Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 50


__ADS_3

Karina melangkah keluar dari restoran, entah karena tidak fokus atau karena lantainya licin seorang pelayan yang baru saja kembali menyajikan pesanan menyenggol Karina dengan kencang membuat tubuh Karina oleng dan berputar membuat pergelangan kakinya bergemelatuk keseleo.


Karina otomatis memutar tubuhnya membuat seorang pelanggan yang sedang duduk di sofa makan pelanggan refleks memegang pinggang Karina erat dan Karina pun berakhir duduk di pangkuan pria yang menangkap pinggangnya.


"Arrg.." Ringis Karina saat merasakan nyeri di pergelangan kakinya.


"Aduh... Ma-maaf..." Suara Karina terhenti saat tahu siapa yang sedang diduduki pangkuan olehnya itu. Keduanya saling terdiam dan saling menatap dalam manik mata masing-masing terdapat sorot mata kerinduan dan penuh cinta kasih yang telah lama tidak bertemu.


Tanpa sadar jemari pria itu terulur menyelipkan rambut Karina ke belakang telinganya karena sedikit menutupi wajah Karina yang langsung tersadar dengan apa yang dilakukannya bahkan banyak pelanggan yang menatap mereka hingga berbisik. Ucapan maaf pelayan yang berkali-kali membungkukkan tubuhnya di depan Karina yang masih melamun membuat pelayan tersebut menggigil ngeri merasa takut dimarahi dan dipecat.


"Maaf... Arg...aduh..." Ringis Karina lagi saat mencoba untuk berdiri.


"Kau baik-baik saja? Dimana yang sakit?" Tanya pria itu penuh perhatian dan kecemasan yang begitu kentara di matanya.


Pria itu segera mendudukkan Karina di sofa tempatnya duduk dulu langsung menyuruh pelayan yang meminta maaf tadi untuk mengambilkan kotak P3K. Pelayan itu langsung sigap berlari karena rasa bersalahnya.


"Diamlah sebentar, aku akan melihatnya." Ucap pria itu dengan nada lembut penuh perhatian.


"Henti..."


"Bisakah kau tidak membantah?" Seru pria itu terlihat marah namun rasa khawatir lebih dominan di wajahnya membuat Karina memilih diam tak menjawab lagi. Dia membiarkan pria itu melakukan apa yang dia mau karena entah kenapa reflek tubuhnya sangat menerima dan merindukan sentuhan pria yang sudah lama tidak dilihatnya itu.


"Pasti akan bengkak nanti, seharusnya kau tidak memakai heels setinggi ini." Omel pria itu sambil mengompres pergelangan kaki Karina dengan telaten setelah menyuruh pelayan mengambilkan es batu juga.


Karina masih diam memilih untuk tidak menjawab atau menolak perhatiannya namun pikirannya berkelana mengingat masa lalu yang penuh kenangan indah bersama pria itu. Pria yang berjongkok di hadapannya itu sungguh sangat teliti dan hati-hati saat membalut lukanya agar dirinya tidak kesakitan.


"Aduh." Refleks Karina karena memang merasa sakit.


"Maaf, ayo kita ke rumah sakit!" Ajak pria itu hendak membopong Karina yang sudah bersiap menyelipkan kedua tangannya di belakang tengkuk dan lutut Karina.


"A-aku bisa sendiri."


"Pasti itu sangat sakit."

__ADS_1


"Gio, siapkan mobil!" Titah pria itu.


Ya, pria itu adalah Bryan, dia tadi sedang menemui rekan bisnisnya yang belum datang dia hendak memesan namun kejadian tidak sengaja tadi membuat Bryan panik dan refleks mengobati Karina yang keseleo. Rasa cemas dan kekhawatirannya memang masih terlihat jelas di matanya apalagi sorot mata penuh cinta masih tergambar jelas pada pria itu.


"Baik tuan." Gio dengan sigap menuju parkiran mobil yang sebenarnya baru saja dia mendapatkan tempat parkir dan baru tiba di meja Bryan dan entah sejak kapan tuan mudanya sibuk berjongkok mengobati seorang wanita cantik yang belum diketahui Gio kalau wanita itu adalah Karina karena dia muncul di belakang Karina.


"Maaf tuan, saya ada perlu sebentar. Permisi!" Pamit Bryan tanpa rasa bersalah namun wajah cemas dan khawatir terlihat jelas membuat rekan bisnisnya mengerti dan mengangguk paham kalau wanita itu bukanlah wanita sembarangan Bryan.


"Kita bisa bertemu di lain waktu." Jawab pria paruh baya itu tersenyum.


"Terima kasih." Bryan dengan wajah datar dan dinginnya namun cemas dan khawatir juga membuat Karina sontak mengalungkan lengannya di leher Bryan yang ditatapnya intens penuh kerinduan itu.


"Jalan!" Titah Bryan setelah mereka sudah masuk ke dalam mobil Bryan.


Karina baru tersadar kalau dia tadi datang bersama sopir perusahaan yang belum di beri tahunya kalau dia sedang duduk di pangkuan Bryan. Bahkan Bryan tidak mengizinkan Karina untuk turun selama di dalam mobil. Matanya menatap lembut wajah Karina yang dirindukannya itu. Namun Karina sudah membuang pandangannya ke arah lain karena merasa canggung dan malu.


"Cantik." Bisik Bryan tersenyum membuat Karina menoleh menatap wajah Bryan juga. Keduanya saling menatap dalam diam, entah sejak kapan keduanya saling berpagu**n mesra saling melampiaskan kerinduan masing-masing. Terlihat ciuman keduanya begitu menggebu-gebu dan nafas yang terengah-engah. Gio tidak berani bicara meski dia sudah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit.


"Aku merindukanmu." Bisik Bryan lagi setelah ciuman keduanya terlepas. Karina masih mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena Bryan belum melepaskan saat dia memukul dada Bryan karena tidak segera melepas ciumannya.


Bryan turun dari mobil masih membopong Karina yang tidak banyak protes hanya menyerukkan kepalanya ke dalam perpotongan leher Bryan yang terlihat tersenyum lebar karena rasa malu mantan kekasihnya itu masih sama.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Bryan menatap dokter penuh rasa cemas dan khawatir.


"Hanya keseleo, mungkin dua hari sembuh. Untung saja pertolongan pertama yang dilakukan cepat terjadi sehingga tidak terlalu fatal. Ini resepnya diminum secara teratur sampai sembuh benar. Tiga hari lagi bisa kontrol kesini untuk dilihat keadaannya." Jelas dokter tersebut setelah melihat hasil Rontgen Karina dengan teliti.


"Dia harus istirahat total?" Tanya Bryan melihat kaki Karina sedang di gips oleh seorang perawat wanita.


"Tidak harus total, bisa melakukan pekerjaan biasa, hanya kurangi jalan terlalu sering." Karina menyimak juga percakapan tersebut meski dia duduk di bed ruang periksa dokter tak jauh dari percakapan dokter dan Bryan bicara di kursi periksa dokter.


"Terima kasih dokter."


"Sama-sama tuan, sudah menjadi kewajiban kami sebagai dokter." Jawab dokter tersebut tersenyum ramah. Bryan beralih mendekati Karina yang sudah selesai dibalut gips hendak bersiap untuk membopong Karina lagi.

__ADS_1


"A-aku bisa jalan sendiri." Tolak Karina namun Bryan tetap nekat membopong Karina tanpa memperdulikan permohonan Karina. Bryan seolah tuli karena rasa rindunya pada wanita yang dicintainya itu. Dia sudah menahan diri untuk tidak bertemu atau hanya sekedar melihat mantan kekasih yang terpaksa diakhiri hubungannya itu.


"Bry!" Ucap Karina lembut menatap Bryan penuh permohonan.


"Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Bryan tak mau dibantah.


"Bry!"


"Untuk kali ini kumohon menurutlah!" Jawab Bryan menatap Karina seperti anjing yang meminta belas kasihnya. Dan tatapan cinta dan rindu yang terlihat jelas membuat Karina tak mampu menolak karena dia juga masih sama.


"Masuklah! Minum obatnya secara teratur dan tepat waktu!" Titahnya saat dia sudah sampai di apartemen minimalis milik Karina yang masih sama.


"Terima kasih."


"Aku masih mencintaimu dan aku pun sangat merindukanmu." Ucap Bryan lirih saat Karina hendak menutup pintu apartemennya.


Tatapan mata Karina berubah sendu dan merasa bersalah saat mengingat dirinya sudah tidak suci lagi. Dulu dia bangga berani mencintai pria di hadapannya itu namun sekarang saat mengingat dirinya sudah 'kotor' Karina hanya mampu diam tidak seperti tadi seperti orang yang masih memiliki cinta yang besar pada pria di hadapannya ini.


"Selamat malam." Jawab Karina menutup pintu apartemennya rapat dan terdiam seolah menunggu suara langkah Bryan meninggalkan pintu apartemennya.


"Kumohon, tunggu aku sebentar lagi!" Ucap Bryan lagi dari balik pintu. Meski Karina tak mengerti apa maksud ucapan Bryan namun air matanya tidak bisa dibendungnya lagi.


Tubuh Karina merosot ke bawah begitu mendengar langkah Bryan menjauh dari pintu. Dia ingin meraih pria itu, pria yang masih sangat dicintainya. Namun kondisi tubuhnya melarang dia untuk menahan, dia sudah tidak pantas untuk pria baik hati itu. Ucapan ibu pria itu terbukti kalau dirinya memang tidak memiliki derajat sosial yang pantas untuk pria sempurna seperti Bryan.


"Maaf... Maafkan aku... Maaf... Aku juga ingin mengatakan yang sama... tapi maaf... Aku harus mematahkan semuanya... Maaf.." Suara isakan tangis pilu yang terasa sesak di dada Karina membuat wanita itu terpuruk sendiri di dalam apartemennya tanpa seorang pun tahu kesedihan yang begitu dalam di hatinya.


"Hiks...hiks...huhuhu..hiks...hiks..."


Flashback off


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2