Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 45


__ADS_3

"Apa dia sudah kembali?" Tanya Bryan yang memilih untuk bersembunyi di balkon ballroom gedung menghindari pesta.


"Beliau sudah kembali dua hari lalu tapi sepertinya belum mulai bekerja." Jawab Gio.


"Kenapa?" Tanya Bryan terkejut langsung menoleh menatap Gio yang selalu berdiri di belakangnya dia langkah.


"Saya masih mencari tahu tuan, kemungkinan beliau mengajukan cuti atau diberi cuti karena CEO perusahaan tetap bekerja seperti biasanya." Beri tahu Gio.


"Bagaimana kalau aku mengunjunginya?" Tanya Bryan meminta pendapat.


"Sebaiknya jangan dalam waktu dekat tuan, karena para investor sudah mulai tertarik dengan anda, jadi lebih baik anda menaikan image anda terlebih dahulu." Saran Gio.


"Tapi aku sudah tidak sabar Gio, aku sangat merindukannya. Entah kenapa aku mempunyai firasat buruk tentangnya." Ucap Bryan curhat.


"Bagaimana kalau anda melihatnya dari jauh?"


"Apa kau yakin dia akan keluar dari apartemennya malam ini?"


"Berdasarkan pantauan orang-orang kita yang mengawasi dari jauh, ini hari waktunya beliau selalu belanja bulanan. Dan biasanya beliau akan belanja sekitar pukul sembilan malam setelah habis kerja karena hari ini libur kerja, mungkin dia akan memilih untuk membeli makanan sendiri di luar, alih-alih memesan secara online karena beliau tidak betah lama-lama di dalam apartemen." Beri tahu Gio.


"Malam-malam begini? Apa itu tidak berbahaya?" Tanya Bryan menatap cemas pada Gio.

__ADS_1


"Karena malam supermarket terdekat sepi dan beliau bisa lebih cepat menemukan belanjaannya sehingga tidak terlalu lama untuk memilih dan antri di depan kasir. Itu kemungkinan yang saya simpulkan selama orang-orang kita mengawasinya." Jelas Gio.


"Kau yakin orang-orang kita orang yang kompeten?"


"Saya bisa memberikan jaminan hidup saya tuan."


"Terima kasih Gio, kau memang bisa selalu kuandalkan. Aku akan menemuinya nanti saat posisiku sudah aman untuk melindunginya." Ucap Bryan menatap Gio sendu.


"Bagiku itu belum cukup untuk membalas budiku tuan." Jawab Gio. Bryan menepuk pelan pundak Gio dan kembali masuk ke dalam ballroom tempat pesta.


.


.


"Ja-jadi maksudnya, anda mau melamar Karina?" Tanya Mira sekali lagi memastikan pendengarannya tidak salah.


"Benar bu, setelah mendapat persetujuan dari anda, secepatnya saya akan mengajak Karina kemari untuk melamarnya secara resmi bersama keluarga saya." Beri tahu Rey menatap sepasang suami istri tersebut yang terkejut mendengar maksud kedatangannya. Pasalnya Karina terakhir kali datang ke panti asuhan bersama dengan Bryan bukan Rey yang mengaku calon suami Karina dan apa secepat itu Karina menjalin hubungan dengan orang baru padahal setahunya mereka sangat saling mencintai.


"Tunggu! Apa Karina sudah tahu kedatangan anda kemari?" Tanya Mira menatap was-was dan penasaran.


"Dia sudah tahu saya akan melamarnya tapi dia tidak tahu kalau saya datang kemari sendiri. Bagaimana pun juga saya ingin memperkenalkan diri saya secara pribadi kepada orang tua Karina." Jelas Rey membuat Mira terharu merasa dianggap dan diperlakukan sopan padahal mereka hanya orang tua asuh dan orang dari kalangan sosial rendah.

__ADS_1


"Kalau boleh saya tahu? Apa anda yakin melamar Karina yang hanya seorang anak panti asuhan? Yang orang tuanya tidak jelas asal-usulnya? Apa itu baik-baik saja di keluarga anda? Maksud saya..."


"Kebetulan keluarga saya hanya tinggal Oma saya yang sekarang tinggal di Beland* dan beliau juga sudah bertemu dengan Karina dan tahu siapa Karina dan juga sudah berkenalan dengan beliau. Dan Oma menyambut baik Karina masuk ke dalam keluarga saya." Jelas Rey panjang lebar dengan wajah berbinar antusias bahkan image wajah datar dan dinginnya sudah hilang entah kemana saat menemui orang tua asuh Karina.


Keduanya saling menatap tersenyum terharu melihat betapa tulusnya dan dalamnya perasaan cinta pria di hadapannya itu pada Karina. Mira sudah bisa menebak siapa Rey dilihat dari pakaian dan tampilan Rey yang bukan orang sembarangan bahkan mungkin berada di atas Bryan, yang saat itu masih mahasiswa yang memang selalu berpenampilan sederhana meski pakaian dan celananya barang branded.


"Kami tidak bisa memberi keputusan, semua keputusan ada pada Karina. Apapun keputusannya kami akan mendukungnya termasuk lamaran anda." Ucap Hartono yang diangguki Rey dengan wajah lesu meski begitu itu berarti dia hanya perlu meyakinkan Karina untuk bersedia segera menikah dengannya. Benak Rey berpikir.


"Saya juga membawa sedikit oleh-oleh untuk adik-adikku." Beri tahu Rey membuat kedua orang tua itu tersenyum dan terharu mendengar ucapan Rey menyebut anak-anak panti sebagai adik-adiknya juga seperti Karina.


"Adik-adikku?" Ucap Mira spontan.


"Oh, adik-adik Karina tentu saja akan jadi adik-adikku kelak bukan?" Ucap Rey menatap keduanya antusias.


"Terima kasih nak, terima kasih." Rey segera berdiri memberi kode pada sopirnya untuk membawa barang bawaannya tadi yang tidak sedikit ke dalam dan meminta sopir memasukkan saja mobilnya ke dalam halaman panti asuhan.


"Kalau begitu saya permisi. Secepatnya saya akan mengajak Karina datang kemari untuk melakukan lamaran secara resmi. Terima kasih bapak, ibu." Pamit Rey sopan setelah meletakkan semua barang kebutuhan makanan, kebutuhan sekolah, dan semua kebutuhan serta mainan yang mungkin dibutuhkan oleh anggota keluarga panti asuhan beserta uang tunai yang tidak sedikit dan akan menetapkan dirinya sebagai donatur tetap panti asuhan tersebut setelah hari ini.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2