Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 40


__ADS_3

Prang


Gelas yang dipegang Bryan meluncur jatuh ke bawah. Semua orang terkejut mendengar kejadian itu. Bryan terpaku sejenak dengan apa yang terjadi, entah kenapa sejak semalam perasaannya tidak enak. Firasat buruk menghampirinya namun dia tidak menemukan sesuatu yang harus di pikirannya.


Gio yang sedang menjelaskan detail rencana kerja tentang proyek yang dijadikan tantangan untuk Bryan yang sedang membuktikan kinerjanya yang hendak menduduki jabatan CEO menggantikan ayahnya.


"Maaf. Sepertinya tangan saya licin." Ucap Bryan menatap semua orang dengan wajah penuh rasa bersalah. Arwana yang juga ada disana segera memberikan perintah pada sekretarisnya untuk memanggil OB untuk membereskan pecahan gelas tadi sekaligus juga membawa ganti minuman untuk Bryan.


Setelah mendapat instruksi untuk melanjutkan, Gio pun melanjutkan tentang rencana proyek Bryan. Dan semua peserta pemegang saham mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dan puas dengan apa yang dipresentasikan oleh Gio, asisten kepercayaan Bryan.


"Itu rencana yang luar biasa dan semua sudah berjalan lima puluh persen. Dan permasalahan yang lalu juga sudah terselesaikan. Saya bisa menjamin untuk kelanjutan proyek ini akan berjalan lancar di bawah pengawasan saya dan tidak akan ada lagi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi lagi di kemudian hari tentang penghambat proyek." Lanjut Bryan menutup presentasi Gio.


Semua orang lagi-lagi manggut-manggut tanda mengerti dan tersenyum puas. Saling bicara satu sama lain mempertimbangkan apa yang sejak tadi dipresentasikan.


"Baiklah tuan Bryan. Saya percaya dan menyetujui apa yang anda ungkapkan hari ini. Dan saya selaku perwakilan dari semua para pemegang saham menyetujui anda sebagai CEO selanjutnya. Dan kami harap anda tidak mengecewakan kepercayaan kami." Ucap seorang pria paruh baya yang menjadi juru bicara dari para pemegang saham. Semua orang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan ucapan pria tadi sebagai wakil mereka semua.


Bryan pun berdiri dan menundukkan kepalanya pada semua orang dengan sopan santun yang jelas.


"Terima kasih sudah memberikan kepercayaan kalian pada saya, saya berjanji untuk ke depannya menjadikan lebih baik perusahaan dan untuk hal itu saya meminta dukungan kepada kalian semua dengan apapun yang akan saya lakukan nanti selama itu menuju kebaikan." Ucap Bryan membuat semua orang yang ada di ruang meeting berdiri dan bertepuk tangan menyetujui keputusan akhir dari meeting tentang penyerahan jabatan CEO pada Bryan Adams Airlangga.


"Kerja bagus nak!" Ucap Arwana memberi selamat pada putranya setelah semua orang menyalami Bryan memberi selamat dan pergi dari ruang meeting. Hanya tinggal Arwana dan sekretarisnya dan Bryan serta Gio.


"Terima kasih Pi, semua juga berkat bantuan papi." Jawab Bryan merendah.


"Tidak nak, papi hanya memberi tahu berkasnya. Kau yang mempelajarinya dan belum ada satu bulan kau sudah membuktikan di hadapan mereka semua. Papi bahkan tidak bisa memperjuangkan hak mu yang harusnya langsung menjabat menjadi CEO tanpa uji coba apapun." Jelas Arwana merasa bersalah sambil menghela nafas panjang.


"Ini bukan salah papi juga, Bryan bersyukur mendapatkan tes uji coba yang itu artinya Bryan tidak hanya masuk ke dalam perusahaan karena nepotisme tapi memang benar-benar punya kemampuan." Ucap Bryan masih tetap merendah.


"Kau memang anak hebat, papi percaya dengan kemampuanmu." Ucap Arwana menepuk bahu Bryan pelan dan akhirnya pergi meninggalkan ruang meeting diikuti sekretarisnya yang langsung menundukkan kepalanya memberi hormat pada Bryan.


"Terima kasih Pi." Ucap Bryan.


"Oh ya, minggu depan kita adakan pesta perusahaan penyambutan CEO baru kita." Ucap Arwana lagi sebelum keluar dari dalam ruang meeting.


"Kurasa itu tidak perlu Pi!" Tolak Bryan.

__ADS_1


"Tapi itu wajib nak, papi tak mau kau direndahkan lagi sebagai seorang CEO di perusahaan kita. Semua orang harus tahu." Keukeuh Arwana yang hanya diangguki Bryan.


"Tuan baik-baik saja?" Tanya Gio setelah hanya tinggal mereka berdua di ruang meeting. Bryan hanya terdiam, dia menatap telapak tangannya yang tadi menyentuh gelas yang terpeleset.


"Entahlah, aku merasa firasat buruk." Jawab Bryan melangkah meninggalkan ruang meeting menuju ruang kerjanya. Gio hanya terdiam dan melanjutkan pertanyaannya namun kecemasan masih terus menghantuinya. Dia hanya berharap tidak ada hal buruk yang terjadi.


.


.


Tok tok tok


Rey tidak sabaran mengetuk pintu kamar mandi hotel tempat Karina menginap. Sudah hampir satu jam Karina belum keluar dari dalam kamar mandi setelah Rey tadi meninggalkannya menunggu di luar kamar mandi.


"Karina!" Seru Rey memanggilnya namun tak ada jawaban. Bahkan sejak tadi tidak terdengar air mengalir dari shower tanda Karina yang mungkin membilas tubuhnya.


Rey merasa cemas, perasaannya buruk. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di dalam kamar mandi. Namun dia tidak bisa gegabah untuk menerobos masuk ke dalam kamar mandi.


"Karin! Kau baik-baik saja?" Seru Rey lagi mengencangkan sedikit suaranya. Namun tetap nihil tak ada jawaban dari dalam kamar mandi.


"Karin! Karina!" Seru Rey semakin cemas dan panik karena tidak ada suara ataupun sahutan dari dalam.


"Aku akan masuk." Ucap Rey lagi sambil memegang hendel pintu. Hening, tak ada suara ataupun pergerakan apapun. Rey pun terpaksa membuka hendel pintu yang ternyata tidak terkunci karena yang terakhir menutup pintu adalah dirinya.


Cklek


Rey dengan ragu membuka pintu kamar mandi dengan dada berdebar kencang entah karena apa. Dia gugup, apalagi di benaknya teringat tubuh telanjang Karina.


"Apa-apaan otakmu ini Rey." Bisik Rey sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan pikiran mes*mnya.


Rey menatap sekeliling kamar mandi memanggil nama Karina berulang kali tak ada jawaban. Rey malah cemas dan panik takut terjadi sesuatu yang buruk yang entah sengaja atau tidak di sengaja.


"Maaf Karin, aku terpaksa masuk, kau baik-baik saja?" Tanya Rey sekali lagi karena bathtub tempat Karina berendam tertutup kelambu kamar mandi untuk membatasi tempat berendam dengan toilet. Tapi tak ada jawaban apapun.


Srek

__ADS_1


Mata Rey melotot terkejut melihat Karina bersandar di pinggiran bathtub dengan mata terpejam lelap. Seolah dia sedang tidur namun Rey tahu Karina bukan tidur mungkin... Tidak mungkin kan dia pingsan?


Batin Rey semakin buruk saja pikirannya.


"Karina! Karina!" Panggil Rey panik menepuk pipi Karina pelan namun tetap tak ada jawaban, Rey sudah menebak pasti pingsan.


Apa dia begitu sangat kesakitan semalam?


Apa aku terlalu brutal dan liar semalam?


Maaf, semoga kau baik-baik saja.


Maaf... Maafkan aku..


Batin Rey berulang kali segera menyambar bath rope kamar mandi yang memang disiapkan sepasang di setiap kamar hotel dengan ranjang king size ataupun queen size.


"Karina! Kumohon, bangunlah!" Ucap Rey panik dan cemas membopong tubuh Karina menuju ranjang setelah membuang air bathtub dan memakaikan bath rope asal rapat saja.


Rey segera meraih ponselnya menghubungi bagian layanan kamar untuk mencarikan seorang dokter wanita untuk memeriksa Karina.


Tak sampai setengah jam, dokter pun datang segera memeriksa Karina namun dia terdiam melihat kondisi tubuh Karina yang memprihatinkan membuat dokter wanita tersebut melirik tajam pada Rey.


"Apa yang anda lakukan pada istri anda? Apa anda sedang bulan madu?" Omel dokter wanita tersebut spontan sambil memeriksa kondisi tubuh Karina yang hanya memakai bath rope dengan sekujur tubuh tak luput dari tanda merah kepemilikan yang pasti akan mengira kalau telah terjadi pelecehan walau hanya sekali lihat.


"Eh... Oh...iya." Jawab Rey tak mau memberikan image buruk pada Karina kalau dia mengelak bahwa mereka bukan suami istri.


"Pasti ini yang pertama kalinya untuk istri anda. Beliau terlihat kelelahan dan capek. Seharusnya anda pelan-pelan saja dan tidak semalaman menggempurnya. Bagaimana pun juga wanita ingin diperlakukan baik oleh suaminya, apalagi ini yang pertama untuknya. Anda sangat keterlaluan." Omelan dokter wanita tersebut masih belum berhenti membuat Rey kikuk dan merasa bersalah karena memang semalam entah sampai pukul berapa dia menggempur tubuh Karina yang dia ingat dia terlelap pukul tiga pagi.


Mungkin karena obat semalam sehingga dia tidak bisa menahan untuk terus menerus berhenti melakukannya. Apalagi dia merasakan nikmat saat pertama kali melakukannya membuatnya semakin candu dan menginginkan lagi, lagi dan lagi. Bahkan penolakan Karina semalam seketika membuat Rey menuli karena terlalu nikmat merasakan pelepasan yang berulang kali dan juga baru pertama kali untuknya juga.


"Maaf." Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Rey yang terdiam sambil menatap dokter memeriksa Karina dengan teliti.


"Ini resep silakan anda tebus. Saya harap biarkan istri anda istirahat dulu. Dia kehilangan seluruh tenaganya untuk melayani anda. Jadi akan lebih baik untuk istirahat beberapa waktu sampai sembuh. Dan salep tersebut bisa anda oleskan pada bagian sensitif tubuhnya agar beliau merasa lebih baik dan tidak luka akibat perlakuan brutal anda semalam." Nasihat dokter tersebut sekaligus sindiran tegas untuk Rey yang hanya diangguki saja tanpa berani mengeluarkan kata-kata yang telak menohoknya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2