Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 75


__ADS_3

Bryan menatap Karina yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya di meja dekat pintu ruang kerja Rey. Rey yang saat itu sedang menerima panggilan dari kliennya meninggalkan Bryan yang sudah dipersilakan masuk dan duduk di sofa ruang kerjanya. Bahkan Karina sudah menyuruh seorang office boy untuk menyiapkan minuman dan sedikit camilan untuk tamunya yang juga sudah ditata di meja dengan sedemikian rupa.


Karina tidak bisa berkonsentrasi di meja kerjanya karena merasa punggungnya panas ditatap seseorang dari belakang. Ingin sekali dia pergi meninggalkan ruang kerja Rey yang menjadi satu ruang kerjanya namun entah kenapa dia enggan melakukannya. Karina memilih bertahan untuk mengerjakan pekerjaannya.


"Apa kabar?" Sapa Bryan tiba-tiba sudah berdiri di depan meja Karina membuat Karina terkejut sontak berdiri dari tempat duduknya menatap Bryan. Bahkan dia sempat melirik Rey yang sedang berdiri di balkon ruang kerjanya untuk menerima panggilan seseorang.


"Apa kakakku tidak tahu tentang kita?" Tebak Bryan membuat Karina lagi-lagi terkejut dan terdiam membeku. Karina tak menjawab memilih membuang pandangannya ke arah lain.


"Anda bisa kembali ke kursi." Jawab Karina membuang pandangannya memilih sibuk dengan pekerjaannya.


"Jadi, kau memilih acuh? Secepat itukah hatimu berubah?" Bryan menatap sendu Karina yang tetap diam untuk tidak menghiraukan Bryan meski dadanya terasa sesak karena melihat Karina acuh padanya.


"Sedikit saja? Apa masih ada perasaanmu untukku?" Tanya Bryan lirih.


"Ada apa?" Bryan dan Karina sontak menoleh bersamaan menatap wajah Rey dengan pias. Rey mengernyit melihat reaksi Karina yang pucat. Bryan bersikap tenang entah kenapa dia sangat berharap kalau Rey tahu hubungan mereka di masa lalu. Bryan sendiri yakin, Karina belum menceritakan tentang masa lalu mereka.


"Kami..."


"Tuan Bryan meminta kopi baru karena kopinya bukan seleranya. Saya sudah menghubungi office boy tapi sepertinya di pantri sedang tidak ada siapapun. Saya akan kesana sendiri." Jawab Karina tersenyum menatap Rey sambil meredakan perasaannya yang sedang kacau saat ini.


"Benarkah?" Rey menatap Bryan yang hanya terdiam. Bryan kembali menoleh menatap wajah Karina yang memberikan tatapan penuh permohonan meski hal itu dilakukan Karina tidak sengaja.


"Benar." Bryan mengalihkan pandangannya dan kembali menatap Rey. Karina entah kenapa merasa kelegaan karena Bryan mengerti apa maksudnya.


"Tidak perlu, hubungi bagian pantri saja sampai ada yang mengangkatnya tidak usah pergi dari tempatmu!" Titah Rey tegas duduk di kursi sofa tempat duduknya semula.

__ADS_1


Karina yang sudah lega karena bisa meninggalkan ruang kerja Rey yang terasa sangat sesak itu sekarang kembali merasa sesak lagi. Pasalnya niatnya untuk pergi ke pantri sendiri ingin lepas dari keduanya yang membuatnya sesak itu.


"Baiklah." Bryan sudah kembali ke tempat duduknya sebelum mulai perbincangan dengan kakak tirinya dia masih sempat melirik ke arah Karina yang terasa canggung dan kaku harus melakukan apa.


Mengenal lebih dari tiga tahun dia hafal betul setiap tingkah mantan kekasihnya. Meski dia sekarang bersikap dingin padanya, Bryan sudah hafal setiap tingkah laku Karina. Karena hanya Karina yang dilihatnya selama ini tidak ada wanita lain manapun yang menduduki hatinya lagi.


"Kau tidak sedang mengagumi istriku kan?" Sindir Rey telak membuat Bryan terlihat diam saat hendak menyodorkan sebuah berkas.


"Apa?"


"Aku tahu istriku cantik. Kau tak berniat jadi pebinor kan?" Karina membeku di tempatnya, padahal dia sedang memegang gagang telepon kantor untuk menghubungi bagian pantri namun dia mengurungkan niatnya demi mendengar ucapan Rey. Jemari tangan Karina mengepal erat mendengar apa pertanyaan Rey yang ditujukan pada Bryan, dia benar-benar takut jika Bryan mengatakan yang sebenarnya. Dia masih belum siap untuk menjelaskannya saat ini.


Bryan tersenyum menatap Rey dan melirik sebentar ke arah Karina yang ditebaknya juga terlihat penasaran mendengar jawabannya.


"Apa...? Apa... Aku boleh melakukannya?" Pancing Bryan tersenyum lebar membuat jemari tangan Rey mengepal erat dengan mata melotot menatap tajam ke arah Bryan. Karina merasa dadanya berdetak lebih kencang demi mendengar jawaban suaminya.


"Aku bukan orang yang suka menikung orang." Bryan menjeda ucapannya. "Kecuali... Jika wanita itu mau bersamaku."


Bugh


Bruak


"Brengsek! Kau mau menunjukkan kau anak siapa huh?" Kesal Rey mengumpat setelah memberikan bogem mentah pada Bryan yang langsung terjerembab ke belakang, untungnya dia duduk di kursi sofa sehingga tidak sakit saat terjerembab ke belakang.


Bryan terdiam namun tatapannya tajam saat disindir tentang kisah orang tuanya sekarang, dia tak menampik pernyataan kalau ibunya seorang pelakor, ibunya memang wanita yang dicintainya Arwana namun Arwana harus menikah dengan dijodohkan oleh orang tuanya. Dan ibunya Ambar masuk ke dalam kehidupan Arwana saat ibu Rey sedang sakit parah. Meski ibunya tidak berniat menjadi pelakor tapi Arwana benar-benar tergoyahkan dengan kehadiran ibunya di sisi Arwana saat sedang membutuhkan seseorang karena istrinya sakit yang tidak kunjung sembuh hingga meninggal dunia.

__ADS_1


Tapi, siapa yang mau menyalahkan orang yang saling mencintai? Manusia tidak bisa memilih kepada siapa dia harus jatuh cinta. Sekian lama menikah dengan ibu Rey, nyatanya tak mampu membuat Arwana mencintai istrinya meski dia juga tidak berniat menyelingkuhinya. Arwana tetap menghargai istrinya yang saat itu masih menjadi istrinya. Namun setelah ibu Rey sakit, Arwana kembali menjalin hubungan dengan Ambar yang saat itu ditinggalkan oleh suaminya dan diceraikan karena status sosial rendah karena suaminya, ayah Bryan juga harus dijodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya.


"Jangan membawa ibuku brengsek!" Bryan ganti mengumpat.


"Ah, kau lupa... Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kukira kau pria penurut dan menjaga etika tapi ternyata kau sama dengan wanita itu." Olok Rey yang langsung dihadiahi bogeman mentah juga oleh Bryan yang juga ikut emosi. Karina menjerit berulah kali melihat mereka berkelahi hingga semua barang-barang di ruang kerja Rey berantakan.


"Hentikan...! Apa-apaan kalian!" Teriak Karina mencoba melerai namun sepertinya emosi sudah menguasai emosi keduanya. Karina mendekap tubuh Rey erat dari depan membuat bogeman Bryan melayang mengenai kepala Karina tidak sengaja.


"Aduh!" Keluh Karina dengan tubuh Rey yang terjerembab ke belakang diikuti tubuh Karina yang jatuh di atas tubuh Rey menatap Rey nanar, kepalanya terasa pusing karena pukulan Bryan yang keras.


"Karina!"


"Karina!"


Seru keduanya bersamaan terkejut.


"Henti...kan!" Karina pingsan di dalam dekapan Rey.


"Karina!" Teriak Rey.


"Karin!" Seru Bryan merasa bersalah tak sengaja memukul kepala Karina.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2