pagi?" Jawab Karina tak kalah heran padahal ini masih jam setengah delapan pagi.
"Bagian HRD mencarimu. Mereka meminta kami di divisi untuk segera menyuruhmu datang kesana." Ucap Dina.
"Untuk apa?"
"Aku yang malah ingin bertanya padamu. Apa kesalahan yang kau buat sampai HRD mencarimu? Kemarin kau tidak melakukan kesalahan kan? Dia datang dengan raut wajah yang tidak baik." Jelas Dina membuat Karina terdiam.
Dia tahu bagian HRD itu untuk apa selain mengurus para karyawan yang baru juga melakukan kedisiplinan pada karyawan juga. Seingatnya dia tak melakukan kesalahan fatal apapun. Di selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik tanpa kurang satu apapun atau mendapatkan komplain besar.
"Aku akan langsung kesana." Putus Karina tanpa mengatakan apapun. Dina menganggukkan kepalanya.
"Kau berhutang penjelasan padaku." Ucap Dina sebelum Karina kembali masuk ke dalam lift karena ruang HRD berada di lantai tujuh.
Karina berusaha bersikap tenang dan kembali berpikir, ada urusan apa dirinya diminta datang. Otak Karina diputar dan tak menemukan apapun yang dijadikan alasan untuk berurusan dengan bagian HRD. Namun tiba-tiba wajah Ambar melintas di benaknya membuat dia overthinking kini.
Apa karena masalah itu?
Wah, sebegitu mudahnya orang kaya bertindak.
Apa ini adalah akhir masa kerjaku?
Karina memijat pelipisnya merasa itulah hal utama yang menjadi alasannya dipanggil pihak HRD yang mungkin saja sudah diketahui semua karyawan kantor.
"Pantas semua orang menatapku seperti itu." Guman Karina.
Ting
Pintu lift terbuka Karina segera keluar menuju ruang HRD menemui pria bernama pak Arya.
Tok tok tok
"Masuk!" Karina masuk ke ruangan tersebut setelah mendapat izin dari penghuni ruangan.
"Anda mencari saya pak?" Tanya Karina basa-basi meski dadanya bergemuruh.
"Masuklah!" Karina masuk dan menutup pintu ruang HRD.
"Duduklah!" Karina pun duduk dengan ragu. Wajah pak Arya tidak terlihat baik-baik saja, dia sudah menghembuskan nafas dua kali sejak Karina masuk seolah tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada Karina.
__ADS_1
"Boleh aku tanya sesuatu dulu sebelumnya?" Tanya pak Arya menatap Karina.
"Tentu saja."
"Apa kau menyinggung atasan atau pernah berbuat kesalahan dengan seseorang sebelumnya?"
"Seingatnya saya tidak pernah kalau dalam hal pekerjaan saya? Saya selama bekerja pun tidak pernah mendapatkan komplain." Jawab Karina yakin. Memang benar semua pekerjaannya dilakukan dengan baik tanpa kesalahan.
"Huff .. Maaf sebelumnya. Aku mendapatkan perintah dari atasan untuk menyerahkan surat pemutusan hubungan kerja padamu." Ucap pak Arya hati-hati.
Setahunya karyawan bernama Karina ini adalah gadis yang tidak pernah neko-neko. Bahkan dia jarang bermasalah dengan siapapun. Pekerjaannya hampir mendekati sempurna. Dia termasuk gadis baik, cantik dan murah senyum. Dia juga sering membantu karyawan lain yang kesulitan tapi dengan berat hati pak Arya harus menyampaikan permintaan atasannya. Dan dia yakin ini pasti berhubungan dengan masalah pribadi. Dan Arya yang sebagai pekerja tak mampu membela apapun saat kekuasaan bertindak. Meski itu tidak adil untuk siapapun. Bahkan Karina yang menjadi karyawan teladan terbaik di perusahaan itu.
Deg
Karina terdiam dan terkejut mendengar ucapan pak Arya. Hingga dia pun memejamkan matanya sejenak untuk memberanikan diri untuk bicara.
"Kalau boleh tahu apa kesalahan saya pak?" Tanya Karina mengendalikan emosinya.
"Saya tidak tahu alasan apa yang mendasarinya. Namun ini perintah atasan langsung yang mendesak memberi perintah pada saya tanpa bantahan. Kau tahu sendiri saya juga butuh disini yang harus menuruti apa perkataan atasan." Jelas pak Arya merasa bersalah.
"Maaf pak... Maksud bapak atasan yang mana ya?" Tanya Karina lagi masih belum menyerah dan tak mau mengambil keputusan sepihak.
"Dia pemilik perusahaan." Pak Arya bingung mengungkapkannya.
"Apa itu pak Arwana?" Pak Arya sedikit terkejut.
"Jadi kalau bukan beliau berarti istrinya ya?"
Deg
Pak Arya terlihat terkejut karena merasa tebakan Karina benar. Dia kembali merasa bersalah.
"Jadi benar kau pernah menyinggungnya?" Tanya pak Arya spontan.
"Saya akan bicara dengan beliau..."
"Sebaiknya tidak usah jika kau mendengar saran saya." Ucap pak Arya mencegah.
"Maksud bapak saya harus menerima meski saya tidak bersalah?" Tanya Karina merasa dilarang untuk mencari keadilan untuknya.
"Dengarkan saya! Beliau tidak menerima bantahan. Dan jika berani membantah beliau akan memecatmu secara tidak hormat tanpa uang pesangon dan juga surat rekomendasi pekerjaan." Jelas pak Arya membuat Karina tertawa miris mendengar ucapan pak Arya.
"Jadi bapak mencegah saya untuk tidak protes karena uang?"
__ADS_1
"Bukan hanya uang saja, tapi masa depan juga. Kau tak berpikir jika nama kita diblacklist dan tidak bisa bekerja di perusahaan manapun. Setidaknya ada pesangon selama kamu bekerja, kita hanya orang kecil. Lebih baik tidak mencari masalah dengan orang berpengaruh atau orang yang mempunyai banyak uang." Karina diam mencerna semua ucapan pak Arya dan menundukkan kepalanya seraya berpikir membenarkan semua ucapan pak Arya dan dia pun memilih untuk diam menerima demi adik-adik panti asuhannya.
"Bapak benar." Pak Arya terlihat lega mendengar jawaban Karina.
"Kalau begitu tanda tangan disini dan bagian keuangan akan segera mentransfer uang pesangonmu." Ucap pak Arya yang diikuti oleh Karina tanpa banyak protes lagi.
.
.
"Bagaimana?" Tanya Dina segera menghampiri Karina saat melihatnya masuk ke dalam ruang divisi mereka. Angel yang terlihat membencinya langsung berkomentar.
"Dipecat ya?" Seru Angel membuat semua orang di dalam ruangan divisinya yang berjumlah sepuluh orang itu menoleh serentak menatapnya. Namun Karina hanya diam melirik Angel dengan raut wajah kesal.
"Diam kau ja**ng!" Teriak Dina menatap nyalang pada Angel. Memang Dina dan Angel sering adu mulut meski tidak pernah adu tangan.
"Apa kau bilang?" Angel ikut berteriak tak terima disebut ja**ng.
"Sudahlah Din!" Cegah Karina tak mau mendengar debatan setelah perasaannya porak-poranda diperlakukan tidak adil.
"Jadi kau benar-benar dipecat?" Tanya Dina tak percaya.
"Bukan dipecat tapi di PHK dan aku masih mendapat uang pesangon juga surat rekomendasi untuk bekerja di tempat lain." Jelas Karina sambil membereskan barang-barangnya di meja kubikelnya.
"Memang apa salahmu? Kau bahkan karyawan teladan perusahaan. Pekerjaanmu selalu nyaris sempurna tanpa pernah berbuat kesalahan. Seharusnya kau protes!" Ucap Dina tidak terima.
"Sudahlah Din, tak apa. Aku akan menerimanya."
"Tidak bisa begitu. Aku akan protes ke pak Arya."
"Din, sudahlah, please. Ada hal lain yang tidak bisa ku ceritakan disini." Lirih Karina membuat Dina terdiam.
"Apa masalah pribadi?" Karina hanya mengangguk sudah selesai membereskan barang-barangnya.
"Benar kan apa yang kubilang? Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Makanya jangan sombong, sok pintar sok bisa segalanya. Ujung-ujungnya dipecat juga kan?" Ejek Angel yang langsung diberi tatapan membunuh oleh Dina. Sedang Karina tidak menggubrisnya.
"Baiklah teman-teman saya harus pamit. Terima kasih atas bantuan kalian selama saya bekerja disini. Maaf jika selama bekerja saya pernah berbuat salah pada kalian baik sengaja ataupun tidak sengaja. Saya pamit." Bisik-bisik dalam ruangan divisi mulai terdengar. Banyak yang kasihan, menyalahkan juga banyak yang tidak paham. Tapi semuanya hanya berani di ucapkan di belakang Karina.
Hanya Dina yang menangis histeris karena merasa kehilangan teman baiknya dan ditenangkan oleh Karina.
"Halah lebay. Sebaiknya segera pergi kau bukan karyawan disini lagi." Usir Angel kasar.
.
__ADS_1
.
TBC