
"Kenapa? Kenapa kau harus minta maaf?" Tanya Bastian menatap sendu wajah putrinya yang memang baru dia sadari, wajah lelah karena terlalu banyak beban pikiran.
"Tidak seharusnya saya memeluk anda di tempat umum...saya..."
"Tidak Karin! Bukan kau yang harus minta maaf, tapi aku... Maaf karena sudah menelantarkanmu begitu lama dan terlambat datang menghampirimu. Seharusnya aku yang segera mendatangimu dan menjemputmu di panti asuhan. Maaf." Ucap Bastian sendu menjelaskan runut kesalahannya. Karina hanya terdiam tak menjawab atupun membantah.
"Dan... Terima kasih sudah menerima dan menganggap orang tua ini sebagai ayahmu. Dengan begini aku tidak semakin besar merasa bersalah pada ibumu. bukan berarti tidak salah sama sekali. Aku tahu aku sangat salah dan tak pantas dimaafkan. Tapi setidaknya aku ingin menebus segala kesalahanku di masa lalu dengan berada di sisimu mendampingi di sisa waktuku." Jelas Bastian tersenyum tulus dengan raut wajah bersalah masih ada. Karina mendongak menatap Bastian lekat entah mencari apa di wajah itu. Sepertinya wajah cantiknya menurun dari sang ayah karena Karina memang cantik, tidak bosan di pandang mata.
"A-ayah...ah bolehkah aku memanggilmu seperti itu?" Tanya Karina ragu menatap Bastian yang sudah berkaca-kaca di matanya.
"Tidak... Tentu saja itu boleh. Kau berhak, kau bebas mau memanggilku apa." Jawab Bastian cepat sambil mengusap sudut matanya yang menetes karena terlalu bahagia dengan pengakuan putrinya dari wanita cinta pertamanya. Hanya karena status sosial mereka berbeda, mereka terpaksa dipisahkan oleh kedua orang tua Bastian.
"Ayah...hiks...ayah...hiks..."
Grep
Bastian mendekati ranjang Karina dan memeluknya erat seolah menyalurkan seluruh perasaannya selama ini. Dia ikut menangis sesenggukan juga. Tidak menyangka dia akan mengalami hal seperti ini dalam benaknya. Setelah penolakan Karina di panti asuhan saat itu, Bastian sudah menyerah untuk mendapatkan cinta dari putrinya. Namun dia tetap memberikan perhatian meski tidak secara langsung diterima Karina.
Dia hanya melakukan diam-diam saja. Hanya saat melihat Karina kemarin dia seperti melampaui batas yang dibangun oleh Karina karena melihat putrinya yang jauh dari kata baik-baik saja. Bagaimana Bastian bisa tahu, entahlah. Mungkin nalurinya sebagai seorang ayah yang merasakannya hingga dia reflek memanggil namanya yang padahal sudah melarangnya untuk berpura-pura tidak kenal jika mereka tidak sengaja bertemu di luar.
"Terima kasih ayah.. Terima kasih ayah..." Keduanya menangis bersamaan di dalam kamar apartemen Bastian yang masih berpelukan. Bastian hanya bisa menganggukan kepalanya tanda setuju tidak mampu menjawab karena tangisan kebahagiaannya itu.
.
.
"Iya mi?" Bryan mengangkat panggilan maminya pagi itu.
__ADS_1
"Bagaimana... kemarin?" Tanya Ambar ragu meski sebenarnya dia ingin tahu juga sehingga pagi-pagi sekali dia menghubungi putranya karena rasa penasarannya.
"Papa membatalkannya, dia ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Jadi, semalam kami batal bertemu dan papa akan menghubungiku lagi nanti." Jelas bryn panjang lebar. Kini dia berada di dalam mobil perjalanan menuju ke kantor dari apartemennya.
"Oh... Tumben sekali? Biasanya dia begitu antusias kan?" Tanya Ambar mengernyit heran.
"Entahlah mi, mungkin papa memang benar-benar ada urusan yang mendesak sehingga terpaksa membatalkan makan malam kami." Jawab Bryan tak mau ribet meski sebenarnya dia juga penasaran. Namun bukannya papanya yang menghubunginya tapi asisten papanya yang menghubunginya. Dia mengatakan kalau papanya ada urusan yang tidak bisa ditinggal sehingga tidak bisa menghubunginya.
"Seharusnya dia sadar diri, sudah berani menelantarkan putranya dan dengan seenaknya sendiri membatalkannya. Kalau lain kali dia menghubungimu, tolak saja dia Bry!" Suara omelan panjang Ambar membuat Bryan terdiam hanya mengiyakan saja, jika tidak maminya pasti akan mengomel panjang menyalahkan papanya.
"Iya ma, sudah dulu. Aku sudah sampai kantor." Pamit Bryan menutup panggilannya setelah maminya mengiyakan.
"Apa ada meeting penting nanti?" Tanya Bryan pada Gio yang sedang menyetir mobil dengan fokus menatap ke arah depan.
"Hanya meeting bersama perusahaan tuan Bastian. Selain itu ada pembahasan dengan para pemegang saham." Jawab Gio tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
"Kau yakin meeting itu juga tidak dibatalkan?" Tanya Bryan entah kenapa dia julid karena terbawa omelan maminya tadi terkait papa kandungnya.
"Kau siapkan saja semua berkasnya. Setelah siap, kita bisa segera berangkat. Jam berapa meetingnya?" Tanya Bryan sambil melangkah menuju lift perusahaan sambil melirik jam tangannya.
"Jam sepuluh pagi tuan, akan dilanjutkan makan siang jika selesai saat jam makan siang." Beri tahu Gio.
"Hmm."
Lift pun merangkak ke atas setelah Bryan menekan lantai tempat ruangannya berada.
.
__ADS_1
.
"Mbak Ima, bisa minta tanda tangan ibu wakil? Saya membutuhkannya sekarang." Ucap wanita yang sebaya dengan Ima sambil membawa sebuah berkas laporan.
"Tapi nyonya wakil belum datang. Mungkin sebentar lagi." Jawab Ima sambil melirik jam tangannya.
"Tapi aku harus menyerahkannya hari ini juga mbak, apa Bu wakil absen hari ini?"
"Entahlah, beliau belum menghubungiku jika memang absen hari ini. Bisa juga ada meeting pagi langsung di sebuah tempat dan nyonya tidak datang ke kantor pagi-pagi." Jelas Ima meski dia sendiri juga tidak yakin.
"Baiklah. Aku tinggalkan disini aja mbak, nanti kalau sudah mbak hubungi aku ya?" Jawab wanita itu.
"Tentu." Jawab Ima juga tersenyum ramah.
"Kemana Bu Karin?" Guman Ima sambil melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan pagi dan Karina bukan orang yang suka terlambat dan dia juga selalu menghubunginya jika memang meeting langsung di luar kantor.
"Apa aku harus melaporkan pada tuan Aldi? Tapi nanti sajalah setelah yakin kalau nyonya Karina tidak datang." Guman Ima melanjutkan pekerjaannya.
"Huff...ada apa dengan mereka berdua sebenarnya. Aku seperti penguntit yang harus melaporkan apa saja yang dikerjakan nyonya seharian di kantor. Bukankah mereka mempunyai nomer ponsel nyonya juga, kenapa harus lewat perantara aku. Mereka sedang tidak bertengkar kan? Ah... Dasar pengantin baru." Gerutu Ima sambil fokus dengan pekerjaannya.
Ting
Benar saja baru saja diomong oleh Ima, Aldi sudah mengirimkan pesan padanya kenapa belum mengirim laporan tentang Karina di pagi hari seperti biasa. Ini sudah pukul sembilan pagi dan biasanya Ima menghubungi pukul delapan pagi Karina sudah datang dan langsung menemui klien jika belum sampai kantor jam delapan.
"Baru saja diomongi. Apa yang harus kujawab?" Guman Ima merasa galau hanya karena memberikan balasan pesan pada asisten bosnya.
.
__ADS_1
.
TBC