Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 78


__ADS_3

Tok tok tok


"Masuk!" Titah Bryan tidak bersemangat, bahkan dia sekarang sedang melamun di kursi kerjanya menatap luar jendela kaca di sampingnya dengan ogah-ogahan menjawab ketukan pintu ruang kerjanya.


Cklek


"Tuan, nona Karina sudah sadar." Beri tahu Gio membuat Bryan sontak berdiri dari duduknya menatap Gio antusias.


"Kita kesana!" Titahnya beranjak dari tempat duduknya sambil meraih jas dan ponselnya tanpa memakainya terlebih dahulu karena terlalu senang mendengar Karina sudah sadar.


"Apa kata dokter?" Tanya Bryan di sepanjang jalan menuju lift hingga masuk ke dalam lift sampai ke lobi yang mobilnya sudah siap.


"Nona baik-baik saja, hanya butuh istirahat yang cukup." Jelas Gio berdasarkan dari orang suruhannya yang mengawasi Karina tanpa sepengetahuan Rey.


"Syukurlah. Apa dia masih disana?" Tanya Bryan lagi.


"Oh, beliau belum pergi dari sisi nona." Jawab Gio membuat Bryan berhenti di tempat. Gio pun ikut berhenti menerima titah selanjutnya.


"Ayo!" Ucap Bryan lagi masuk ke dalam mobil setelah lama berpikir.


Mobil pun melaju menuju rumah sakit tempat Karina dirawat. Tak sampai satu jam mobil sudah berhenti di parkiran khusus VIP. Bryan segera keluar dari dalam mobil dengan tidak sabaran bahkan tidak menunggu Gio membukakan pintu mobil untuknya. Gio menghela nafas sambil menenteng bawaan yang sempat mereka beli di jalan tadi.


"Makanlah!" Titah Rey sambil menyuapi Karina namun Karina menggeleng tanda sudah cukup untuk makan.


"Kau baru habis separuh, dokter mengatakan kau harus banyak makan. Kau juga melewatkan makan siangmu." Omel Rey posesif tidak seperti biasanya Meksi wajahnya tetap datar dan dingin.

__ADS_1


"Aku sudah kenyang mas, itu sudah sangat banyak." Keluh Karina menatap suaminya penuh harap membuat Rey mau tak mau mengalah, yang penting istrinya sudah makan. Rey menghembuskan nafas pasrah dan meletakkan sisa makanan di meja nakas dekat ranjang.


"Kalau begitu minum obatmu!" Titah Rey menyodorkan beberapa pil obat. Karina tidak menolak, dia hanya menurut karena juga tidak mau berbaring lama-lama di ranjang rumah sakit meskipun ruang perawatannya VIP namun siapa yang mau lama-lama di rumah sakit.


"Sudah." Ucap Karina setelah meminum air yang disodorkan suaminya.


Tok tok tok


Suara pintu ruang perawatan Karina diketuk saat Rey menerima gelas kosong Karina setelah minum obat. Keduanya saling menatap dalam diam. Rey hanya menebak karena itu tak mungkin Aldi, Aldi pasti akan menghubunginya dulu jika mau datang. Dan itu pasti pukul enam sore ke atas. Sekarang masih pukul lima sore membuat Rey bertanya-tanya siapa yang datang berkunjung.


Cklek


Keduanya saling menatap saling diam, tidak berbicara apapun. Rey menajamkan matanya saat tahu siapa yang datang berkunjung menutup akses jalan agar tidak terlihat apapun di dalam ruang perawatan Karina.


"Tidak menerima kunjungan." Jawab Rey sarkas menatap tamunya tajam.


"Dia tidak butuh tanggung jawabmu." Jawab Rey menutup akses lebih erat saat tamunya hendak menerobos masuk ke dalam.


"Aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab." Jawab tamu itu tegas.


"Tidak datang menemuinya itu sudah menjadi tanggung jawabmu." Sarkas Rey masih mempertahankan di depan pintu agar tidak masuk ke dalam.


"Meski kau suaminya, aku tahu betul bagaimana bertanggung jawab. Dengan tidak lari meski diusir." Ketus tamu itu balik membuat Rey tak suka.


"Siapa mas?" Tanya Karina dengan nada suara lembut karena masih berdenyut kepalanya saat melakukan gerakan berlebihan meskipun itu suara kencang.

__ADS_1


"Aku Bryan!" Teriak Bryan sang tamu membuat Rey melotot kesal pada adik tirinya tersebut.


Deg


Jantung Karina tidak baik-baik saja namun dia tidak mungkin menolak kedatangan Bryan yang pastinya sangat merasa bersalah karena dia lah secara tidak langsung yang menyebabkan dia masuk ke rumah sakit. Namun Karina menepis segala hal yang mungkin terjadi. Sehingga dia pun terpaksa mengizinkan dia masuk.


"Masuklah!" Jawab Karina membuat senyum seringai Bryan muncul di bibir seolah mengejek Rey. Bryan menatap tajam Rey yang melotot padanya meski sebenarnya Rey tidak rela ada yang datang menjenguknya namun atas permintaan istrinya, Rey terpaksa mengizinkannya.


"Apa kabar?" Sapa Bryan basa-basi tersenyum manis seperti biasanya dulu saat mereka masih berhubungan membuat Karina terdiam menatap senyuman itu yang masih tetap sama. Karina melirik wajah suaminya yang tidak baik-baik saja terlihat rasa kesal dan cemburu di matanya namun bukannya mereka saudara tiri?


"Aku.. Lebih baik." Jawab Karina singkat tersenyum seadanya.


"Maaf. Maafkan aku. Karena aku, kau jadi seperti ini. Sekali lagi maafkan aku." Ucap Bryan sambil membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat membuat Karina kaget dan terdiam dan beralih menatap suaminya yang membuang muka tak mau melihatnya. Dia tidak peduli pada Bryan.


"Tidak masalah, aku yang salah tiba-tiba masuk melerai tanpa persiapan. Aku juga merasa bersalah." Jawab Karina membuat Rey tidak suka.


"Jelas-jelas dia memukulmu, sudah seharusnya dia melakukan hal itu." Jawab Rey mendekati ranjang istrinya tidak terima dengan jawaban Karina.


"Tapi tetap saja mas juga salah karena memukul lebih dulu." Jawab Karina menatap tajam Rey membuat Rey gelagapan tak bisa menjawab tuduhan istrinya yang sayangnya itu benar.


"I-itu.. karena..." Bryan hanya tersenyum seringai namun sedetik kemudian menjadi senyum sendu melihat pasangan sejoli di depannya terlihat mesra meski suara pertengkaran yang terdengar membuat hati Bryan mencelos melihat Karina sepertinya sudah melupakan perasaannya.


"Semoga kau cepat sembuh. Kalau begitu aku pamit." Keduanya terdiam merasa bersalah karena melupakan keberadaan Bryan melihat perdebatan mereka, Karina semakin merasa sangat bersalah.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2