
"Apa dia mau mengingkari janjinya?" Guman Rey menatap layar ponselnya yang sudah mati. Lagi-lagi panggilannya dijawab orang lain dan sudah tiga hari ini.
"Aku akan membuat tuntutan pada perusahaan itu karena kinerja keprofesionalan mereka diragukan." Guman Rey kesal.
"Tapi itu perusahaan ayah anda." Celetuk Aldi tiba-tiba muncul membuat Rey menatap tajam padanya namun Aldi malah mengedikkan kedua bahunya acuh.
"Apa yang kau dapatkan kali ini?" Tanya Rey menatap tajam Aldi, tak mau kecewa lagi dengan pernyataan Aldi seperti terakhir kali berita tentang Karina yang belum mendapatkan apa-apa karena dia sibuk mengurus pekerjaannya yang tertunda.
"Aku bertemu dengannya." Jawab Aldi yakin.
"Siapa?" Tanya Rey mengernyit masih belum percaya dengan ucapan Aldi, takut dia terkena prank meskipun jarang Aldi melakukannya.
"Siapa lagi? Tentu saja nona Karina." Yakin Aldi membuat senyum Rey melebar.
"Dimana?" Tanya Rey menatap Aldi antusias.
"Di tempat kerjanya." Rey lagi-lagi mengernyit merasa Aldi kembali mempermainkannya.
"Katakan dengan jelas!" Kesal Rey.
"Nona Karina sudah dipecat di perusahaan ayah anda dan kini sudah bekerja di tempat lain." Pernyataan Aldi membuat Rey sontak berdiri karena terkejut.
"Apa! Dipecat! Apa pria tua itu terlalu bodoh melepaskan karyawan teladan yang terbaik itu?" Seru Rey entah kenapa kesal.
"Tuan muda, tetap saja beliau adalah ayah kandung anda. Bukankah anda terlalu kasar menyebutnya?" Komentar Aldi membuat Rey hanya berdecih.
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Aku tak bisa mengatakannya."
"Apa maksudmu?" Seru Rey tidak sabaran menarik kerah kemeja Aldi.
"Setelah pulang kerja aku akan mengantarmu bos." Jelas Aldi.
"Apa-apaan ini, kenapa susah sekali mengatakannya langsung." Seru Rey tidak terima.
"Aku sudah berjanji padanya. Dan dia tidak melarangku untuk datang jika ada perlu tapi melarangku untuk mengatakan dimana tempatnya bekerja." Jelas Aldi membuat Rey mau tak mau melepaskan cengkeramannya di kerah kemeja Aldi.
"Antarkan aku kesana sekarang!" Titah Rey tegas bersiap meraih jas kerjanya yang memang dilepaskan sejak tadi.
"Tidak bisa juga."
__ADS_1
"Yak!" Seru Rey menunjuk wajah Aldi kesal.
"Dia juga berpesan kalau datang tunggu dia selesai jam kerjanya. Sekarang dia sedang bekerja, jadi bersabarlah bos!" Ucap Aldi acuh meninggalkan ruang kerja Rey karena dia memang ingin mengerjai bosnya yang seenaknya sendiri setelah bertemu kembali dengan cinta pertamanya itu.
Dia yang kena imbasnya mengerjakan semua pekerjaannya saat bosnya melamun sampai mengamuk karena keinginannya tidak terpenuhi.
"Sebaiknya kerjakan ini dulu sambil menunggu waktu!" Aldi menyodorkan beberapa tumpukan berkas yang memang segera dibutuhkan secepatnya.
"Kau mencari kesempatan?"
"Tidak. Toh, itu memang harus kau tanda tangani, kalau tidak mau pekerjaanmu tertunda. Dan jangan harap aku mau mengantarkan anda kesana kalau pekerjaan anda belum beres. Karena jika tidak, saya akan sibuk mengerjakannya dan tidak punya waktu untuk mengantar anda nanti." Jelas Aldi yang terdengar sarat akan ancaman juga. Rey terdiam tak bisa menjawab karena apa yang dikatakan Aldi semuanya benar membuat Rey frustasi sambil mengusap wajahnya kasar.
"Sial. Setidaknya berikan nomer ponselnya?" Ucap Rey sudah dengan nada tenang karena tak mau membuat asisten sekaligus sahabatnya itu marah lagi.
"Dia menolak. Jadi, usaha saja sendiri bos." Jawab Aldi enteng.
"****." Umpat Rey terpaksa bekerja kalau ingin bertemu dengannya nanti.
.
.
"Dimana nyonya?" Tanya Arwana saat masuk ke dalam mansion disambut Albert yang hendak menyapanya langsung dipotong oleh Arwana.
"Kau pulang sayang? Ini masih satu jam lagi untuk makan siang." Tanya Ambar basa-basi meski dia tahu apa yang membuat suaminya pulang belum waktunya makan siang.
"Kenapa kau memecatnya?" Tanya Arwana langsung tak menjawab pertanyaan istrinya karena kekesalannya masih ada.
"Siapa?" Tanya Ambar pura-pura tidak tahu.
"Siapa lagi? Kenapa kau tidak profesional sekali? Kau tahu dia karyawan teladan dan melakukan pekerjaannya yang nyaris sempurna. Mungkin jika aku mencari yang lainnya belum tentu ada." Ucap Arwana menumpahkan unek-uneknya.
"Nanti akan ada yang lain yang lebih baik." Jawab Ambar santai sambil membalikkan halaman majalah fashion yang sedang dibacanya sejak tadi.
"Tapi tidak sebaik itu. Kenapa kau sampai tidak merestui saja hubungan mereka. Mereka saling mencintai, dia juga baik terlepas dengan asal-usulnya dia bisa dipercaya." Ucap Arwana.
"Kalau aku bilang tidak ya tidak. Dia tidak selevel dengan kita." Seru Ambar membela diri.
"Harta bisa dicari berdua seperti kita dulu. Dan nyatanya apa, kita berhasil. Kenapa tidak memberikan kesempatan pada mereka?"
"Itu lain, dulu keluargamu kaya. Meski aku orang rendah dan miskin, setidaknya latar belakang dan asal usulku jelas siapa orang tuaku. Aku tetap tidak akan merestui mereka. Dan untuk manager keuangan baru aku sudah menyiapkan seseorang. Dan aku yakin dia akan lebih berkompeten." Jawab Ambar santai meninggalkan suaminya di perpustakaan untuk menyiapkan makan siang mereka.
__ADS_1
"Tapi untuk sekarang aku sangat membutuhkannya untuk mengurus keuanganku dan pimpinan di perusahaan XXX langsung komplain karena kita tidak bisa profesional dengan mengganti manager keuangan yang sudah sangat bagus itu. Kau tahu kan perusahaan itu adalah perusahaan nomer satu di negara ini?" Jelas Arwana kesal melihat istrinya tak mendengarkannya dan malah pergi meninggalkannya padahal sepening apa dia memikirkan laporan keuangan yang sangat buruk dari pada Karina dulu.
"Untuk sementara minta sekretarismu itu dulu mengurusnya!" Jawab Ambar acuh.
"Dia sudah banyak pekerjaan. Dan itu bukan pekerjaan di bidangnya?" Kesal Arwana.
"Hanya sementara, dia baru siap minggu depan untuk menggantikan posisi itu."
"Siapa dia yang kau maksud?"
"Wanita yang akan aku jodohkan dengan Bryan." Ucapan Ambar membuat Arwana terdiam tak percaya dengan ucapan istrinya.
"Apa Bryan tahu? Apa dia setuju?"
"Dia hanya perlu menurut dan harus setuju."
"Dia pria dewasa, seorang pria. Biarkan dia memilih pasangannya sendiri yang dicintainya juga."
"Aku tidak mau dibantah."
"Terserahlah, semoga dia tidak semakin membencimu."
"Apa kau berharap putraku membenciku?" Ucap Ambar tidak terima.
"Lupakan!" Jawab Arwana tak mau melanjutkan ucapannya karena tak ingin istrinya murka dan berakhir mereka bertengkar.
"Apa Bryan sudah makan?" Tanya Arwana sambil mengaduk makan siangnya.
"Saya akan segera kesana tuan besar." Jawab bibi maid yang sering mengantarkan makanan ke kamar Bryan.
"Terima kasih bibi, katakan pada Bryan untuk bersemangat." Ucap Arwana.
"Baik tuan besar. Saya mau ke kamar tuan muda dulu!" Pamit bibi maid sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Bryan yang sudah hampir lima hari ini dilarang keluar rumah.
"Sampai kapan kau akan mengurungnya?" Tanya Arwana menatap istrinya kesal.
"Besok adalah pertemuan dengan keluarganya, jadi akan kuizinkan dia keluar untuk menemuinya." Jawab Ambar membuat Arwana geleng-geleng kepala tak percaya dengan kekeras kepalaannya.
"Terserahlah!"
.
__ADS_1
.
TBC