Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 15


__ADS_3

Waktu yang ditunggu-tunggu Rey tiba juga, jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Rey sudah gelisah berdiri dari duduknya menyiapkan jas kerjanya. Pekerjaannya sudah selesai sejak satu jam lalu. Namun dia harus menunggu Aldi masih mengarsipkan semua dokumennya.


Cklek


"Ayo!" Ajak Rey bersemangat bahkan Aldi hendak bicara namun langsung menutup mulutnya lagi menggelengkan kepalanya tak percaya melihat keantusiasan bosnya.


Aldi hanya mengikutinya dari belakang tak mematahkan semangat bosnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Aldi melirik bosnya yang terlihat salah tingkah padahal mereka belum sampai di tempat kerja Karina.


"Apa masih jauh?" Tanya Rey.


"Sebentar lagi."


"Hmm."


Lima belas menit kemudian.


"Apa masih jauh?"


"Sebentar lagi."


"Yak!" Seru Rey hendak marah namun mobil yang dikendarai Aldi berhenti yang artinya mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Rey segera melongok keluar jendela mobil menatap sekeliling tidak ada gedung kantor menjulang tinggi seperti gedung perkantoran. Lagi-lagi membuat Rey kesal hendak mengumpat Aldi. Namun suara Aldi menghentikan suara Rey.


"Sepertinya dia sudah keluar." Ucap Aldi mengikuti arah pandangnya.


Rey ikut menatap kemana mata Aldi melihat.


"Jadi, dia kerja di supermarket?" Tanya Rey yang sepertinya tak membutuhkan jawaban. Entah kenapa dia merasa kesal dan miris melihat pekerjaan Karina menjadi turun setelah sebelumnya menjadi seorang manager keuangan di perusahaan yang cukup terkenal milik ayahnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Rey masih mengikuti arah pandang Karina yang hanya berjalan kaki menuju ke sebuah apartemen sederhana tak jauh dari supermarket berada.


"Nona Karina di PHK karena alasan pribadi. Saya masih belum menyelidikinya lebih lanjut." Jawab Aldi.


"Bukankah supermarket ini milik anak perusahaan kita?"


"Benar tuan muda."


"Ikuti dia!"

__ADS_1


Aldi kembali melajukan mobilnya dengan sangat lambat karena Karina jalan kaki.


"Berhenti!" Aldi langsung menghentikan mobilnya. Saat Rey hendak keluar dari mobil, tiba-tiba Karina menghilang dari pandangannya membuat keduanya tadi yang hanya menoleh sesaat langsung kehilangan saat Karina hendak berbelok di gedung apartemen.


"Nona Karina menghilang tuan."


"Apa?" Sontak Rey langsung menoleh mencari-cari di sekitar tempat terakhir dia melihat Karina namun dicari seteliti apapun mereka tetap tak bisa menemukan kemana arah Karina menghilang.


"Apa dia diculik?" Tanya Rey cemas.


"Sepertinya tidak tuan, tak ada mobil atau kendaraan roda empat atau lebih yang ada di sekitar gedung." Jawab Aldi.


"Sial. Kau cari tahu semua tentangnya Al."


"Baik tuan."


"Kita mencarinya kesana tuan?"


"Aku akan kesana." Rey melanjutkan langkahnya dan pergi menuju apartemen tempat Karina menghilang.


"Tapi itu berbahaya jika tuan muda sendiri, apalagi kalau itu benar-benar penculikan." Cegah Aldi membuat Rey terdiam dan akhirnya memutuskan untuk pergi berdua ke apartemen tersebut.


.


.


Hingga tiba di belokan mulutnya langsung dibekap seseorang yang tidak sempat Karina berteriak. Dan seseorang itu langsung membawanya ke lorong sepi di sekitar dia membekapnya. Saat Karina hendak melakukan perlawanan punggung Karina didorong ke dinding dan seseorang itu langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya tanda untuk Karina agar diam.


"Bry!" Guman Karina masih dalam bekapan orang itu yang ternyata Bryan, kekasihnya.


Bryan membuka bekapannya setelah kekasihnya tahu dirinya yang membekapnya. Bryan terpaksa melakukannya karena dia diawasi oleh maminya di setiap gerakannya. Tadi saja dia kabur dari kamarnya dibantu papinya dan harus segera kembali.


"Bry!" Ucap Karina sambil memeluk erat tubuhnya.


"Aku merindukanmu sayang." Bisik Bryan sambil mengecupi leher jenjang Karina dalam pelukan eratnya. Sungguh hal ini sangat menyiksanya.


"Kenapa kita harus bersembunyi?" Tanya Karina setelah mengurai pelukannya.


"Aku merindukanmu, aku sudah tidak sabar bertemu denganmu." Jawab Bryan beralasan.


"Bagaimana?" Tanya Karina membuat Bryan terdiam seolah tahu pertanyaan Karina.

__ADS_1


"Maaf.. Aku masih berjuang, tapi aku yakin akan berhasil. Papi membantuku." Jawab Bryan yakin. Namun Karin hanya tersenyum miris dan getir karena hubungan mereka tidak akan berhasil.


"Percayalah! Aku hanya mencintaimu, aku hanya ingin menikahimu." Ucap Bryan yakin kembali memeluk erat Karina. Namun Karina hanya terdiam, dia juga tak mengatakan apapun tentang pemecatannya di perusahaan.


"Kau dari mana saja?" Tanya Bryan melihat Karina masih berada di luar, jalan kaki dan malam-malam begini.


"Oh.. Ah... Aku dari supermarket disana, membeli sesuatu." Jawab Karina gugup berusaha mengurangi.


"Ayo ke atas!" Karina menarik jemari tangan Bryan namun Bryan hanya terdiam di posisinya.


"Kenapa?" Tanya Karina mengernyit.


"Maaf sayang, aku harus segera kembali." Sesal Bryan menatap sendu pada kekasihnya. Karin hanya terdiam menghela nafas kecil tak mau menunjukkan kekecewaannya.


"Baiklah. Hati-hati!" Jawab Karina berpura-pura tersenyum untuk memperlihatkan dirinya baik-baik saja.


"Maaf, aku akan menemuimu nanti." Hibur Bryan membelai rambut lembut kekasihnya merasa bersalah.


"Tak masalah, aku tidak apa-apa." Jawab Karina tersenyum manis.


"Aku mencintaimu. Kumohon jangan berhenti berjuang tentang kita." Pinta Bryan mengusap bibir merah mungil Karina.


"Aku juga mencintaimu." Balas Karina menatap penuh arti pada Bryan.


Bryan mencium bibir mungil Karina yang sejak tadi mengganggu pandangan mata dan dia ingin melahapnya segera. Hingga kini mereka ciuman mesra, memagut, saling mel**at. Begitu juga Karina membalasnya dengan tak kalah bersemangat hingga lidah mereka bertarung dan saling mengabsen.


Suara decapan terdengar di lorong sepi tersebut karena hari sudah malam hingga tak ada siapapun yang lewat membuat keduanya semakin mudah untuk memperdalamnya.


Hingga Karina memukul berkali-kali dada Bryan yang sudah kehabisan nafas membuat Bryan peka langsung menghentikan tautan bibir mereka. Pandangan mata Bryan terlihat sayu begitu menginginkan gadisnya tersebut.


"Bagaimana kalau kita kawin lari saja?" Ucap Bryan spontan sambil mengusap sudut bibir Karina lembut dan membelai bibir yang sudah terlihat bengkak karena ulahnya itu.


"Ya?" Karina malah melongo tak fokus dengan apa yang diucapkan Bryan.


"Ayo kita kawin lari?" Ucap Bryan lagi seolah meminta Karina untuk tidak menolak.


"Pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral dan suci. Aku tak mau mempermainkannya. Kita tunggu saja sampai mamimu merestui kita." Saran Karina membuat Bryan terdiam lagi.


"Maaf, aku harus kembali. Cepatlah masuk ke kamarmu?" Karina menganggukan kepalanya tanda mengerti. Keduanya kini berpisah, Karina menatap punggung kekasihnya dengan tatapan mata sendu dan entahlah.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2