
"Tuan muda." Sapa Aldi sopan saat melihat Rey muncul di pintu keluar bandara. Aldi langsung meraih koper Rey dan menyerahkan pada sopirnya.
"Mari tuan!" Ucap Aldi sambil membuka pintu mobil belakang.
Rey masuk hanya diam tak bicara apapun. Namun wajahnya tetap datar dan dingin seolah tidak terjadi apapun. Rey menatap langit malam yang sudah mulai menghilang pertanda pagi menjelang.
Rey sampai di bandara internasional tanah air pukul dua pagi. Dia sudah memberi kabar pada Aldi untuk menjemputnya.
"Reynald." Seru suara seorang wanita mendekati Rey membuat Rey mengernyit heran karena tiba-tiba melihat Jessica ikut muncul di balik pintu keluar bandara. Rey terkejut, bagaimana mungkin wanita itu ada disini.
"Ayo pergi!" Titah Rey langsung masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan panggilan Jessica yang kesulitan sambil membawa kopernya. Aldi hanya mengikuti apa perintah Rey meski dia juga terkejut wanita itu mengikuti tuan muda nya.
"Rey! Reynald!" Teriak Jessica tetap tak digubris oleh Rey yang sopirnya sudah melajukan mobilnya tanpa belas kasihan.
Jessica menghentakkan kakinya kesal ke lantai, segera meraih ponselnya dan mengirim pesan chat sekaligus sebuah foto sekedar untuk mengancam Rey.
Rey tidak menggubris ponselnya yang berdenting berkali-kali karena dia sudah bisa menebak siapa yang menghubunginya. Aldi hanya melirik dari spion tengah mobil tak berani berkomentar apapun.
"Sial!" Umpat Jessica di teras bandara semakin kesal.
Dia terpaksa mencegat taksi untuk membawanya ke sebuah hotel terdekat dengan kantor Rey. Hotel tempat biasa Jessica menginap jika dia berkunjung ke tanah air.
.
.
"Dimana istriku?" Tanya Rey setelah masuk ke dalam apartemennya sambil menatap sekeliling ruangan yang masih sama seperti terakhir kali dia pergi.
"Nyonya sedang beristirahat di kamar tuan." Beri tahu Aldi sambil meletakkan koper Rey di sudut ruangan menunggu titahnya untuk membawanya masuk ke dalam kamar yang sekarang tidak bisa sembarangan dia masuki karena sekarang bosnya sudah beristri.
"Letakkan saja disitu! Kau pulanglah! Besok aku akan menghubungimu." Titah Rey dengan wajah masih datar dan dingin.
"Baik tuan, saya permisi!" Jawab Aldi sopan pergi meninggalkan apartemen Rey.
.
.
Rey membersihkan tubuhnya setelah masuk ke dalam kamar. Melihat sebentar wajah istrinya yang dirindukannya dengan wajah sendu. Rey mengembuskan napas melihat wajah istrinya yang terlihat cantik dalam tidurnya. Wajah yang selalu ditatapnya selalu teduh dan lembut. Rey kembali menarik jemari tangannya yang hendak menyentuh istrinya saat mengingat interaksi istrinya berpelukan dengan adik tirinya membuat dada Rey bergemuruh.
__ADS_1
Dia segera masuk saja ke dalam kamar mandi mengisi bathtub untuk berendam sebentar menenangkan perasaan cemburunya yang terus menerus menghantuinya. Apalagi saat dia tahu yang sebenarnya tentang mereka membuat Rey semakin marah dan kesal merasa dibohongi oleh mereka. Seolah perasaannya yang diungkapkan pada Karina selama ini tidak dihargai sama sekali.
"Apa kalian masih saling mencintai?" Guman Rey saat dirinya sibuk berendam di bathtub kamar mandinya.
"Jadi, aku seorang pebinor? Ah, bukan... mereka belum menikah. Jadi... Apa mereka berencana kembali bersama?" Guman Rey. Dia pun melirik ponselnya di sisi bathtub yang sejak tadi hanya bergetar tanda pesan masuk yang masih enggan dibukanya. Namun entah keinginan dari mana dia ingin sekali membukanya namun tak ada niatan untuk membalasnya.
Tik
Klik
Rey membelalakkan matanya terkejut melihat kiriman foto tidak senonoh yang merupakan dirinya dan Jessica di ranjang yang sama bahkan selimut yang sama. Terlihat jelas kalau itu bukan editan dan tampak jelas disana. Kalau dia sedang terlelap tanpa sehelai benangpun di balik selimut sebatas pinggangnya itu.
"****." Umpat Rey kesal merasa diancam dengan foto yang tidak main-main.
Rey membaca pesan di bawah foto tersebut.
Aku bisa melakukan apapun, jika kau tidak menurutiku, sayang. Kau tidak mau istrimu tahu kan? Atau kau... Memang ingin berpisah dengannya dan bersamaku kembali?
Umpatan nama-nama hewan berbaris dikeluarkan oleh Rey saat membacanya.
"Brengsek!" Kesal Rey.
Lagi-lagi umpatan berhasil dikeluarkan Rey dari bibirnya yang terlihat kesal dan marah. Dia serasa ingin membunuh gadis itu.
.
.
Sore tadi, Bastian pergi meninggalkan cafe setelah Karina pamit undur diri dari hadapannya. Karina tidak mengatakan apapun tentang ceritanya. Bahkan dia juga sudah menyodorkan kertas hasil tes DNA pada Karina hanya ditatap sendu olehnya.
Bastian tak berani mendesak untuk langsung percaya begitu saja, Karina padanya. Mungkin Karina butuh waktu berpikir untuk mencerna semuanya berkaitan dengan informasi entah hoak atau fakta tersebut.
Sejak kecil bahkan sejak bayi Karina hidup di panti asuhan tanpa mengenal siapa nama orang tua kandungnya. Dengan kasih sayang tulus yang diberikan ibu panti dan suaminya membuat Karina tidak kekurangan kasih sayang meski dari orang tuanya. Karena mereka benar-benar menyayangi kami semua anak panti tanpa pilih kasih.
Dan sekarang setelah berusia hampir kepala tiga datang seorang pria paruh baya mengaku sebagai ayah kandungnya tentu saja membuat Karina shock, tak percaya, marah, sedih dan kecewa. Meski ada sedikit rasa senang di sudut hati terkecilnya namun dia berusaha menampiknya. Karena berdasarkan cerita, kedua orang tua kandung papanya tidak merestui hubungan orang tuanya karena ibunya miskin dari kalangan sosial rendah.
Entah kenapa hal itu membuat Karina merasa de javu seperti penolakan yang dilakukan ibunya Bryan saat itu. Dan dari situ Karina dapat menyimpulkan, uang adalah segalanya. Karina tertawa getir saat itu namun Bastian memilih diam tidak berkata apapun.
"Silakan tuan!" Persilakan Lucas saat tuannya keluar dari cafe namun tatapan mata tajam dan dingin dari seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya hendak masuk ke dalam mobil membuat Bastian membeku di tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Bryan." Bisik Bastian melihat pemuda itu juga menatapnya tajam.
Lucas mengikuti arah pandang Bastian yang membuatnya urung untuk mempersilakan lagi Bastian masuk.
"Apa kabar?" Tanya Bryan. Bastian hanya terdiam terpaku menatap Bryan yang menyapanya dengan wajah datar dan dingin.
"Baik. Bagaimana denganmu?" Tanya Bastian basa-basi tersenyum lebar.
"Saya juga baik." Jawab Bryan ikut menatap pria paruh baya itu.
"Apa aku..."
"Maaf, saya sedang sibuk. Mungkin lain kali." Jawab Bryan tanpa menunggu ucapan Bastian selesai.
"Oh.. Baiklah." Jawab Bastian dengan raut wajah kecewanya namun segera mengubahnya seperti semula. Ramah dan ceria.
"Saya harus pergi sekarang. Permisi." Ucap Bryan berpamitan.
"Oh tentu. Semoga berhasil." Ucap Bastian yang tidak disahuti lagi oleh Bryan yang masuk ke dalam cafe untuk bertemu klien. Cafe tersebut memang bukan cafe sederhana. Hanya tampilan dari luarnya biasa namun dalamnya sangat mewah dan elegan. Apalagi cafe tersebut berada di kalangan perkotaan tengah kota, lingkungan elit yang tidak ada siapapun yang bisa datang jika bukan seseorang yang bergelimang harta.
Bastian menatap punggung Bryan yang sudah masuk ke dalam cafe tersebut. Bastian pun pergi meninggalkan cafe untuk pulang ke rumah. Dia sedikit lega karena sudah memberi tahu Karina tentang jati diri yang sebenarnya padanya. Bastian hanya harus menunggu sebentar lagi untuk memberi waktu pada Karina untuk memikirkan tentang semua itu.
"Kita pulang Luc!"
Blam
"Baik tuan."
Lucas melajukan mobilnya tanpa banyak bicara lagi. Bastian menatap ke arah jendela kaca mobil, tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas tersenyum bahagia setelah perasaan ini entah kemana hilangnya.
Aku berjanji akan menjaga anak kita. Terima kasih sudah membesarkan putri kita. Dia benar-benar mirip denganmu waktu muda. Aku sempat mengira kau kembali muda untuk membuatku jatuh cinta lagi, hingga aku sadar kalau dia putri kita, buah cinta kita.
Batin Bastian semakin melebarkan senyumnya tanpa sadar, Lucas hanya melirik spion tengah mobil ikut senang melihat senyum lebar tuan nya yang sangat langka itu. Tuan nya memang selalu tersenyum dan ceria namun Lucas tahu hal itu hanya untuk menutupi sesuatu di dalam hatinya. Senyumnya yang biasanya tidak pernah sampai ke mata sedang sekarang adalah senyuman kebahagiaan seseorang yang telah lama hilang.
.
.
TBC
__ADS_1