Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 35


__ADS_3

Karina membuka matanya perlahan, dia menatap kamar yang terasa asing untuknya hingga ingatannya terlintas kalau dia semalam tertidur di ranjang ruang kerja bosnya.


Karina sontak bangun saat ingatan itu terlintas dan menatap ke sisi ranjang, Rey masih mendekapnya erat dengan lengannya melingkar di perutnya. Seperti pasangan suami istri yang tidur bersama. Karina menyentuh dahi Rey perlahan tak mau mengganggu tidurnya.


"Sudah tidak panas." Guman Karina segera beranjak dari ranjang setelah menyingkirkan lengan Rey dari atas perutnya meletakkan perlahan juga di ranjang.


Karina segera masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu untuk membersihkan dirinya meski dia juga bingung karena tak membawa baju ganti.


Yang tidak diketahui Karina, Rey ternyata sudah bangun sejak tadi bahkan sebelum Karina bangun. Terbukti sekarang senyum lebar yang tak pernah ditampakkan Rey di depan siapapun tersungging di bibirnya membuatnya bahagia.


"Hangat." Guman Rey sambil menyentuh tangan dan dahi yang sempat disentuh Karina tadi.


Saat bangun tadi, Rey terkejut juga karena ada Karina yang ada disisinya yang dipeluknya posesif. Entah kenapa Rey menyukai wajah tidur Karina yang polos dalam dekapannya membuat Rey lupa diri hingga mengecup pipi Karina spontan hingga membuat Karina mengerang membuat Rey refleks menutup matanya lagi pura-pura terlelap lagi dan berharap Karina tak menyadari kecupannya.


Dan ternyata tak tahu hal itu hingga Karina masuk ke dalam kamar mandi membuat Rey senyum-senyums sendiri dan segera meraih ponselnya untuk menyuruh Bernard mengantar pakaian kantor untuk Karina.


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka sedikit bersamaan dengan Rey baru saja mematikan panggilannya pada Bernard juga berbalik menatap arah pintu kamar mandi dan Karina melongokkan kepalanya saja keluar dari pintu.


Namun tatapan mereka tanpa sengaja bertemu membuat wajah Karina memerah karena malu melihat Rey sudah terbangun dari tidurnya. Keduanya saling menatap dan saling diam tak tahu ingin bicara apapu, Karina sendiri niat hati ingin mengintip bosnya sudah bangun atau belum hingga dia akan memutuskan untuk keluar dari dalam kamar mandi jika Rey belum bangun.


Namun situasi sekarang membuat akrward hingga keduanya bersamaan membuang pandangan ke arah lain.


"Bernard akan mengantarkan pakaianmu sebentar lagi." Beri tahu Rey dengan nada datarnya langsung keluar dari kamar pribadinya memberi ruang pada Karina untuk memecah kecanggungan keduanya.


Tok tok tok


Bersamaan dengan Rey keluar dari dalam kamar, pintu ruang kerjanya diketuk dari luar yang langsung dihampiri Rey.


Cklek


"Ini yang anda minta tuan." Ucap Bernard menyerahkan paper bag yang dibawanya sesuai pesanan bosnya. Rey menerimanya dan mengintip sebentar ke dalam paper bag yang diterimanya dan hanya berdehem tanda iya.

__ADS_1


"Tuan muda baik-baik saja?" Tanya Bernard yang tahu betul apa yang terjadi dengan bosnya itu tentang rasa sakit yang tidak bisa disembuhkan setiap tahunnya oleh dokter sekalipun.


"Aku baik." Tegas Rey segera menutup pintu ruang kerjanya tanpa mengizinkan Bernard mengintip ke dalam.


Bernard menghembuskan nafas panjang saat melihat bosnya baik-baik saja. Padahal biasanya setiap waktu semalam, paginya bosnya akan merasa lemas tak bertenaga di pagi hari. Dan sekarang Bernard hanya mampu bersyukur bosnya baik-baik saja malah terlihat segar dan bugar.


Ya, semalam Bernard lupa tentang malam itu sehingga tidak mengecek keadaan bosnya karena tak mendengar sejak lama bosnya kembali kambuh. Dan pagi tadi dia baru ingat dan segera bergegas ke kantor namun panggilan Rey membuatnya berhenti sejenak untuk mengangkatnya.


Dia kira bosnya akan mengeluh kesakitan seperti sebeluml-sebelumnya namun Bernard terdiam membeku saat mendengar permintaan bosnya untuk membawakan stelan pakaian kantor untuk sekretarisnya Karina sekaligus ********** yang dikatakan sangat detail ukurannya oleh bosnya membuat Bernard melongo.


"Apa yang mereka lakukan semalam? Tak mungkin kan bos menyerangnya?" Itulah yang ada di benak Bernard dan membuatnya segera menuju butik milik nyonya besar, oma tuan Rey.


.


.


"Ini!' Rey menyodorkan paper bag tadi pada Karina setelah mengetuk pintu dan Karina mengiyakan untuk masuk kembalil ke dalam kamar pribadinya.


"I-ini?" Tanya Karina yang belum mengerti apa maksud Rey menyodorkan paper bag yang belum dia tahu apa isinya.


"Terima kasih. Saya bisa kembali ke hotel sebentar untuk ganti baju." Tolak Karina menolak paper bag tersebut.


"Apa kau lihat aku mau dibantah?" Tegas Rey menatap Karina dengan sorot mata tajam tak mau apa yang dikatakannya dibantah.


"Oh.. Eh.. Te-terima kasih." Jawab Karina dengan canggung tak mampu menolak.


Karina kembali masuk ke dalam kamar mandi mengganti pakaiannya yang sudah dari kemarin dipakai. Rey sendiri tak berniat untuk keluar lagi dari dalam kamar terlihat dia malah duduk di sisi ranjang sambil mengutak-atik ponselnya acuh. Namun saat pintu kamar mandi tertutup, Rey tersenyum tipis menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


.


.


"Nak, Maafkan mami." Ambar kembali mengucapkannya pagi itu setelah Bryan selesai sarapan. Arwana hanya diam tak ingin ikut campur, dia hanya membiarkan istrinya berusaha sesuai kemauannya.

__ADS_1


"Aku berangkat." Ucap Bryan tanpa menjawab ucapan maminya. Entah kenapa dia sulit menjawabnya.


"Sepertinya dia tidak akan pernah memaafkanku."


"Masih terlalu dini, biarkan dia diam. Dia sedang konsentrasi untuk proyek tantangannya yang tinggal seminggu lagi. Meski sudah hampir seratus persen, para pemegang saham menuntut penyelesaian itu harus bersifat permanen." Jelas Arwana yang tahu tentang hal itu, bahkan dia sama sekali tidak membantu selain menjawab pertanyaan yang diajukan Bryan untuk referensinya. Bryan memang cerdas.


"Apa dia sudah kembali?" Tanya Bryan saat dalam perjalanan menuju perusahaan dengan Gio yang merangkap sebagai sopirnya jika berangkat ke kantor.


"Belum tuan muda." Jawab Gio lemah tak mau membuat tuannya kecewa.


"Berapa lama dia disana?" Tanya Bryan kesal.


"Informasi yang saya dapat seharusnya lima hari dan besok mungkin mereka sudah kembali, kecuali..."


"Kecuali apa?" Tanya Bryan tidak sabaran memotong ucapan Gio.


"Kecuali ada masalah yang mendadak, mungkin."


"****." Umpat Bryan semakin kesal saja.


"Kita sudah sampai tuan." Beri tahu Gio demi meredakan kekesalan Bryan. Gio membukakan pintu mobil untuk Bryan.


Bryan menghembuskan nafas kasar meredakan kekesalannya entah kenapa dia tidak rela Karina bepergian ke luar negeri begitu lama. Bukankah hubungan mereka sudah berakhir, seharusnya Bryan tak berhak untuk itu.


"Aku akan mengikatnya lagi nanti jika dia pulang." Guman Bryan saat di dalam lift menuju ke lantai tempat ruang kerjanya berada diikuti Gio yang terdiam di belakang Bryan.


"Apa nyonya besar akan diam saja?" Tanya Gio membuat Bryan terdiam.


"****!" Kesal Bryan.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2