
Suasana canggung begitu tercipta di meja makan tersebut. Bryan duduk di sisi ibunya yang berhadapan dengan Karina. Rey duduk di sebelah kanan Arwana yang duduk di kursi kepala keluarga. Ambar duduk di sebelah kiri Arwana yang berhadapan langsung dengan Ambar. Mata Bryan tak lepas sedikitpun pada Karina yang membuat Karina merasa bersalah dan panas dengan tatapan tajam Bryan.
"Makanlah!" Ucap Rey sambil memberikan sebuah lauk kesukaan Karina, udang tepung goreng yang membuat jemari tangan Bryan mengepal melihat perhatian Rey pada Karina seolah mengejeknya kalau dia tahu apapun tentang Karina selain dirinya.
"Eh.. Terima kasih." Jawab Karina gelagapan juga merasa canggung diperhatikan oleh Rey.
"Ini semua masakan bibi, kau tahu masakan bibi sejak dulu selalu enak." Puji Rey menatap Karina penuh damba tak peduli dengan reaksi orang-orang yang ada di meja makan, terutama Bryan merasakan panas dan cemburu melihat kemesraan pasangan di depannya itu.
"Benarkah?" Jawab Karina sambil tersenyum meski dipaksakan. Dia menghindari tatapan Bryan yangl seolah menusuk tubuhnya. Karina sendiri juga terkejut melihat sikap Rey yang begitu romantis bahkan mirip bulol.
"Silakan lanjutkan! Saya pamit ke kamar dulu!" Pamit Bryan tak tahan melihat drama kemesraan pasangan pengantin baru tersebut.
"Mau kemana adikku? Kau tidak sengaja menghindariku kan?" Ucapan Rey yang menohok hati Bryan menghentikan langkahnya.
"Maaf kak, aku baru saja pulang dari kantor. Jadi, saya ingin membersihkan tubuh dulu. Jangan khawatir, aku akan kembali lagi setelah kalian selesai makan malam." Jawab Bryan dengan senyuman yang dipaksakan. Rey sepanjang dia mengenal Bryan tak pernah basa-basi sedikitpun atau menyapa Bryan yang selalu mendekatinya dulu berusaha untuk mengakrabkan dirinya dengan Rey, namun sepertinya hanya ditanggapi dingin oleh Rey.
"Baguslah! Aku masih ingin mengakrabkan diriku denganmu adik." Ucap Rey terdengar penuh sindiran. Bryan tak menjawab langsung pergi dari meja makan menuju kamarnya membuat Karina sedikit lega dengan hal itu.
Karina tak sedikitpun berselera makan setelah semua kejadian itu. Bahkan dia hanya mengaduk-aduk makanannya hanya makanan yang diberikan Rey untuknya yang dimakannya.
"Kau ingin aku menyuapimu sayang?"
"Uhuk..uhuk.." Karina langsung tersedak mendengar ucapan lembult Rey.
"Hati-hati sayang." Ucap Rey sambil menepuk pungguk Karina pelan. Batuk Karina sedikit mereda karena tersedak. Bukan hanya sikap lembut Rey namun juga panggilan sayang yang diucapkan Rey yang membuat Karina terkejut dan tersedak.
__ADS_1
Hal itu mengingatkan Karina panggilan sayang yang diucapkan Bryan saat dulu mereka masih menjadi sepasang kekasih.
"Sepertinya kau tak berselera makan, kau hanya makan makanan yang kuberikan, kurasa kau ingin aku menyuapimu." Pernyataan Rey tak hanya membuat Karina terkejut hingga tersedak tapi juga kedua orang tua itu hingga mereka merasa juga tak berselera makan, apalagi saat Bryan juga ada di meja makan tadi.
Merekak menyadari kalau Bryan masih memiliki perasaan pada Karina. Ambar hanya terdiam tak suka melihat wajah yang membuatnya sakit hati itu ada disana sekarang. Kalau saja mereka tahu dengan siapa Rey akan menikah dia pasti akan menghentikannya, namun semuanya terlambat.
Makan malam pun selesai, mereka pun duduk di sofa ruang keluarga. Rey terdiam duduk di sofa berisi dua orang dengan Karina yang duduk di sisinya.
"Sa-saya ke toilet sebentar." Pamit Karina berdiri dari duduknya.
"Mau aku antar sayang?" Ucap Rey membuat wajah Karina memerah karena malu.
"A-Aku bisa sendiri." Kedua orang tua itu hanya diam menatap mereka tak menyela. Rey mengurungkan niatnya untuk memberi tahu letak toilet saat melilhat Karina sudah menuju tempatnya seolah sudah pernah datang ke rumah itu.
"Baik." Jawab Rey dengan wajah datar dan dinginnya kembali membuat kedua orang tua itu saling menatap melihat perubahan ekspresi Rey.
"Syukurlah, maafkan papa yang tidak bisa datang ke pernikahanmu." Ucap Arwana sendu,
"Saya tidak berniat mengundang anda juga."
"Rey!" Ambar menyela ucapan Rey yang masih saja kasar terhadap Arwana. Rey hanya melirik tajam pada Ambar yang meneriakinya. Arwana langsung menggenggam jemari tangan istrinya untuk tidak meributkan hal itu. Dan hal itu tidak luput dari tatapan Rey yang hanya tersenyum menyeringai.
"Maafkan papa." Ucap Arwana tak mau membuat hubungan keduanya semakin buruk.
"Seharusnya kau meminta persetujuan dulu pada papamu dengan siapa kau menikah Rey?" Ucap Ambar memilih untuk mengalah dengan menurunkan nada suaranya.
__ADS_1
"Haruskah?" Ucap Rey dengan nada sinsi.
"Kau juga tidak harus sembarangan memilih istrimu," Ucap Ambar lagi,
"Ah, sejak kapan saya harus meminta izin, bukankah biasanya anda acuh dengan urusan saya?" Jawab Rey dengan nada ejekan.
"Rey, Karina bukan wanita yang baik." Ucap Ambar lagi belum menyerah.
"Kenapa anda berpikir begitu?" Rey menatap tajam dan dingin pada Ambar yang berani mengomentari istrinya.
"Wanita itu tidak jelas asal usulnya, siapa yang bisa menjamin dia wanita baik."
"Hahaha.... " Tawa Rey terdengar menggelegar di ruang keluarga.
"Itu bukan urusan anda meski dia mantan karyawan anda, anda tidak mengenal siapa istri saya. Jadi, jangan berhak melarang saya dengan siapapun saya menikahj." Ucap Rey dengan nada dingin.
"Maaf.. Lama.." Karina tiba setelah Rey menyelesaikan ucapannya dan berdiri dari tempat duduknya sekarang.
"Kami pulang dulu!" Pamit Rey sambil menggandeng jemari tangan Karina sebelum Karina sempat duduk kembali.
.
.
TBC
__ADS_1