
Mobil yang dikendarai Aldi telah sampai di basemen parkiran apartemen tempat pasangan itu tinggal. Karina keburu keluar sendiri dari dalam mobil, padahal Aldi sudah secepat mungkin keluar juga untuk membantu Karina dengan membukakan pintu mobil.
Perban luka di kepala Karina sudah di buka namun masih menyisakan sedikit plester di belakang kepala tepat luka itu berada. Bahkan kemarin dokter sempat membotak rambut Karina tepat di lukanya tersebut untuk dijahit.
Karina tidak keberatan toh itu tertutup dengan rambut panjangnya lagi saat sudah sembuh. Suaminya meminta maaf setelah Karina sadar dari tidurnya karena memberi izin pada dokter untuk dibotak rambutnya.
"Mari nona!" Ucap Aldi mempersilakan Karina untuk masuk ke dalam lift khusus pemilik apartemen yang mempunyai akses kartu. Karina hanya diam menurut tanpa bicara apapun. Aldi hanya menghela nafas merasakan kecanggungan yang amat sangat diantara mereka. Padahal dulu sebelum Karina menjadi istri bosnya, wanita ini bisa dikatakan cerewet atau banyak bicara. Entah tentang pekerjaan atau bicara hal-hal yang random. Seolah tidak kehabisan bahan pembicaraan.
Namun sekarang Karina terlihat berbeda dan seperti orang lain. Diam dan enggan bicara. Malah terlihat melamun dan memikirkan sesuatu. Aldi sendiri tak berani berkomentar banyak karena memang dasarnya dia pendiam tak banyak bicara jika bukan hal penting tentang pekerjaan.
Ting
Suara pintu lift terbuka, Karina segera keluar diikuti Aldi sambil menarik koper kecil Karina menuju unit apartemen.
Cklik
Tit
Cklek
"Kau pergilah!" Usir Karina meraih koper yang dipegang Aldi membuat Aldi tak mampu mencerna karena terlalu cepat dan pintu apartemen langsung ditutup tepat di depan muka Aldi membuat Aldi terkejut. Sedikit saja dia maju, pasti akan buruk wajahnya.
Aldi menghembuskan nafas panjang melihat kelakuan wanita istri bosnya.
Kenapa kelakuannya semakin mirip dengan bos? Apa karena sekarang mereka suami istri?
Batin Aldi menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dan pergi meninggalkan unit apartemen bosnya. Padahal bosnya tadi sudah berpesan padanya untuk memastikan kalau bosnya tiba di apartemen dengan selamat termasuk melihatnya masuk ke dalam kamar mereka.
Kalau sudah begini, Aldi tidak mungkin memaksa untuk masuk ke dalam meski ada bibi maid yang sudah ada di dalam unit. Dia akan menyerahkan hal itu padanya saja.
Belum juga Aldi jauh dari unit apartemen bosnya, ponselnya sudah berdering dan nama bosnya tertera di layar ponselnya. Aldi kembali menghembuskan nafas kasar, menyiapkan diri untuk diomeli bosnya.
"Ya tuan."
"Kau dimana?"
"Saya baru meninggalkan unit apartemen."
"Kau sudah memastikan dia baik-baik saja?" Tanya Rey di seberang ponselnya berbicara dengan nada cemas namun tidak dengan marah-marah. Hal itu malah membuat Aldi mengernyit heran karena bosnya terlihat berbeda akhir-akhir ini. Tepatnya tiga hari yang lalu saat bosnya itu pamit akan pergi ke Beland* sendiri tanpa siapapun membuat Aldi bertanya-tanya. Namun dia tak berani bertanya sejauh itu karena bosnya terlihat berbeda saat itu.
__ADS_1
"Kau berikan apapun keinginannya."
"Baik tuan."
"Kapan jadwalnya kontrol?"
"Tiga hari lagi tuan."
"Antar dia dan jangan biarkan dia berangkat sendiri! Pastikan dia kontrol tepat waktu!" Titah Rey tegas.
"Baik tuan."
"Kalau begitu..."
"Tuan!"
"..."
"Bagaimana kalau nyonya bertanya tentang anda?" Tanya Aldi ragu namun memberanikan diri untuk bertanya sebelum dia mengalaminya.
"Huff... Jawab saja seperti sebelumnya. Klik!" Rey langsung menutup ponselnya karena memang tidak ingin menjelaskan apapun. Aldi terdiam kesal menatap layar ponselnya yang sudah menghitam.
.
.
"Tuan, nona Karina sudah diizinkan pulang hari ini." Beri tahu Lucas saat dia meminta tanda tangan untuk berkas.
"Benarkah? Apa dia sudah sembuh?" Tanya Bastian antusias.
"Sepertinya begitu. Namun beliau harus kontrol tiga hari lagi." Jelas Lucas.
"Kapan?"
"Tiga hari lagi."
"Hmm." Bastian memegangi dagunya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Apa kau tahu dimana dia tinggal?"
__ADS_1
"Saya belum mendapatkan alamatnya tuan. Sepertinya seseorang sengaja menutup rapat tempatnya tinggal." Jelas Lucas yang memang tidak bisa menemukan dimana Karina tinggal. Orang mereka saja tadi terlambat mengikuti mobil yang menjemputnya dari rumah sakit.
"Bagaimana informasi dari Mira?"
"Mereka tetap bersikeras tutup mulut."
"Huff...siapa yang ada di belakangnya?"
"Saya akan menyelidikinya lebih lanjut tuan."
"Lakukanlah!"
"Saya permisi tuan."
Cklek
Lucas terdiam berdiri di depan pintu ruang kerja Bastian setelah menutup pintu. Dia tetap bertahan dengan ekspresi datar dan dinginnya saat sudah ada Reina berdiri tepat di tempat saat dirinya berbalik.
"Ada apa?" Tanya Reina yang mulai kesal melihat wajah datar Lucas yang bahkan tidak terkejut dia sudah berdiri di belakang pria itu.
"Permisi nona." Lucas hendak pergi namun Reina sepertinya tidak menyerah untuk mendesak apa yang sedang diperintahkan Bastian padanya tentang rahasia. Namun sepertinya sangat sulit merobohkan pertahanan kepercayaan pria dingin di hadapannya ini.
"Kau benar-benar tak akan mengatakannya padaku?" Tanya Reina sekali lagi mencoba membujuk Lucas namun hanya ditatap datar oleh pria itu.
"Maaf nona."
"Lucas?"
"Iya nona?"
"Lakukanlah demi pertemanan kita saat kuliah dulu!" Pinta Reina memelas menatap Lucas penuh harap dengan tatapan mata berbinar-binar.
"Maaf nona, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." Lucas mengelak membuat Reina kesal.
"Yak!" Serua Reina menatap Lucas kesal karena mengabaikannya.
.
.
__ADS_1
TBC