
Perjalanan menuju perusahaan XXX cabang pusat dalam mobil sangat hening. Entah karena kecanggungan diantara keduanya atau karena memang tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Klien mereka sudah menunggu di perusahaan tersebut karena ternyata kliennya kebetulan ada keperluan di dekat perusahaan sehingga mereka mengajukan untuk bertemu di perusahaan saja.
Rey awalnya kesal karena mereka seenaknya saja mengubah tempat pertemuan mereka. Namun saat tahu dimana mereka akan bertemu membuat Rey berubah pikiran dan mengiyakan saja. Toh setelah pertemuan dengan klien dia akan ke perusahaan XXX juga.
Rey sibuk mempelajari proyek yang akan dibahas setelah Karina mengirimkannya melalui email. Entah kenapa Rey juga berubah pikiran seperti itu. Dia merasa tidak seperti dirinya sebelumnya. Dia yang biasanya tidak memperdulikan apapun malah begitu kentara menunjukkan kecanggungannya.
Biasane Rey langsung meminjam tablet Karina untuk mengecek berkas proyek. Namun setelah insiden ciuman tanpa sengaja di dalam kamar hotelnya tadi membuat Rey entah kenapa merasa salah tingkah meski masih bisa ditutupi dengan sikap datarnya, seolah tidak pernah terjadi apapun.
Karina mendesah kesal melihat bosnya mendiamkannya tanpa mengatakan apapun setelah insiden tersebut. Seolah Karina lah yang melakukan kesalahan yang sengaja untuk menggoda bosnya.
Tidak sama sekali, Karina sudah terlalu terbiasa merasakan ciuman. Apalagi yang hanya menempelkan bibir sama tanpa luma**n atau pagutan. Dia sudah lebih cukup pengalaman. Yang menjadi kegelisahannya adalah, entah kenapa dia merasa bersalah. Seolah sedang selingkuh di belakang Bryan.
Padahal hubungan mereka sudah berakhir, namun nyatanya perasaannya pada Bryan sungguh masih sangat mendominasi. Seolah dia menginginkan lebih dari sekedar menempelkan bibir dan merindukan ciuman dalam mereka dulu.
Karina menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya kenapa dia bisa semes** itu. Mungkin efek sudah terbiasa saja. Rey melirik Karina yang menggeleng-gelengkan kepalanya tadi mengernyitkan dahinya bertanya-tanya apa yang terjadi pada Karina hingga gadis itu bersikap seperti itu. Jangan bilang kalau tempelan bibir mereka tadi berarti apapun pada gadis itu. Entah kenapa mengingat hal itu membuat Rey kesal setengah mati.
Ah, kudengar dia punya kekasih?
Apa mereka sudah sering melakukannya?
Apa mereka bahkan sudah melakukan lebih dari itu?
Batin Rey bertanya-tanya entah pada siapa dia ingin bertanya. Dalam hatinya berpikir akan memberikan perintah pada Aldi untuk menyelidiki masa lalu Karina yang pernah ditolaknya dulu.
"Sudah sampai tuan." Beri tahu sang sopir yang langsung turun untuk membukakan pintu mobil untuk Rey yang tersentak dari lamunannya.
__ADS_1
Rey masih tetap menunjukkan tampang datar dan dinginnya saat keluar dari dalam mobil sambil merapikan jas dan kemejanya yang tidak kusut sama sekali.
Beberapa karyawan perusahaan XXX pusat menyambutnya dengan basa-basi menanyakan kabar. Bahkan ada karyawan perempuan yang memberikan buket bunga untuk menyambutnya. Karina yang paham langsung sigap untuk menjadi perwakilan menerima buket bunga tersebut karena dia sudah mempelajari hal itu salah satunya dari Aldi langsung. Bahwa Rey tidak suka buket bunga, bunga apapun itu. Karina tak mengerti namun enggan bertanya juga.
Karina berpikir mungkin ada sesuatu di masa lalu yang membuatnya membenci buket bunga.
"Selamat datang tuan Setyawan." Sapa karyawan kepercayaan Rey yang ada di perusahaan tersebut. Tentu saja dengan bahasa inggris yang mereka gunakan.
Rey hanya terdiam datar tak menyahut apapun. Baru beberapa bulan presiden direktur mereka meninggalkan kursi kebesaran disini mengira semua orang yang ada di perusahaan tersebut berubah karena Rey tidak membawa Aldi sang kepercayaan ikut serta. Bahkan Rey terang-terangan menunjukkan membawa seorang gadis cantik yang diperkenalkannya sebagai sekretaris keduanya.
Alih-alih mereka percaya, dalam hati mereka bahkan berpikir kalau Karina bukanlah sekretaris biasa. Rey yang terkenal tidak menyukai wanita bahkan tidak pernah dekat dengan wanita atau pernah mempunyai gosip dengan wanita sekarang menggandeng seorang wanita membuat semua orang tentu saja berspekulasi kalau Karina mungkin merangkap sebagai seorang tunangan bos mereka.
Dulu mereka mengira bosnya itu memiliki kelainan seksual hanya karena terus bersama orang kepercayaannya yaitu Aldi. Tak pernah Rey tidak bersama Aldi selama mereka mengenal Presdir mereka.
"Mereka sudah menunggu di ruang meeting tuan." Ucap pria bernama Bernard tersebut yang merupakan CEO yang dipercaya mengurus perusahaannya disini.
"Kita kesana!" Titah Rey, Bernard langsung membuka pintu tanpa disuruh saat mereka tiba di depan pintu ruang meeting. Rey masuk lebih dulu diikuti Bernard dan Karina masuk bersamaan di belakang Rey. Karyawan yang lain sudah kembali ke pekerjaan mereka masing-masing setelah Rey memberikan titah pada Bernard tadi.
"Maaf saya terlambat tuan." Ucap Rey sopan pada pria paruh baya yang berdiri dari duduknya di ruang meeting tersebut.
"Tidak apa-apa Rey, seperti dengan siapa saja." Jawab pria paruh baya itu sambil terkekeh.
"Bagaimana kabar anda tuan?" Tanya Rey basa-basi menunjukkan kesopanannya.
"Baik sekali, apalagi melihatmu muncul lagi disini." Pria paruh baya itu masih bicara diikuti kekehannya. Thomas terkejut melihat seorang gadis berdiri di sisi Rey satu langkah di belakangnya. Karena selama ini rumor yang dia dengar, Rey itu anti perempuan. Pria itu melirik Karina dan beralih menatap Rey.
__ADS_1
"Dia adalah sekretarisku." Jawab Rey seolah tahu apa arti tatapan pria teman Omanya itu.
"Oh... Kuharap hanya sekedar sekretaris saja." Guman Thomas, pria paruh baya tersebut yang tidak terdengar jelas oleh siapapun.
"Apa yang tuan katakan?" Tanya Rey karena tak bisa mendengar dengan jelas ucapan Thomas.
"Nothing. Ayo kita bahas secepatnya, aku masih punya janji dengan omamu setelah ini. Apa kau tidak pulang ke mansion?" Tanya Thomas.
"Mungkin besok, masih banyak hal yang harus aku urus di perusahaan." Jawab Rey dengan raut wajah masih datar dan dingin meski nada suaranya tidak terdengar dingin sama sekali.
"Setidaknya sempatkan dirimu untuk bertemu omamu, dia pasti akan senang karena dia sangat merindukanmu." Saran Thomas menatap Rey tajam.
"Akan kulakukan."
"Yak... Dasar bocah nakal." Ucap Thomas dengan kekehan khasnya.
Karina benar-benar hanya diam tak menyinggung atau menyela pembicaraan mereka. Meski begitu Karina sangat paham apa arti ucapan mereka karena Karina sedikit bisa memahami bahasa mereka yang sejenak berganti bahasa negara tersebut berbeda saat dengan Bernard tadi, menggunakan bahasa Inggri*.
Karina paham ucapan mereka namun dia kesulitan untuk melakukan pengucapan dalam bahasa negara tersebut.
.
.
TBC
__ADS_1