Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 54


__ADS_3

Karina melirik bosnya yang sudah menjadi suaminya kini terdiam menatap tablet pekerjaannya. Jalan yang dilalui bukan menuju ke kantor namun ke arah lain jauh ke luar kota membuat Karina hendak bertanya namun ragu karena Rey terlihat sibuk.


"Tuan?" Cicit Karina ragu namun berusaha memberanikan diri.


"Hmm." Jawaban Rey hanya berdehem tanpa memalingkan wajahnya dari tabletnya.


"Kita akan kemana?" Tanya Karina.


"Kau akan tahu nanti." Jawaban Rey tak membuat Karina puas.


"Apa kita tidak kembali ke kantor? Pekerjaanku sangat banyak." Ucap Karina beralasan.


"Tidak. Ima akan menyelesaikannya nanti." Jawab Rey.


"Tapi, tas dan ponselku masih di kantor." Ucap Karina lagi terdengar merengek.


Rey menghela nafas dan memalingkan wajahnya menatap Karina yang memelas. Bukan tak mau Rey menatap wajah Karina namun dia sedang menahan diri untuk tidak kebablasan untuk menyerang wanita yang sudah menjadi istrinya beberapa menit lalu.


"Aldi akan mengantarkan ke apartemen nanti." Jawaban Rey membuat Karina terdiam.


"Kemana kita sekarang? Aku lapar." Bersamaan dengan itu perut Karina berbunyi membuat wajah Karina memerah karena malu namun dia memang benar-benar lapar. Tadi dia ingin makan siang saat diiseret Rey ke kantor catatan sipil.

__ADS_1


"Berhenti di restoran depan!" Titah Rey pada sopirnya sambil menyembunyikan senyumnya karena mendengar suara perut Karina namun dia lebih merasa bersalah karena melupakan hal itu.


"Baik tuan."


Sopir langsung membelokkan mobilnya dan berhenti di parkiran mobil di restoran tersebut. Rey segera menghentikan pekerjaannya yang memang menumpuk sejak ditinggalkannya ke Beland* mengurus pekerjaannya disana, tidak! Bukan mengurus, lebih tepatnya melarikan diri dari Karina.


"Ayo!" Ajak Rey mengulurkan jemari tangannya menyambut Karina untuk keluar dari dalam mobil membuat tubuh Karina membeku mendapat perlakuan manis dari seorang Reynaldi seorang pria dingin dan datar tanpa ekspresi.


"Te-terima kasih." Jawab Karina menerima uluran tangan Rey dengan ragu.


Mereka pun duduk di kursi dekat jendela, seorang pelayan mendatangi mereka menyodorkan buku menu untuk memesan makanan. Karina sontak menutup buku menu melihat harga makanan yang menurutnya sangat mahal untuknya apalagi dia sedang tidak membawa ponsel dan dompetnya.


"Kau mau pesan apa?" Tanya Rey setelah menyebutkan nama pesanannya dan dicatat oleh pelayan.


"Hmm?"


"Aku tidak membawa dompetku?" Bisik Karina membuat Rey tak bisa mendengarnya.


"Apa?" Tanya Rey lagi.


"Issh." Kesal Karina langsung menarik dasi Rey agar mereka sedikit lebih dekat. Rey tentu saja terkejut langsung melotot karena wajah Karina berada di depannya terlalu dekat bahkan hembusan nafasnya terasa sampai ke leher Rey membuat tubuhnya membeku dan menjadi tidak fokus selain menatap ceruk leher Karina yang putus mulus.

__ADS_1


Sesaat bayangan malam itu terlintas di benak Rey yang begitu buas dan liar menyerang tubuh Karina dengan menyesapi setiap jengkal tubuh Karina dengan penuh nafsu dari obat yang diminumnya saat itu. Pangkal tubuhnya menegang tidak pada tempatnya membuat pipi hingga telinganya memerah menahan hasratnya yang sudah di ubun-ubun.


"Tuan!" Panggil Karina yang melihat Rey diam saja.


"Eh .. Iya?" Tanya Rey gelagapan segera membuang pandangannya ke arah lain karena malu.


"Anda mendengar saya?" Tanya Karina menatap Rey bingung.


"A-apa?" Jawab Rey merasa bodoh dengan pertanyaannya karena tadi dia memang tidak mendengar apa yang dikatakan Karina bahkan pelayan terlihat menahan tawa melihat tingkah Rey yang langsung melotot pada pelayan tersebut yang tengah merinding karena takut dengan pelototan tajam Rey.


"Pesanlah, aku yang traktir! Aku ke toilet sebentar." Pamit Rey terlihat terburu-buru.


Karina hanya mengedikkan bahunya acuh merasa sudah mendapatkan jawaban yang diinginkannya, dia pun memesan makanan yang mengenyangkannya karena dia benar-benar sangat lapar.


Di sisi lain, Rey sedang berdiri di depan wastafel toilet di restoran menatap wajahnya yang memerah karena malu. Dia melirik adik kecilnya yang berdiri tegak di bawah sana membuat wajah Rey semakin memerah karena malu.


"****." Umpat Rey kesal sekaligus malu karena adik kecilnya yang baper.


"Rileks Rey." Gumannya masih di depan kaca toilet sambil meredakan adik kecilnya agar lebih tenang karena tak mau Karina tahu dan melihat celananya yang sedang membumbung di bawah sana.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2