Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 48


__ADS_3

Plak


Rey terkejut dengan tamparan keras di pipinya yang meski tidak sakit tapi Rey tidak percaya dengan apa yang dilakukan satu-satunya orang yang disayanginya itu. Oma nya menamparnya dengan sekuat tenaga meski tidak sakit karena kondisi tubuh yang sudah renta. Bahkan wanita tua itu berdiri dari duduknya demi untuk menamparnya yang dia tahu Omanya sudah kesulitan berdiri dari usia rentanya dan karena itu beliau memilih memakai kursi roda.


"Oma?" Rey berbisik terkejut sambil memegangi pipinya.


"Jadi seperti ini sikapmu? Oma tidak pernah memberi didikan seperti ini padamu. Meskipun kita tinggal di luar negeri, Oma masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat ketimuran. Dan sekarang apa yang sedang kau lakukan disini. Sudah lebih dari seminggu kau melarikan diri dari tanggung jawabmu?" Seru Oma meski tidak dengan lantang namun terdengar dingin dan tajam di telinga Rey.


"Aku tak mengerti maksud Oma?" Jawab Rey masih pura-pura tak mengerti yang dibicarakan Omanya.


"Oh... Kau tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?" Rey terdiam menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Omanya yang memang terlihat tegas sejak dulu meski usianya sudah renta. Tak pelak jika Omanya dulu di masa mudanya menjadi pemimpin yang disegani oleh bawahannya bahkan takut. Gen nya menurun dengan baik pada cucu satu-satunya dan cucu kesayangannya.


"Aku sibuk Oma, aku akan ke ruang kerja dulu." Jawab Rey memilih menghindar.


"Jangan menyesal jika dia menjadi milik orang lain!" Vonis Omanya membuat dada Rey sesak dan berdebar tak karuan namun dia berusaha berpikir jernih.


"Jika itu membuatnya bahagia, aku juga bahagia." Rey melanjutkan langkahnya namun ucapan terakhir Omanya membuat tubuhnya membeku.


"Meski anakmu nanti memanggil pria lain ayah?" Rey sontak mendekati Omanya lagi.


"Apa maksud Oma?"


"Bukankah kau sudah tidak peduli? Bahkan apa yang dia lakukan kau sudah tidak bisa mengetahuinya?" Tanya Oma dengan penuh sindiran.


"Katakan padaku apa maksud Oma?" Rey hampir saja berteriak marah kalau tidak ingat Omanya ini adalah satu-satunya orang yang membuatnya bertahan sampai sejauh ini.


"Kenapa kau tidak pulang saja?" Usir Oma langsung.

__ADS_1


"Vina, ayo kembali ke kamar!" Titah Oma pada suster yang merawatnya setelah dirasa tidak ada yang perlu diucapkannya lagi.


"Oma!" Panggil Rey dengan nada memohon.


Namun Omanya hanya diam saja tak menjawab apapun yang langsung didorong masuk ke dalam kamar pribadinya yang tak jauh dari tempatnya tadi berbincang dengan Rey yang memang sudah seminggu ini berada di Beland*.


"Aldi, beri tahu! Apa maksud ucapan Oma?" Tanya Rey setelah dia melakukan panggilan pada Aldi, asisten pribadinya di tanah air.


"...."


"A-apa maksudmu?" Marah Rey.


"...."


"Cari informasinya sekarang!"


Rey menutup panggilan ponselnya sepihak dengan marah. Dia tidak menginginkan hal ini terjadi namun dia takut jika hal ini terjadi. Siapa pria yang mendekatinya. Apa mantan kekasihnya? Benak Rey bertanya-tanya dengan gelisah. Dia kembali melakukan panggilan dan panggilan itu langsung dijawab.


"Iya tuan muda?"


"Siapkan tiket pesawat ke tanah air, sekarang!" Titah Rey mendesak dengan tegas dan dingin.


"Baik." Panggilan sudah diputuskan saat Bernard menjawabnya.


Dalam waktu sepuluh menit, Rey sudah mendapatkan tiketnya. Saat ini dia sedang diantar menuju bandara setelah meminta Bernard untuk memesankan tiket pesawat. Rey terdiam di bangku duduknya di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Meski dari luar terlihat diam tidak bergerak tapi perasaan resah dan tidak karu-karuan. Rey menyesali sesuatu hal.


Rey sedikit lega mendengar nada pesan masuk di ponselnya. Dia tersenyum tipis saat melihat foto Karina sedang bekerja dengan serius di meja kerja dekat meja sekretarisnya yang lain.

__ADS_1


Tak ada perubahan yang berarti dalam diri Karina namun jika diperhatikan lebih lama, raut wajah Karina seperti ada yang berbeda. Wajahnya terlihat dingin, tidak seperti biasanya wajahnya terlihat ceria dan bersinar. Wajahnya sekarang terlihat redup dan sendu namun masih dominan dingin dan terlihat serius.


Bukankah Oma bilang dia hamil?


Tapi, dia juga dekat dengan seorang pria?


Siapa?


Rey terdiam memikirkan kata-kata Omanya yang membuatnya gelisah.


Foto kembali dikirim membuat Rey terkejut setengah mati saat Karina dipegangi pinggangnya oleh seseorang. Rey yakin dia seorang pria, terlihat dari pakaiannya dan tubuh yang tinggi dan kekar meski tidak lebih lebih tinggi darinya. Terlihat gestur kalau pria itu begitu hati-hati dan lembut dia memperlakukan Karina.


Karina juga terlihat nyaman dengan perlakuan pria tersebut meski setelahnya dia menolak. Rey mencoba berpikir positif. Mungkin saja karena mereka sedang di tempat umum dan Karina memang tidak nyaman dipegangi seperti itu.


Dan foto berikutnya pria tersebut berlutut di depan Karina entah melakukan apa membuat kedua tangannya mengepal erat karena marah. Sebelumnya dia tidak bisa marah saat melihat Karina bersama pria lain tapi sekarang entah kenapa dia merasa panas tak terbakar cemburu.


"Berani sekali dia memegangi wanitaku!" Guman Rey dengan tangan mengepal dan gigi bergemelatuk menahan amarahnya yang siap di lampiaskan.


"Cepatlah!" Seru Rey menendang kursi mobil yang tidak bersalah.


"Ba-baik tuan." Sang sopir langsung tancap gas menambah kecepatan karena tak mau mendapatkan lampiasan kemarahan sang bos.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2