Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 49


__ADS_3

****Flashback on****


Dua hari sudah, Karina bekerja seperti biasanya. Meski dia merasa galau dengan kejadian kemarin lusa, Karina berusaha bersikap biasa saja. Dia berpikir kalau hal itu tidak pernah terjadi. Namun dia juga akan menghindari sebisa mungkin. Tapi, hari ini dia terpaksa ikut untuk melakukan survei lokasi seperti apa yang dikatakan Ima, sekretaris utama. Kenapa dia yang harus maju, karena Rey dan Aldi sang asisten sedang tidak ada di tempatnya. Katanya sedang melakukan perjalanan bisnis. Entah kenapa Karina merasa ada maksud lain dengan hal itu namun dia segera menepisnya jauh-jauh.


"Maaf Karin, hari ini aku sedang datang masa periodeku, kau bisa menggantikannya kan?" Pinta Ima dengan menatap Karina penuh harap sambil meringis memegangi perutnya yang sedikit nyeri. Dia benar-benar tidak berbohong atau berusaha menghindar. Dia benar-benar dalam periodenya di hari pertama dan itu sangat sakit sekali.


"Di restoran YY?" Jawab Karina.


"Terima kasih." Jawab Ima tersenyum lega sambil menganggukkan kepalanya.


"Aku akan berangkat sekarang, masih sisa satu jam an kurang." Ucap Karina beranjak dari kursinya sambil melihat jam tangannya.


"Hati-hati!" Karina hanya melambaikan tangannya sambil berjalan memunggungi Ima.


.


.


Karina meminta sopir kantor menghentikan mobilnya di restoran YY tempat pertemuan dengan klien. Dia tidak hanya sekali dua kali datang ke restoran mewah tersebut. Sebelumnya bosnya pernah mengajaknya kesini untuk meeting dengan klien juga. Untuk itulah Karina tidak ragu dan canggung lagi, dia hanya berpikir kalau ada tanggung jawab dari perusahaan yang harus diembannya karena pekerjaan ini membutuhkan dirinya.


"Selamat datang nona!" Sapa seorang pelayan restoran menyambut ramah Karina yang datang.


"Reservasi atas nama tuan Richard." Ucap Karina sopan.

__ADS_1


"Oh, beliau sudah menunggu di meja lima belas." Beri tahu pelayan tersebut setelah mengutak-atik komputer tempat menyimpan data-data restoran terutama tentang reservasi yang dilakukan pelanggan.


"Terima kasih." Jawab Karina sopan mengikuti langkah pelayan yang sengaja disiapkan untuk mengantar pelanggan ke meja tamu.


"Nona Karin!" Tuan Richard rekan bisnis perusahaan tempat Karina bekerja menyambut kedatangan Karina yang sendiri. Sedang Richard mengajak sekretaris wanitanya.


"Maaf saya terlambat tuan Richard." Sapa balik Karina dengan wajah penuh rasa bersalah tak lupa dia menundukkan kepalanya sebagai bentuk rasa bersalahnya.


"Tidak masalah. Belum lama juga saya datang." Jawab Richard ramah dengan senyum terus lebar membuat sekertaris wanitanya kesal sambil mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.


Pembahasan kerja sama pun dimulai, Karina menjelaskan dengan teliti dan hati-hati. Dia sudah diberi tanggung jawab sehingga dia ingin melakukan dengan baik agar tidak mengecewakan kepercayaan rekan bisnis. Hingga beberapa pertanyaan ditanyakan oleh tuan Richard sebagai bentuk apresiasi terhadap penjelasan Karina yang sebenarnya sudah sangat jelas dan gamblang sekali. Tidak ada penjelasan yang tidak dimengerti Richard hanya saja Richard memang sengaja bertanya karena dia memang ingin mencari perhatian Karina yang memang sangat sulit digoda.


Saat bersama bosnya dulu dia kesulitan menggoda dan untuk sekarang dia ingin coba-coba, siapa tahu dapat menaklukkannya saat sedang sendiri.


"Sepertinya bos anda sedang sibuk, nona?" Tanya Richard di akhir basa-basi pertanyaannya tentang pekerjaan.


Untung saja ada sekretaris Richard yang selalu mendampinginya meski Karina harus mendapatkan tatapan tajam yang membunuh karena sepertinya sekretaris Richard menyukai bosnya dan tidak suka bosnya terus menatap Karina.


"Maaf, ada pertanyaan lain tuan?" Tanya Karina berusaha menjaga kesopanannya.


"Ah, kurasa sudah cukup jelas dan sangat detail. Semua terperinci secara jelas. Saya tidak menyesal bekerja sama dengan perusahaan anda." Jawab Richard dengan senyum sejuta watt dan rayuan mautnya yang diberikan secara nyata pada Karina.


Namun bagi Karina yang dilihat malah terlihat menjijikkan di matanya. Namun dia sekuat tenaga menahan agar tidak kelepasan. Selama Richard tidak bermain fisik, Karina akan menghadapi dengan wajar dan tenang menganggap seperti anjing yang sedang menggonggong saja.

__ADS_1


"Ah, sepertinya saya masih ada pekerjaan lain, jadi maaf, saya harus pamit dulu!" Ucap Karina setelah melihat jam tangannya yang sudah hampir tiga jam dia berurusan dengan pria mes** di depannya ini.


"Bukankah lebih baik kita makan dulu?" Tawar Richard penuh dengan nada rayuannya.


"Ah, saya sudah menghabiskan desert saya dan maaf saya sedang diet. Terima kasih atas ajakannya." Jawab Karina beralasan berdiri dari tempat duduknya. Tak lupa dia juga menyapa sekretaris Richard meski hanya dibalas dengan tatapan dinginnya.


Karina segera keluar dari dalam ruang privasi restoran tersebut yang terasa sesak karena dia masih merasakan tatapan mes** dari playboy seperti Richard. Karina bernafas lega setelah keluar dari dalam ruang tersebut seperti baru menghadapi medan perang saja.


Awalnya dia ragu menerima permintaan rekan bisnis tersebut karena pertemuan mereka di ruang tertutup yang sangat privasi itu. Tapi saat pelayan mengatakan kalau di dalam sedang ada dua orang yaitu Richard dan sekretaris wanitanya, Karina sedikit lega. Kalau tidak lebih baik dia membatalkannya saja karena tak mau 'dilahap' Richard.


"Tuan..."


"Ukh... Wanita itu benar-benar menggoda sekali..." Guman Richard saat menggigit gemas ujung dada kembar sekretarisnya.


"Tuan..." Rintih sang sekretaris karena merasa keenakan.


"Ukh...ukh... ****..." Umpat Richard memaju mundurkan pingg**nya sambil memukul panta* seksi sekretarisnya. Sedang sekretarisnya sudah tidak peduli dengan racauan Richard entah pada siapa karena dia sedang merasakan terbang merasa bangga karena bosnya tetap melampiaskan na*sunya padanya. Wanita itu terlihat menikmati dan tidak keberatan dijadikan pelampiasan has*at oleh bosnya hanya karena yang digoda bosnya tidak ditanggapi.


"Teruskan tuan...ah... lebih..ah...cepat..ah..ah.." Desa**n dan era**an terdengar jelas di ruang privasi restoran tersebut. Dan Richard sengaja memesan ruangan yang kedap suara karena setiap pertemuan bisnisnya selalu berakhir dengan se**, entah dengan sekretarisnya sendiri atau sekretaris rekan bisnisnya jika berhasil digodanya namun Karina salah satu wanita yang tidak pernah tergoda olehnya.


"Ukh... Karina...ah... nikmat sekali..." Racau Richard saat mendapatkan pelepasannya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2