
"Ehm.." Rey berdehem kencang saat dia sudah masuk ke dalam supermarket. Dia tak tahan karena melihat senyum Karina yang terus diumbar pada pengunjung supermarket. Dia tahu betul pengunjung tersebut hanya sedang menggoda Karina dan dia juga tahu Karina tidak nyaman dengan pengunjung yang tak segera pergi itu ditambah tak ada lagi antrian di belakangnya di meja kasir.
Hati Rey panas secepatnya ingin menyingkirkan pria itu. Dia pun bergegas turun dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam supermarket.
"Selamat malam, selamat belanja!" Sapa Karina ramah seolah mendapatkan angin segar ada pengunjung datang di saat jam malamnya akan berakhir. Rekan pria nya tadi sedang di toilet merasakan perutnya mulas, jadi dia terpaksa sendiri menjaga meja kasir.
"Itu..." Rey menunjuk asal tanpa menatapnya karena menatap pria pengunjung supermarket yang menggoda Karina itu, dan tunjukkan asalnya membuat keduanya melotot tak percaya dengan apa yang ditunjuk Rey.
"Bukankah... " Karina juga tidak melanjutkan perkataannya saat tahu apa yang ditunjuk oleh Rey.
"Aku mau itu." Ucap Rey lagi membuat entah kenapa tatapan Karina menajam padanya dan meremehkan.
"Apa anda yakin?" Tanya Karina dengan nada ramah yang dibuat-buat.
"Tentu, berikan aku dua... tidak empat eh... lima.. Ah...arrghh..." Karina yang mendengar perkataan Rey yang plin plan sontak tercengang. Rey yang tiba-tiba berteriak membuat keduanya terkejut, pria tadi dan Karina.
"A-ada apa tuan?" Tanya Karina terkejut.
"Bukan itu.. bukan kond*m. Itu... ****." Rey tak percaya dengan dirinya yang terlihat bodoh saat di depan Karina. Bahkan dia bingung bicara, padahal dia terkenal kejam dan dingin pada rekan bisnisnya. Dia benar-benar tidak berkutik di depan Karina.
"Apa anda masih belum pergi?" Tanya Rey tajam menatap pria tadi dingin.
"Oh... Ah... Eh.. Sa-saya sudah." Pria tadi langsung ngacir pergi meninggalkan supermarket membuat Karina juga menghembuskan nafas lega.
"Kita tutup sekarang mbak?" Suara pria menginterupsi dari dalam ruang karyawan membuat Karina dan Rey sontak menoleh menatap pemuda rekan kerja Karina.
"Eh...maaf mbak, saya kira sudah tidak ada pelanggan." Pemuda itu tampak merasa bersalah karena posisi Rey tertutup rak pajangan barang.
"Kau akan pulang sekarang?" Tanya Rey sudah tidak formal lagi.
__ADS_1
"Maksud anda tuan?" Tanya Karina tak mengerti kenapa pria yang merupakan mantan rekan bisnis perusahaan tempatnya bekerja dulu bertanya dengan sikap informal padanya. Mereka kan tidak sedekat itu.
"Aku tunggu diluar." Tegas Rey penuh intimidasi dan tidak mau dibantah.
"Tap..." Karina belum selesai bicara tapi Rey sudah pergi begitu saja.
.
.
"Ada urusan apa tuan mencari saya?" Tanya Karina basa-basi karena sejak tadi Rey diam tak bicara apapun hanya menatap kopi pesanannya dan menyeruput sedikit demi sedikit seolah sedang menikmati waktu minum kopinya.
"Kenapa kau tidak datang?" Tanya Rey mendongak menatap Karina dengan wajah datarnya. Rey sudah meletakkan kopinya.
Kini mereka berdua duduk di sebuah cafe tak jauh dari apartemen Karina.
"Perusahaan XXX. Bukankah kau dapat panggilan interview disana?" Jelas Rey tanpa basa-basi.
"Oh... Ba-bagaimana... Ah... Bukankah anda CEO perusahaan XXX? Ah, kurasa kita sudah tidak ada urusan lagi karena saya sudah tidak bekerja di perusahaan lama." Jawab Karina ingat tentang Rey.
"Kau benar-benar tidak datang tadi?" Bukannya menjawab pernyataan Karina namun Rey bertanya hal yang sama seperti di awal tadi.
"Maaf sebelumnya... Saya tidak pernah memasukkan surat lamaran kerja pada perusahaan tersebut. Dan kurasa panggilan telepon tadi seseorang yang berniat menipu saya." Jawab Karina tegas. Dia tidak tahu apa motif Reynaldi menemuinya, padahal dia sudah tidak bekerja lagi di perusahaan ABC, perusahaan yang sempat bekerja sama dengan melibatkan dirinya disana.
"Jadi kau menganggapku penipu?" Tanya Rey menatap tajam Karina tak suka dengan ucapan Karina.
"Eh.. Maksud an.... Ah, jadi tadi anda menghubungi saya?" Tanya Karina seolah mulai paham dengan pertanyaan Rey sejak tadi.
"Ya."
__ADS_1
"Ta-tapi bukankah perusahaan anda tidak sedang membutuhkan karyawan baru?"
"Siapa yang bilang? Aku yang akan memperkejakanmu, aku tahu betul butuh dan tidaknya." Jawab Rey tegas.
"Tapi..."
"Temui aku besok disana! Katakan Reynaldi yang memintamu langsung kesana." Titah Rey tegas menatap Karina tajam meski bukan itu alasan utama Rey. Dia terlalu gugup menghadapi Karina dan oleh sebab itu dia bersikap seperti saat bekerja, datar dan dingin.
"Tap..."
"Tidak ada bantahan. Betapa bodohnya orang yang memecat karyawan nyaris sempurna sepertimu." Ucap Rey lagi membuat wajah Karina memerah malu karena pujian pria di hadapannya itu.
"Eh..." Rey pura-pura menyeruput lagi kopinya yang mulai mendingin.
"Ayo pulang!" Ajak Rey tiba-tiba berdiri dari duduknya membuat Karina gelagapan karena ajakan pulang Rey.
"Sa-saya bisa pulang...." Belum selesai Karina bicara, tatapan tajam Rey membuat nyali Karina menciut.
"Ba-baik tuan." Jawab Karina akhirnya berdiri mengikuti langkah Rey keluar dari cafe.
Kok aku dengan mudahnya menurut, bukankah aku belum menjadi karyawannya? Tapi ucapannya seolah aku sudah seperti karyawannya. Batin Karina berkecamuk merasa bingung sendiri.
Rey diam-diam tersenyum tipis merasa rencananya berhasil untuk mendekati Karina.
.
.
TBC
__ADS_1