
Cklek
Bryan membuka pintu ruang CEO kasar tanpa permisi. Tadi setelah dari ruangan HRD Bryan langsung berlari ke kantin kantor untuk mencari Arwana namun dia tidak menemukannya di kantin. Dari yang dia tahu saat bertanya pada salah seorang karyawan yang kebetulan melintas Arwana sudah kembali ke ruangannya di lantai sepuluh.
Tanpa ba bi bu lagi Bryan langsung berlari ke lift untuk menuju lantai sepuluh tempat ruang kerja CEO berada.
Dan disinilah Bryan sekarang masuk ke dalam ruang CEO yang sudah ada Arwana disana mendongak menatap Bryan yang datang dengan nafas terengah-engah.
"Apa papi tahu?" Tanya Bryan dengan nafas yang masih sedikit ngos-ngosan menatap Arwana dengan tatapan sendu penuh harap.
Arwana berdiri dan duduk di sofa dekat meja kerjanya.
"Duduklah!" Pinta Arwana setelah menghela nafas panjang. Dia sudah menebak apa yang diinginkan dari pertanyaan Bryan saat ini. Dia sendiri juga bisa tahu kalau hal ini pasti akan diketahui Bryan cepat atau lambat.
Bryan masih terdiam menenangkan nafasnya yang ngos-ngosan. Menatap Arwana dalam yang terlihat tenang seolah dia sudah tahu kalau hal ini akan terjadi. Bryan memilih menurut dan duduk diam di sofa yang terdekat dengannya berdiri saat ini, berhadapan dengan Arwana yang duduk di sofa tunggal.
"Yang mana yang ingin kau ketahui?" Tanya Arwana setelah keduanya lama terdiam saling menatap hingga Arwana kembali menghela nafas kasar.
"Semuanya." Tegas Bryan karena dia tahu Arwana tidak akan bicara jika tidak ada yang bertanya langsung padanya hal apapun itu. Meski Arwana tahu hal yang dilakukan oleh siapapun di belakangnya, Arwana akan menunggu dalam diam dan mulai tampil jika dia memang diperlukan.
"Mamimu sangat menyayangimu. Kau tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pada mamimu. Papi pun turut andil melakukan kesalahan karena tidak mencegahnya." Jelas Arwana menjeda ucapannya sambil menghela nafas panjang.
Bryan terdiam masih mencerna dan memilih untuk menunggu lanjutan cerita Arwana.
"Bukan hanya karena status sosial Karina yang membuat mamimu tidak merestui hubungan kalian tapi lebih ke satu hal yang lebih pribadi." Arwana menatap Bryan melihat reaksi putranya.
"Apa karena wajah Karina yang mirip mantan istri papa yang telah meninggal?" Pertanyaan Bryan membuat Arwana terkejut dan menatap Bryan shock.
"Kau tahu?"
__ADS_1
Bryan menganggukkan kepalanya yakin mengusap wajahnya kasar. Rasa bersalah menggelayutinya, semua yang terjadi pada Karina semua karena salahnya. Salahnya karena dia terlalu mencintai gadis itu. Dia sekarang semakin yakin, mengakhiri hubungannya dengan gadis itu adalah pilihannya yang tepat. Kalau tidak, dia tidak tahu hal nekat apalagi yang akan dilakukannya pada Karina.
Bahkan maminya mampu melakukan apapun sampai ke titik terendah orang yang pernah membuat kesalahan. Dan sekarang maminya sedang menargetkan Karina hanya karena perasaan mereka yang tertaut.
"Apa papi selemah itu untuk melindungi Karina?" Tanya Bryan menatap Arwana dingin membuat Arwana menampakkan raut wajah bersalahnya.
"Mungkin papi terlalu bodoh karena mencintai mamimu sehingga tak sanggup melakukannya demi wanita yang dicintainya." Jawaban Arwana menohok hati terdalam Bryan. Bahkan dia merasa bodoh dan bersalah karena terlambat melindungi gadis yang dicintainya. Tapi sekarang dia akan berusaha melupakannya demi dia bahagia di luar sana.
Bryan berdiri membuat Arwana bingung karena hanya diam dan melangkah menuju kursi tempat Arwana duduk tadi.
"Aku pinjam kursi papi." Pinta Bryan yang tidak membutuhkan jawaban tidak.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Arwana masih menatap sendu Bryan.
Bryan fokus menatap laptop tersebut untuk segera mempelajari proyek yang dijadikan tantangan untuknya demi membuktikan bahwa dia pantas dan mampu menjabat sebagai CEO yang menggantikan papinya.
"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Bryan dengan nada datar dan dingin tak peduli dengan siapa dia bicara saat ini, hatinya sedang kalut dan dia memilih melarikan diri dengan mempelajari proyek tersebut karena dalam benaknya bertekad untuk mencari kekuasaan di atas segalanya untuk melindungi gadisnya sehingga dia nanti bisa mendapatkannya tanpa halangan apapun meskipun dari maminya.
.
.
Karina sendiri sudah mulai terbiasa dan mampu menjadi seorang sekretaris profesional seperti kebanyakan sekretaris. Tapi dia kesal kadang Rey memberi perintah di luar nalar dan seenak jidatnya.
Seperti sekarang, Karina sedang sibuk membuat sarapan atau lebih tepatnya bekal untuk dibawa ke kantor untuk sarapan Rey yang menyuruhnya menyiapkan sarapan setiap harinya hasil masakan Karina sendiri. Hal itu berawal saat Rey melihat Karina yang sedang makan siang di mejanya tidak ke kantin kantor seperti biasanya dan Rey menatap penuh minat makanan Karina saat itu.
Dia sudah lama tidak makan makanan rumahan karena tinggal di apartemen. Biasanya dia tinggal di mansionnya, meski tidak ada orang tua tapi ada bi Ijah yang selalu memasak makanan rumahan untuknya membuat Rey antusias untuk makan.
"Awas saja nanti dia tidak memberiku uang lebih untuk makanan-makanan ini!" Omel Karina sambil mengerjakan membuat nasi goreng favorit Rey.
__ADS_1
Namun hati Karina mendadak melow mengingat kebersamaannya dengan Bryan dulu. Dia juga sering membawakan bekal untuknya saat kuliah dan makan siang berdua di taman kampus yang terlihat mesra membuat siapapun yang melihatnya iri.
Bahkan ada yang meledeknya seperti pasangan suami istri yang sedang menjadi pengantin baru. Hal itu tidak membuat keduanya tersinggung, mereka malah mengamininya.
Tin tin
Suara bel mobil di depan lobi apartemen Karina membuat Karina mengernyit bingung siapa gerangan yang membunyikan bel mobil dengan lantang.
Pintu jendela terbuka bagian kemudi membuat Karina mengernyit merasa dia lah yang dimaksud orang yang ada di mobil itu.
"Tuan Rey!" Seru Karina tak percaya dengan seseorang yang muncul dari dalam jendela mobil mewah itu. Bukan hanya terkejut dengan mobil mewah itu tapi lebih ke terkejut melihat Rey mengendarai sendiri mobilnya tanpa sopir.
"Ck ck ck panggil namaku kalau lagi berdua!" Protes Rey berdecak kesal.
"Maaf tuan, itu tidak mungkin." Jawab Karina sopan. Dia masih sadar dengan siapa di berurusan. Bopsnya di kantor. Dia sedikit trauma berhubungan dengan orang yang mempunyai kekuasaan tinggi dan orang kaya.
"Mau aku potong gajimu?"
"Tuan, anda tidak bisa melakukannya pada bawahanmu ini." Ucap Karina ganti protes.
"Ini perintah!!" Tegas Rey membuat Karina diam tak berkutik.
"Apa yang anda lakukan disini?" Tanya Karina mengalihkan pembicaraan. Rey kembali terlihat kesal.
Apa dia memang tidak sepeka itu? Batin Rey masih menatap Karina yang hanya menunjukkan senyum polosnya menunggu jawaban Rey.
"Aku ada urusan di sekitar sini. Cepatlah masuk!" Titah Rey tak mau dibantah yang ingin dibantah Karina tapi tatapan tajam Rey membuat nyali Karina lagi-lagi menciut karena semua perintah Rey bersifat mutlak tak mau dibantah. Karina pun masuk ke dalam mobil duduk di sebelah Rey yang mengemudikan mobilnya.
.
__ADS_1
.
TBC