Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 91


__ADS_3

Karina menatap layar ponselnya dengan sendu. Sudah lebih dari lima kali dia melakukan panggilan ke nomor ponsel suaminya tapi selalu berada di luar jangkauan. Atau tidak aktif. Bahkan pesan-pesan yang dikirimkan lewat chat pun hanya centang satu berwarna abu-abu pula. Pertanda kalau chat tidak masuk atau nomer ponselnya diblokir oleh pemilik ponsel.


Karina menghela nafas panjang dan berat menatap kosong ke arah depan kembali menatap berkas gugatan cerai yang di atas meja kerjanya.


"Jadi, kau mengabaikanku?" Gimana Karina lagi-lagi menghela nafas. Sudah lebih dari sepuluh kali mungkin dia menghela nafas karena sejak tadi tidak direspon panggilan dan pesan chat nya.


"Mungkin dia bisa dihubungi." Guman Karina mencari nomer ponsel seseorang.


Namun lagi-lagi tidak aktif dan berada di luar jangkauan juga.


"Apa mereka benar-benar di luar pulau?" Guman Karina lagi karena panggilannya pada Aldi juga berjawaban operator yang sama.


Karina memilih untuk meletakkan ponselnya tak lagi menghubunginya. Pikiran masih menerawang jauh ke depan mengingat-ingat apa yang terjadi pada suaminya sehingga tampak mangacuhkannya dan berakhir mendiamkannya dan berakhir mengirimkan surat gugatan cerai tanpa berunding atau bicara baik-baik padanya.


Karina bangun dari duduknya memilih untuk pergi karena jam makan siang. Dia pun ingin makan siang di luar untuk merefresh kan otaknya. Karina pamit pada mbak Ima untuk makan siang di luar yang dia juga tengah bersiap untuk makan siang juga. Ima hanya mengiyakan melihat raut wajah kusut Karina yang dipaksakan untuk tersenyum.


.


.


Karina mengutak-atik makan siangnya dengan malas. Dia terpaksa makan siang karena tak mau kembali sakit. Meski banyak masalah, Karina bukanlah tipe orang yang mengabaikan jam makannya. Dia bahkan memilih untuk melampiaskan dendam banyak makanan saat kondisi otaknya sedang tidak baik-baik saja. Yang kemudian tanpa sadar air matanya menetes keluar dan merasa lebih baik.


"Karina!" Sapa seseorang yang tiba-tiba muncul di depannya. Untung saja air matanya sudah dihapus sehingga dia tidak menjadi tontonan gratis orang yang berkunjung di restoran. Tapi entah mata merah dan hidungnya, orang-orang yang melihatnya terkelabui atau tidak.


"Tu-tuan." Gugup Karina melihat Bastian yang muncul di depannya.


"Ah maaf, anggap aku tidak pernah..."


"Duduklah!" Pinta Karina menatap sendu Bastian yang terdiam karena tak percaya dengan respon Karina. Padahal beberapa waktu lalu dia ditolak oleh putrinya tersebut.


"Aku? Bolehkah?" Karina menganggukkan kepalanya masih dengan wajah memerah.


"Tuan?" Tanya Karina entah kenapa wajahnya terlihat rapuh ingin sekali Bastian memberikan pelukannya.


"Ya?" Asisten Bastian segera pergi meninggalkan meja mereka memberikan waktu pada kedua ayah dan putrinya tersebut. Dan untungnya juga meja Karina berada di sudut ruangan sehingga interaksi disitu jarang dilihat orang.


"Bolehkah aku memelukmu?" Tanya Karina penuh harap dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Bastian tentu saja terkejut melihat wajah Karina membuatnya ikut merasakan kesedihan putrinya itu.

__ADS_1


"Oh... Kemarilah!" Bastian langsung paham dan berdiri dari duduknya bahkan dia belum sempat meletakkan pantatnya di kursi.


Bruk


"Hiks...hiks...huaa...huaa.." Tangis Karina langsung tumpah, air matanya mengalir deras di pipinya. Seolah bendungan yang sudah ditanggungnya jebol dan tidak bisa lagi ditampung. Bastian terdiam sambil membalas pelukan hangat putrinya. Dia hanya terdiam sambil mengelus-elus rambut panjang Karina yang lembut membuat hati Bastian menghangat merasa diterima oleh putrinya yang telah lama hilang itu.


"Ayah." Bisik Karina lembut membuat Bastian terkejut namun juga bahagia di saat bersamaan. Bukan panggilan itu menunjukkan kalau dia sudah diterima oleh putrinya?


"Ayah kenapa lama datang?" Guman Karina namun bisa didengar oleh telinganya.


"Maaf."


"Kenapa kau lama sekali?" Bisik Karina disertai isak tangisnya bahkan dia sudah melepas semua gengsinya. Dia butuh seseorang untuk melampiaskan segala masalahnya.


Dan beruntunglah Bastian yang muncul saat itu. Dia baru saja sedang bertemu dengan rekan bisnisnya untuk membahas pekerjaannya sekaligus makan siang dan hendak pergi kembali ke kantor. Namun saat melihat Karina makan siang sendiri membuatnya refleks memanggilnya karena rasa rindunya. Namun penolakan beberapa waktu lalu membuatnya salah tingkah dan entah kenapa tiba-tiba Karina seperti melupakan ucapannya beberapa waktu lalu itu.


Tentu saja Bastian senang juga bahagia. Diterima oleh putrinya dari wanita yang dicintainya. Dan Bastian tak peduli dia ditatap aneh oleh orang-orang pengunjung restoran. Bastian memilih untuk mengacuhkannya karena tak mau Karina merasa ditolak olehnya. Meski Karina sudah dewasa tetap saja dia membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Apalagi sejak kecil dia tidak mengenal orang tua kandungnya, hanya ibu dan bapak panti. Itu pun harus berbagi dengan adik-adiknya di panti.


"Maaf." Ucap Bastian merapatkan pelukannya.


Tangisan Karina belum sepenuhnya berhenti bahkan dia tidak tahu malu mengusap ingusnya di kemeja Bastian yang sudah tidak memakai jas lagi yang dilepaskannya saat makan siang dengan relasi bisnisnya tadi. Namun Bastian membiarkannya hanya tersenyum tipis melihat kemanjaan yang ditunjukkan Karina padanya. Dia merasa senang dan bahagia tak peduli kemejanya kotor.


Bastian menatap Lucas seolah bertanya dengan tatapan mata bertanya apa yang terjadi pada Karina yang diam tak bersuara ataupun bergerak lagi malah semakin lemas saja lutut tua Bastian namun tak berani beranjak meski dia sebenarnya sudah cukup lelah.


"Nona Karina sepertinya tidur tuan." Bisik Lucas lirih di dekat telinga Bastian yang langsung disahuti Bastian.


"Tidur?" Bisik Bastian lirih, Lucas menganggukkan kepalanya.


"Bopong dia ke mobil, jangan sampai bangun! Aku akan mengurus tagihannya dan membawa barang-barangnya!" Titah Bastian lirih pula yang langsung diangguki Lucas. Tentu saja Bastian tidak sekuat itu untuk membopong Karina, meski Karina kurus tapi Bastian sudah terlalu tua untuk membopong tubuh tingginya bak model itu.


Meski tidak rela, Bastian hanya bisa mempercayakan pada Lucas saat itu. Sepertinya putrinya memiliki beban yang besar terlihat dia tadi hanya berguman yang kadang jelas didengar di telinga Bastian tapi juga kadang tidak terdengar jelas. Dia akan bertanya dengannya nanti.


"Ayah...hiks..." Guman Karina dalam gendongan Lucas yang menatap Karina dengan pandangan penuh arti.


.


.

__ADS_1


"Ada apa tuan?" Tanya Gio melihat Bryan bad mood setelah menutup panggilannya.


"Papa membatalkan makan malamnya." Beri tahu Bryan yang masih menatap layar ponselnya yang menghitam merasa heran mendengar papanya membatalkan makan malam mereka.


"Oh."


"Kau juga terkejut kan?" Tanya Bryan. Menatap Gio yang mengangguk mengiyakan.


"Tumben papa membatalkan makan malam denganku?"


"Apa dia punya kekasih?" Tanya Bryan pada dirinya sendiri. Gio tidak menjawab, dia tahu pertanyaan Bryan sedang tidak membutuhkan jawaban.


"Tahu begini aku mengiyakan janji dengan Karina saja? Huff..." Guman Bryan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Apa aku menghubungi Karina saja y?" Tanya Bryan menatap Gio yang hanya diam memperhatikan Bryan.


"Sepertinya nona Karina tidak kembali ke kantor setelah makan siang di luar?" Beri tahu Gio setelah dia mendapatkan informasi dari orang kepercayaannya yang mengawasi Karina di kantor tempat Karina bekerja.


"Benarkah?"


"Begitulah informasi dari orang kita tuan."


"Sepertinya dia sedang ada masalah juga dengan suaminya." Guman Bryan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Sebelum jam makan siang tadi ada pengacara yang datang berkunjung di ruang kerja nona Karina." Informasi yang di berikan Gio seketika membuat Bryan mendongak menatap Gio was-was.


"Pengacara?"


"Benar tuan?"


"Menurutmu membahas apa Gio?" Tanya Bryan menatap lekat Gio seolah Bryan sudah tahu jawabannya meski itu hanya tebakan.


"Apa di pikiranku dan di pikiranmu sama?" Gio hanya diam, dia memang datar dan dingin namun sangat profesional dalam bekerja.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2