Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 74


__ADS_3

Karina sedang menyiapkan sarapan pagi itu. Meski ada maid yang sudah dipekerjakan suaminya, namun Karina ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya. Karina sendiri sudah siap dengan setelan kemeja dan rok dibawah lutut ciri khasnya sebagai seorang sekretaris. Hanya blazernya yang belum dipakai. Rey sedang bersiap di dalam kamar setelah bangun dari tidurnya.


Ponsel Karina yang sedang diletakkan di meja nakas samping ranjang berdering membuat Rey yang saat itu sedang merapikan rambutnya di cermin meja rias meliriknya. Awalnya Rey acuh memberikan kepercayaan pada istrinya kalau siapapun yang menghubungi pastilah urusan pekerjaan. Dan Rey tak curiga sedikitpun. Hingga ponsel mati dan tidak berdering lagi membuat Rey tetap acuh.


Namun lagi-lagi ponsel itu kembali berdering dan itu membuat Rey sedikit penasaran. Siapa yang menghubungi istrinya di pagi hari seperti ini. Apalagi istrinya sudah cuti lima hari dan memaksa untuk bekerja karena hampir selesai masa periode nya membuat Rey mengalah dan mengizinkan asal tidak terlalu banyak bekerja.


Saat melihat nomor ponsel baru tertera di layar ponselnya membuat Rey mengernyit heran dan melihat dan sedikit berpikir apa dia mempunyai nomer ponsel yang sama.


"Sayang!" Seru Rey berseru memanggil istrinya dengan lembut sambil bergerak turun dari tangga menuju dapur tempat yang biasa dihabiskan istrinya jika di rumah.


"Iya mas?" Kernyit Karina melihat suaminya menenteng ponselnya yang berdering, tapi belum juga diangkat sudah mati lagi membuat keduanya saling menatap dan kedikan bahu Karina menyatakan tanda acuh dengan siapa yang menghubunginya pagi-pagi sekali.


"Siapa?" Tanya Rey setelah dia menyodorkan ponsel istrinya dan diterimanya. Karina mengedikkan bahunya tak tahu, dia tidak merasa sedang menunggu telpon seseorang.


"Nomer baru?" Ucap Karina seperti pertanyaan entah pada siapa.


"Penggemar baru?" Sindir Rey tak suka, dia memang sering mendapati nomer-nomer ponsel baru masuk ke ponsel Karina padahal itu ponsel fasilitas kantor bukan ponsel pribadi Karina.


"Entahlah... Mungkin..." Belum selesai Karina bicara ponselnya kembali berdering dan dia pun menoleh menatap suaminya seolah meminta persetujuan. Rey langsung melengos duduk di kursi meja makan.


"Halo!" Karina menyapa ramah dalam panggilannya membuat Rey merengut tak suka, apalagi nada bicara Karina terdengar ramah dan sopan bahkan senyumnya terlihat tulus penuh semangat membuat Rey penasaran siapa yang diajak bicara.


"Oh tentu tuan."


"Oh iya... Bagaimana kalau makan siang nanti?"

__ADS_1


"Oh tentu saja, saya akan memberi tahu beliau."


"Ya? Sendiri? Ah... Saya... Harus minta izin atasan saya dulu, apa ada pekerjaan yang lain." Karina melirik suaminya yang menatapnya tajam karena istrinya terlihat menyanggupi janji makan siang dengan seseorang. Dan Karina benar-benar tidak bisa menolak juga, apalagi tidak ada orang yang tahu atasannya adalah suaminya.


"Sampai jumpa." Karina menutup ponselnya dan duduk di kursi meja makan mengambilkan makanan untuk suaminya meski wajah suaminya cemberut tidak suka.


"Siapa?" Karina hanya menatap dan melanjutkan sarapannya. Dia tidak mau membuat mood suaminya buruk hingga berakhir mengurungkan niatnya untuk sarapan pagi yang sudah menjadi rutinitas pagi mereka.


"Bisakah kita bicara setelah makan?" Pinta Karina menatap wajah suaminya dengan tatapan mata polos penuh harap membuat Rey hanya terdiam merasa gemas dengan istrinya, apalagi sudah hampir satu minggu dia tidak menyentuh istrinya yang bagai candu itu.


"Hmm." Meski kesal, Rey tak mampu menolak permintaan istrinya yang semakin terlihat cantik dan menggemaskan.


"Terima kasih sayang." Jawab Karina riang sambil melanjutkan makannya namun Rey langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah merasa wajahnya memanas dan telinganya memerah. Untung saja istrinya tak memperhatikannya kalau melihatnya Rey pasti akan semakin malu.


.


.


"Apa atasanmu selalu datang terlambat?" Tanya pria itu sambil melirik jam tangannya merasa kesal.


"Ada apa ini?" Tanya Rey melihat keributan di depan ruangannya, Rey menatap dingin Aldi dengan sorot mata penasaran. Aldi langsung mengangguk memberi hormat pada atasannya. Karina tubuhnya menegang mengenali suara yang sedang memunggunginya itu.


"Oh akhirnya kakak datang juga." Ucap Bryan penuh senyum manisnya karena Bryan terkenal dengan pemuda yang ramah sejak kecil. Bryan menatap Rey dan melirik seseorang di sisi kakaknya meski pandangannya lebih ke lengan keduanya yang terlihat mesra bagi siapapun yang melihatnya.


Bryan menatap sendu lengan itu dan beralih menatap Karina nanar yang memilih untuk menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata langsung Bryan.

__ADS_1


Dulu, lenganku yang digelayuti mesra seperti itu. Namun sekarang, aku yang melihat tanpa digelayuti lagi.


Batin Bryan berkecamuk di dalam dadanya yang terasa sesak. Rasa cinta dan rindu yang memenuhi ruang hatinya membuat Bryan kembali meredakannya dengan beralih menatap Rey yang menatapnya tajam dan tidak suka itu. Rey pun langsung menoleh kepada istrinya karena sang adik terus menatapnya dengan tatapan memuja namun sorot kerinduan terlihat jelas namun Rey hanya menepis pikiran buruknya.


"Sayang, masuklah dulu, aku mau bicara berdua dengan adikku." Ucap Rey dengan nada lembut meski di akhir kalimatnya penuh penekanan. Bryan terkejut melihat sikap mesra dan penuh perhatian dari kakaknya untuk mantan kekasihnya membuat Bryan merasakan denyutan di dadanya.


Kakaknya yang selalu menunjukkan wajah datar dan dingin bahkan kadang penuh permusuhan padanya dan orang lain kini menunjukkannya pada wanita yaitu istrinya yang juga mantan kekasihnya membuat Bryan heran juga geram, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hubungan mereka harus terpaksa kandas karena restu orang tuanya padahal sedikit lagi dia bisa memiliki kekuasaan untuk memperjuangkan cinta mereka.


"Oh iya." Jawab Karina sedikit terbata dan melepaskan gelayutannya di lengan suaminya. Dia tetap tak menatap wajah Bryan hanya menganggukkan kepalanya tanda hormat. Bryan menatap nanar melihat Karina benar-benar tak mau menatap wajahnya lagi.


Bukankah seharusnya aku yang marah?


Kenapa dia seolah-olah marah padaku dan menghindari tatapan mata denganku?


Batin Bryan mengikuti arah pandang Karina pergi untuk masuk ke dalam ruang kerja yang sama dengan ruang kerja Rey.


"Ada apa?" Tanya Rey sarkas tidak ada ramah-ramahnya terhadap adiknya meski itu adik tiri.


"Bisa kita bicara santai?"


"Ini kantor bukan tempat untuk bersantai." Sindir Rey membuat Bryan terdiam mendengar ucapan sarkas kakaknya. Sejak pertama kali bertemu, Rey tidak ada manis-manisnya saat berhadapan dengannya malah terlihat seperti musuh saja.


"Apa anda tidak akan mempersilakan tamu anda ini dengan sopan?" Tantang Bryan akhirnya memilih untuk bersikap formal karena Rey pun bersikap sama. Rey mengernyit heran melihat adik tirinya berubah seketika di hadapannya, padahal dulu adik tirinya itu tetap selalu tersenyum meskipun dia datar dan dingin padanya. Namun Rey hanya terdiam memilih untuk mengikuti permainan Bryan.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2