Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 61


__ADS_3

Melamun, lagi-lagi Karina melamun. Setelah cuti selama seminggu, Karina kini kembali bekerja. Apartemen mewah, kebutuhan tercukupi, jatah bulanan juga melimpah dan jatah kasur .. Ah, sepertinya Karina belum mendapatkan lagi. Entah Rey yang hanya menjadikan pernikahan formalitas saja atau karena Rey enggan menyentuhnya lagi. Atau mungkin Karina yang masih menolaknya.


Tapi keduanya tidur di kamar yang sama, berbaring di ranjang yang sama. Meski Rey sering kemalaman saat membaringkan tubuhnya. Karina selalu tidur tepat jam sembilan malam. Pernah hari pertama dia tidur sampai tengah malam tapi tak ada tanda-tanda Rey kembali ke kamar, padahal saat Karina tidak tahu dan terlelap Rey masuk ke dalam kamar mereka dan juga berbaring di ranjang yang sama. Bahkan Rey langsung ngeblush saat bangun pagi hari dengan posisi mereka yang ambigu. Karena mendekap erat tubuhnya dan menyerukkan wajahnya di depan dada bidangnya.


Meski posisi tersebut menjadi makanan sehari-hari Rey di pagi hari. Saat itu juga Rey langsung bangun dari tidurnya tak mau dipergoki memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan. Rey bisa saja menyerang Karina saat itu juga tapi Rey tak mau karena tak ingin Karina trauma dan berujung dia ditolak.


Rey tahu sejak malam panas itu, Karina berusaha menjauhi hubungan fisik meski itu hanya sekedar sentuhan. Rey pun tak memaksa, dia berjanji akan menunggu Karina menyerahkan dirinya sendiri padanya meski belum ada cinta yang tumbuh di hatinya untuk Rey.


"Karin!"


"Eh iya mbak?" Tanya Karina gelagapan tersadar dari lamunannya.


"Melamun lagi?" Karina hanya meringis.


"Kalau kau tidak enak badan lebih baik istirahat." Saran Ima.


"Terima kasih mbak, tapi aku baik-baik saja." Jawab Karina tersenyum lebar meyakinkan Ima dan mulai mengerjakan pekerjaannya lagi.


Dari arah pintu lift muncul Rey dan Aldi baru saja kembali dari meeting bulanan di ruang meeting. Karina dan Ima menatap mereka bersiap untuk menyapa namun keduanya acuh tak menoleh sedikitpun pada keduanya. Ima sudah terbiasa karena bosnya memang seperti itu. Namun bagi Karina itu bukan hal biasa. Entah kenapa Rey seperti menghindarinya sejak kemarin. Saat makan pun, Rey tak lama-lama dan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya.


Awalnya Karina mengira kalau pekerjaannya mungkin sedang sibuk-sibuknya. Namun pagi tadi rutinitas yang biasa dilakukan Rey padanya tidak dilakukannya. Rey menyibukkan diri dengan menerima panggilan dari Aldi mengenai meeting bulanan. Tapi Karina tahu, Rey mulai bersikap berbeda padanya. Karina bahkan hanya mampu bertanya-tanya dalam benaknya tanpa berani bertanya.


"Ima, bawa berkas untuk besok!" Titah Rey saat Rey hendak membuka ruang kerjanya.


"Iya tuan." Jawab Ima berseru karena Rey memberikan titahnya tiba-tiba.


Karina menatap wajah Ima namun Ima sepertinya segera masuk ke dalam ruang kerjanya Rey tanpa sempat berpamitan pada Karina. Biasanya saat masing-masing ingin meninggalkan meja, Ima atau Karina saling pamit meski sebenarnya itu tidak penting.

__ADS_1


Karina lagi-lagi hanya diam tak ingin bertanya, dia sendiri bingung harus bertanya pada siapa, pasalnya pernikahan mereka dirahasiakan di kantor hanya Aldi yang tahu, tidak dengan Ima.


Karina melanjutkan pekerjaannya dalam diam berusaha acuh kalau diantara mereka memang hanya membahas pekerjaan dan suaminya tidak ada masalah yang berarti diantara mereka.


"Bukankah dia menginginkan pernikahan berjalan lancar saling menerima diri masing-masing?" Guman Karina sambil jemari tangannya bergerak lincah di atas keyboard.


Entah kenapa semakin dipikirkan semakin membuat dalam sudut hati terkecil Karina seperti sudah tidak diperlukan lagi. Yang artinya keberadaannya mulai tidak berguna.


"Benarkah? Apa dia sudah tidak membutuhkanku lagi? Apa secepat itu aku akan dibuang?" Guman Karina tiba-tiba dadanya berdenyut nyeri.


"Jaga hatiku Tuhan, jangan biarkan tersakiti begitu dalam!" Guman Karina berkali-kali menghela nafas panjang.


"Rin!"


"Eh ya mbak? Sudah selesai?" Tanya Karina basa-basi karena Ima sudah keluar dari ruang kerja Rey.


"Mbak duluan saja, aku sudah ada janji." Jawab Karina sambil tersenyum juga menolak dengan ramah.


"Baiklah, aku duluan." Karina menganggukan kepalanya.


Karina menatap sendu layar ponselnya, sudah tiga hari ini juga Rey tidak mengajaknya makan siang, lusa mungkin dia bisa mengerti karena ada pertemuan klien yang juga sekaligus mengajaknya makan siang. Kemarin Rey juga tidak mengajaknya lagi dengan alasan sibuk. Dan sekarang dia tidak tahu apa dia harus mengajaknya makan siang lebih dulu namun dia takut ditolak.


'Kita makan siang dimana?' Karina pun memberanikan diri untuk mengirim pesan bersikap seolah tidak ada apapun yang terjadi.


Ting


Karina sontak menoleh ke arah pintu lift yang terbuka, seorang office boy muncul di sana sambil membawa kotak yang ditebaknya adalah makanan. Dan untuk dua orang, Karina yakin Aldi belum keluar dari ruang kerja Rey dan tentu saja itu bukan untuknya melainkan untuk Rey dan Aldi. Karina menghembuskan nafas kasar tak mau berpikiran buruk.

__ADS_1


"Maaf non, ada pesanan makanan untuk tuan muda Reynaldi." Beri tahu office boy itu sopan pada Karina.


"Oh, silakan masuk langsung saja pak, sepertinya itu untuk tuan Rey dan tuan Aldi yang sedang ada di dalam ruangan." Beri tahu Karina tersenyum lebar.


"Oh baiklah non. Saya masuk dulu." Karina hanya menganggukkan kepalanya masih dengan senyum lebarnya yang tak sampai ke mata.


"Non nggak makan siang?" Tanya office boy itu setelah office boy itu keluar dari ruang kerja Rey.


"Saya bawa bekal dari rumah pak." Jawab Karina beralasan meski sebenarnya itu bohong.


"Oh, selamat makan siang non."


"Sama-sama pak." Senyum Karina langsung hilang berganti wajah sendu, entah kenapa hatinya merasa gelisah.


Ting


Suara pesan masuk kedalam ponselnya.


"Maaf, aku makan siang dengan Aldi, masih ada banyak pekerjaan." Balasan pesan Rey di ponselnya, sepertinya dia baru sempat membacanya.


"Oh begitu, selamat makan." Isi balasan pesan Karina kembali.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2