Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 20


__ADS_3

Rey dengan senyum lebar melangkahkan kakinya keluar dari bandara. Akhirnya dia bisa kembali ke tanah air setelah perjalanan bisnis yang melelahkan mengurus usahanya yang baru saja membuka cabang di daerah pedalaman luar pulau membuat Rey kesal karena sinyal ponsel yang tidak dapat dijangkau.


Kini dia segera melajukan mobil yang memang ditinggalkan di parkiran bandara. Rey tidak terlalu suka jika harus memakai sopir pribadi. Hanya sesekali dengan Aldi dia mau disopiri.


Senyum Rey semakin lebar tak peduli dengan panggilan di ponselnya dari perusahaan. Dia hanya ingin menuju satu tujuan yang pasti. Kemana lagi kalau bukan ke supermarket tempat Karina bekerja saat ini.


Rey langsung memarkir mobilnya di tempat tak jauh dari supermarket berada. Rey turun setelah merapikan penampilannya yang tak sempat untuk ganti pakaian setelah turun dari pesawat. Dan itu tidak sama sekali mengurangi kadar ketampanan dan berkelasnya penampilan Rey, tentu saja tidak akan ada yang tahu dia mandi atau belum.


"Selamat pagi, selamat belanja." Sapa seorang pegawai supermarket di balik meja kasirnya dengan menundukkan kepalanya memberi hormat pada setiap pengunjung supermarket yang sudah menjadi prosedur pekerjaannya.


Rey menatap ke meja kasir tak melihat wajah yang ingin dilihatnya. Karyawab tersebut mesti mengernyit bingung dengan sikap Rey tetap membuatnya tersenyum karena wajah tampan Rey yang terlihat bersilau di pandangannya.


Rey beralih menatap ke sekeliling supermarket berharap dapat menemukan orang yang dicarinya yaitu Karina.


Karena tak mendapatinya dimana pun Rey mendekati meja kasir menatap karyawan yang bertugas di meja kasir tersebut.


"Ada yang bisa dibantu tuan?" Tanya sang kasir itu ramah yang tak lain adalah rekan kerja Karina yaitu Melati.


"Dimana Karina?" Tanya Rey to the point menatap Melati datar dan dingin.


"Oh mbak Karin?" Rey hanya mengangguk antusias meski tetap memasang wajah datar dan dingin.


"Beliau masuk sore tuan, sekarang sedang tidak masuk." Beri tahu Melatil dengan polosnya tak mempunyai kecurigaan pada Rey karena terpesona wajah tampannya yang menyilaukan.


"Oh.." Hanya itu jawaban datar Rey.


"iya tuan, kalau boleh tahu ada apa perlu apa ya dengan mbak Karin?" tanya Melatil ramah masih dengan senyum marketingnya juga.


"Hmm..." Rey tampak berpikir menatap Melati apa dia perlu menyampaikan pesan pada rekan kerja Karina tersebut.


"Boleh aku minta nomer ponselnya?" Pinta Rey mencari keperuntungannya untuk mendapatkan nomer ponsel Karina pada rekan kerjanya. Dia pun berpikir tak mungkin kan Karina tidak memberika nomer ponselnya pada rekan kerjanya.


"Sebelumnya boleh saya tahu ada hal penting apa yang membuat anda meminta nomer ponselnyla?' Masih tersenyum ramah dan mulai curiga pada Rey. Karena dia sudah di wanti-wanti Karina jauh-jauh hari untuk tidak memberikan nomer ponselnya pada sembarang orang tanpa persetujuannya.


"Dia berhutang padaku." Tegas Rey membuat nyali Melatil menciut karena Rey memberikan tatapan tajam padanya seolah dia melakukan kesalahan yang sangat besar.

__ADS_1


"i-itu..."


"Sebenarnya kau punya tidak nomer ponselnya?" Tegas Rey lagi mulai kehilangan kesabarannya. Jika bukan karena menginginkan nomer ponsel tersebut dia malas untuk bicara dengan siapapun apalagi pada wanita yang menatapnya memuja yang membuatnya risih.


Melati masih terdiam belum menjawab pertanyaan Rey tentang nomer ponsel Karina. Namun dia juga takut melihat tatapan tajam yang penuh intimidasi Rey.


Maafkan aku yang lancang ini mbak.


"Dimana managermu?"


"Saya beri nomer ponselnya." Jawab Melati cepat karena tak mau mendapatkan masalah dengan managernya yang mes*m itu, karena dilihat dari penampilan Rey yang berjas rapi formal sepertinya bukan orang sembarangan semakin membuat Melati hanya bisa pasrah.


Melati mengeluarkan ponselnya namunn Rey langsung menyahutnya membuat Melati terlihat tidak rela ponselnya diambil.


Rey mengembalikan ponsel Melati dan juga menyerahkan ponselnya untuk dimasukkan nomer ponsel Karina.


"Ya?" Melati terbengong disodori ponsel mahal Rey.


"Masukkan!" TItah Rey tegas.


.


.


"Ya?" Karina yang saat itu memang sedang bersiap untuk interview di sebuah perusahaan mengangkat panggilan nomer baru itu karena dia berpikir mungkin saja itu adalah panggilan kerja.


Ya, sebelum Karina diterima bekerja di supermarket tempatnya bekerja sekarang Karina memasukkan lamaran pekerjaan di setiap perusahaan yang ada lowongan kerja yang sesuai di bidangnya. Dan dia sudah melakukan interview di tiga perusahaan namun tidak dipanggil lagi setelah interview itu entah karena apa karena menurutnya hasil psikotesnya tidak mengecewakan.


"..." Rey hanya terdiam hanya mendengarkan suara lembut Karina yang ada di seberang panggilan.


"Halo?" Tanya Karina lagi tetap tak ada jawaban membuat Karina menatap layar ponsel melihat nomer baru yang menghubunginya tersebut dan kesa.


"..."


"Kalau anda hanya ingin main-main saja akan kublokir." Ancam Karina dengan nada kesal.

__ADS_1


Tapi tetap tak ada suara yang didengar membuat Karina semakin kesal saja. Rey di seberang malah senyum-senyum sendiri mendengar luapan kekesalannya.


"Datanglah ke perusahaan XXX, temui tuan Aldi untuk interview!"" Tegas Rey langsung menutup panggilannya karena merasakan detak jantungnya terasa tidak baik-baik saja.


"Halo... Halo..!" Seru Karina merasa dipermainkan karena saat dia bertanya untuk lebih jelasnya panggilannya sudah mati membuat Karina mengumpat kesal.


"Yak!" Seru Karina.


"Apa dia sedang mempermainkanku?" Guman Karina kesal namun dia memang tidak ingat pernah memasukkan surat lamaran kerjanya ke perusahaan yang disebut dan Karina pun menimbang-nimbang untuk datang atau tidak.


Akhirnya Karina memutuskan untuk interview di perusahaan pertama yang sudah menghubunginya kemarin dan melihat hasilnya baru kemudian ke perusahaan yang disebut tadi.


.


.


Rey bersiul di dalam lift untuk menuju ruang kerjanya karena panggilan yang dilakukannya pada Karina tadi.


Ting


Suara lift terbuka Rey segera keluar dari dalam lift untuk menuju ke ruangannya dan sebelumnya mendekati meja sekretarisnya, Ima. Wanita bersuami yang sudah memilikil satu anak.


"Selamat pagi tuan muda."


"Hmm... Oh ya, Ima."


"Iya tuan muda."


"Kalau ada yang datang gadis bernama Karina mencari Aldi, suruh dia masuk menemuiku ke ruanganku!" Titah Rey tegas tak mau dibantah. Ima mengernyit belum mengerti hingga akhirnya hanya bisa mengiyakan perintah atasannya.


"Baik, tuan muda."


Rey pun masuk ke dalam ruangannya setelah meyakinkan Ima untuk melakukan dengan benar perintahnya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2