
Tok tok tok
"Masuk!" Titah Arwana mendengar pintu ruang kerjanya yang ada di mansion diketuk dari luar.
Cklek
Arwana mendongak menatap arah pintu ingin tahu siapa yang mengetuk pintu ruang kerjanya malam itu.
"Papi sibuk?" Tanya Bryan yang ternyata mengetuk pintu.
"Masuklah nak!" Titah Arwana dengan tersenyum merasa putranya mulai membuka hatinya untuknya setelah pasca putusnya hubungan dengan Karina.
Bruk
Bryan menutup pintu rapat, dia pun masuk ke dalam melihat papinya juga ikut berdiri dan duduk di sofa tunggal di dalam ruang kerjanya.
"Duduklah! Wajahmu masih terlihat pucat, kau baik-baik saja?" Tanya Arwana dengan wajah cemas, sudah dia hari ini Bryan sakit karena jarang makan karena tidak berselera sama sekali.
Arwana tahu apa penyebabnya, karena putusnya hubungannya dengan Karina. Arwana menghela nafas panjang mengingat kejadian itu. Tapi Bryan benar-benar menutupi rasa sakitnya meski Arwana tahu, selama demamnya, Bryan terus menerus menyebut nama Karina dengan diikuti kata maaf dan jangan tinggalkan aku.
Hati Arwana mencelos mendengar langsung igauan putranya itu saat dia mengunjungi malam-malam untuk melihat kondisi tubuhnya. Meski sudah dirawat oleh perawat karena masih marah pada istrinya dan tidak mau dirawat istrinya, tapi Arwana sungguh-sungguh sangat menyesali membuat hubungan mereka putus.
"Aku.. Baik." Jawab Bryan singkat sambil tetap menunjukkan senyumnya yang tidak sampai ke mata. Bibirnya yang pucat masih terlihat dan wajah penuh rasa kesenduan yang mendalam. Arwana bisa menebak, putranya tersebut sangat mencintai Karina.
"Tapi kau tetap harus makan teratur dan jaga kondisi kesehatanmu!" Ucap Arwana yang hanya diangguki Bryan.
Keduanya pun terdiam tak ada percakapan lagi. Bryan sendiri bingung mau memulai pembicaraan dari mana. Apalagi Bryan yang memang datang menghampiri dirinya di ruang kerjanya. Arwana juga diam, tak memaksa Bryan untuk apa maksud kedatangannya ke ruangannya.
"Bryan... Ingin masuk kantor papi, bisa?" Ucap Bryan akhirnya setelah lama saling terdiam. Arwana menatap lembut pada Bryan mencari sesuatu di wajah putranya yang sedang mengutarakan keinginannya.
"Tentu saja. Kau mau masuk kapan? Aku akan mengenalkanmu pada para pemegang saham sebagai pewarisku." Jawab Arwana tersenyum senang karena akhirnya putranya mulai mengikuti sarannya.
__ADS_1
"Tidak. Cukup aku menjadi karyawan biasa... Aku..."
"Tidak Bry, bagaimana pun juga kau adalah putraku sudah sepatutnya kau menjadi penerusku."
"Tapi, aku bukan..."
"Apapun yang terjadi kau tetaplah putraku juga. Jadi... papi yakin kau mampu melakukannya." Jawab Arwana membuat Bryan tersenyum tulus mesti sedikit memaksa.
"Terima kasih Pi." Jawab Bryan.
"Tentu saja, kau tidak usah sungkan juga."
"Oh ya, kapan kau akan mulai masuk? Aku akan mempersiapkan semuanya." Ucap Arwana lagi.
"Besok pagi Pi."
"Besok pagi?" Ucap Arwana mengernyitkan dahinya.
"Bukankah kau belum sembuh benar? Wajahmu masih pucat nak?" Ucap Arwana cemas.
"Aku baik-baik saja Pi, aku tak mau terlalu larut dalam perasaanku. Jadi, aku mau mulai bekerja untuk melupakan semuanya." Jelas Bryan.
"Apa tidak menunggu sampai kau benar-benar sehat?"
"Aku sudah sehat Pi, sungguh?" Arwana terdiam mendengar jawaban yakin namun dia tidak yakin saat melihat kondisi wajah Bryan.
"Baiklah kalau menurutmu seperti itu. Tapi, jik kau merasa tidak enak badan kau harus istirahat, mengerti?"
"Tentu Pi, terima kasih."
"Kau adalah putra papi. Jangan dengarkan apa kata orang di luar sana! Apapun yang terjadi kau jug putra papi."
__ADS_1
"Terima kasih Pi." Jawab Bryan tersenyum merasa diperhatikan oleh papi tirinya itu.
.
.
"Duduk!" Titah Rey saat berhasil membawa Karina masuk lagi ke dalam gedung perusahaannya. Dan kini keduanya ada di ruang kerja Rey duduk berhadapan di sofa.
Karina diam, dia masih kesal dengan perlakuan para pekerja Rey yang memperlakukannya seperti seorang penipu. Dan tatapan seluruh karyawan juga tak ada yang berani membantunya untuk mendapatkan keadilan malah melihat aksi mereka di depan lobi. Selain marah dan kesal, Karina juga sangat malu. Karina pun duduk di sofa di depan Rey duduk.
"Maaf."
"Ya?" Karina sontak mendongak menatap Rey karena tadi di menundukkan kepalanya masih sangat kesal.
"Maaf atas perlakuan para karyawanku tadi, aku lupa tidak memberitahu semuanya atas kedatanganmu. Bahkan juga kedatanganmu kemarin." Ucap Rey panjang lebar yang memang jarang sekali Rey bicara seperti itu pada siapapun bahkan minta maaf bukanlah hal yang ada di kamus Rey yang terkenal dingin dan kejam.
Namun sekarang, di hadapan wanita yang dikaguminya dan dicintainya sejak masa kuliah dulu, dia runtuh dan memilih untuk merendahkan dirinya karena tak mau kehilangan kesempatan untuk dekat dengan gadis itu.
"Aku... Juga minta maaf... Aku yang bodoh tidak menghubungimu dulu. Hanya saja mereka tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan ataupun menghubungimu sebagai bukti kalau aku bukan seorang penipu seperti apa yang mereka tuduhkan." Jelas Karina panjang lebar merasa dia juga bersalah.
"Jadi, kau sudah siap?" Tanya Rey tersenyum tipis sangat tipis sampai Karina tidak menyadari senyum itu karena senang, gadisnya memang orang yang baik hati. Tidak serta merta dendam pada orang yang sudah menyakitinya. Dan Rey sudah mengenal hal itu semua.
"Si-siap... Untuk apa?" Tanya Karina dengan wajah bodohnya karena merasa tak paham. Rey menghembuskan nafas kasar.
"Tentu saja untuk bekerja, apa lagi?" Seru Rey tidak sabaran membuat nyali Karina menciut membuat Rey menyesali ucapannya terbawa emosi.
"Maaf."
.
.
__ADS_1
TBC