Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 13


__ADS_3

"Selamat datang!" Sapa suara cempreng dari kasir supermarket. Aldi yang baru masuk ke dalam supermarket terkejut melihat siapa wanita yang terlihat familiar itu.


"Nona Karina!" Sapa Aldi sok akrab membuat Karina mengernyit bingung merasa tidak ingat dengan pria tampan di hadapannya itu.


"Maaf, siapa ya?" Tanya Karina dengan senyuman lebarnya terus terpatri di bibirnya karena itulah tugas dari pelayan supermarket apalagi merangkap sebagai kasir juga. Menyambut pengunjung dengan ramah adalah pekerjaan paling utama.


Ya, setelah dua hari menganggur. Karina akhirnya medapat pekerjaan. Meski hanya sebagai pelayan supermarket yang bahkan merangkap sebagai kasir juga tidak jauh berbeda dengan pekerjaannya sebeumnya yang berurusan dengan keuangan juga.


Dan tempatnya pun tak jauh dari apartemennya berada. Mungkin sekitar lima ratus meter memuat Karina mudah untuk berangkat. Kalau sedang ;malas dia bisa naik sepeda motor dan jika sedang santai bisa jalan sambil menikmati pemandangan sekitar karena selama tinggal dia belum sempat menikmatinya. Itu karena saking sibuknya dulu sebagai manager keuangan.


"Kenapa anda disini?" Tanya Aldi tak menjawab pertanyaan Karina.


"Tunggu. Maaf, siapa anda? Kenapa anda tidak menjawab pertanyaan saya?" Ucap Karina mulai kesal meski harus tetap profesional keramahannya.


"Anda lupa dengan saya?" Tanya Aldi heran.


"Maaf. Kalau saya ingat saya tidak akan bertanya." Jawab Karina sambil mnggeretakkan giginya menahan kesal tapi harus tetap tersenyum.


"Saya Aldi, asisten tuan Reynaldy pemilik perusahaan XXX." Jelas Aldi sambil mengulurkan kartu namanya. Dan Karina terdiam berpikir serta mengingat nama yang disebut oleh Aldi,


"Ah!"


"Anda sudah ingat sekarang?"


"Maaf, saya tidak megenali anda sebelumnya. Tapi maaf saya sudah tidak bekerja di perusahaan ABC lagi." Jawab Karina mulai ramah merasa bersalah melupakan asisten mantan kliennya.


"Tidak masalah. Apa maksud anda tidak bekerja di sana lagi?" Tanya Aldi heran setahunya gadis di hadapannya ini adalah orang yang berkompenten, sangat bodoh jika mereka melepaskan karyawan sebaik Karina.


"Ada masalahh pribadi yang tidak bisa saya jelaskan." Jawab Karina meringis.


"Tapi..?"

__ADS_1


"Ada masalah apa Karin?" Tanya seorang pria berpakaian jas rapi. Menatap Aldi heran karena terlalu lama berbincang tentang urusan pribadi. Dan pria itu adalah manager supermarket tempatnya bekerja dan Karina hampir saja lupa kalau hari ini adalah hari pertamanya bekerja dan akan diawasi langsung oleh manager tersebut.


"Maafkan saya pak. Dia.."


"Maaf tuan saya teman lama Karina, karena saya sudah tiga hari ini kehilangan kontak dengannya jadi saya senang bertemu dengannya hari ini." Jawab Aldi sopan membuat Karina mengernyit heran mendengar ucapan Aldil, namun dia hanya diam terlalu malas untuk menjelaskan pada managernya yang kata rekan kerjanya resek.


"Siapa anda?" Tanya Manager itu curiga masih belum percaya dengan Aldi yang memang dari penampilan terlihat meyakinkan.


"Ini kartu nama saya." Aldi menyodorkan kartu namanya dan sang manager itu menerima dan membacanya dengan teliti, dan membuatnya terkejut saat tahu apa nama perusahaannya.


"Ma-maafkan saya tuan, saya tidak tahu siapa anda?" Ucap manager tersebut sambil membungkukkan kepalanya merasa bersalah.


"Tidak apa."


"Sungguh maafkan saya tuan. Oh ya, ada yang bisa saya bantu?' Tawar manager tersebut mulai ramah semakin membuat Karina mengernyit heran.


"Aku mau meminta waktu Karina untuk bicara hal yang penting. Apa bisa?" Titah Aldi membuat manager tersebut langsung berubah antusias seperti seorang penjilat bosnya.


"Oh silahkan!" Jawab pria tersebut menoleh menatap Karina.


Keduanya kini duduk di ruang istirahat karyawan yang berada di belakang supermarket. Keduanya kini sudah duduk berhadapan di kursi yang ada.


"Ada apa anda ingin bicara berdua dengan saya?" Tanya Karina dengan nada formal setelah tahu kalau supermarket tempatnya bekerja adalah milik anak perusahaan dari perusahaan XXX.


"Jangan terlalu fprmal, kenapa kita tidak bicara santai saja!" Saran Aldi yang hanya didiamkan oleh Karina.


"Baiklah. Terserah kau saja." Ucap Aldi lagi.


"Pertama, ada apa dengan nomer ponselmu?" Tanya Aldi memulai perbincangan.


"Tidak ada masalah dengan ponsel saya?" Jawab Karina menatap layar ponselnya yang memang tidak ada masalah. Aldi sendiri ikut menatap ponsel Karina yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Tapi, bosku sudah menghubungimu berulang kali tapi bukan kau yang menjawabnya?" Tanya Aldi.


"Ah.. Mungkin itu pengganti saya." Jawab Karina yang akhirnya tahu msalah sebenarnya.


"Bagaimana bisa...?"


" Tentu saja bisa. Karena yang saya berikan pada bos anda adalah nomer ponsel yang memang di sediakan perusahaan berkaitan dengan urusan pekerjaan. Dan setelah saya tidak bekerja disana lagi, ponsel beserta nomer ponsel tersebut dikembalikan untuk diberikan pada pengganti pekerjaan saya." Jelas Karina panjang lebar membuat Aldi mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti dan terdengar masuk akal.


Bosnya, tuan Rey uring-uringan selama tiga hari ini karena Karina tidak mengangkat panggilannya namun malah orang lain yang mengangkatnya sehingga dirinyalah yang terkena imbas ke uring-uringannya. Kalau ternyata seperti ini kejadiannya membuat Aldi mengerti, kalau bosnya itu hanya mencari-cari alasan saja saat menanyakan pekerjaan tersebut padahal tidak ada masalah yang berarti. Dan itu akal-akalan bosnya hanya untuk bisa bicara saja dengan Karina, cinta pertamanya.


"Tuan." Panggil Karina sudah ketiga kalinya membuatnya menghela nafas panjang melihat Aldi melamun.


"Ya?"


"Saya harus kembali bekerja dan untuk pekerjaann sebelumnya, saya sudah tidak ada urusan dengan perusahaan anda lagi. Jadi, silahkan menghubungi perusahaan itu. Permisi." Karina hendak pergi, tapi ditahan Aldi.


"Bisa minta nomer ponsel pribadi anda?" Pinta Aldi dengan tatapan puppy eyesnya.


"Maaf, untuk apa ya? Saya sudah tidak ada hubungan lagi dengan perusahaan lama dan perusahaan anda." Sarkas Karina membuat nyali Aldi menciut melihat tatapan intimidasi Karina membuat dia meneguk saliva. Dia membenarkan ucapan Karina kenapa meminta nomer ponsel pribadinya selama urusan pekerjaan tidak berhubungan lagi membuat Aldi terpojok.


"Maaf, bagaimana kalau sebagai teman?" Bujuk Aldi.


"Apa kita berteman?" Jawaban Karina lagi-lagi membuat Aldi meneguk saliva kasar merasa bodoh sendiri.


"Kalau memang ada urusan dengan saya, anda bisa datang menemui saya kemari saat jam kerja saya berakhir. Toh, anda tahu tempat saya bekerja. Permisi." Karina kembali bekerja setelah membuat Aldi terdiam karena tidak bisa menjawab dengan kata-kata yang tepat selain menghembuskan nafas panjang.


"Kalau bos uring-uringan lagi, aku bisa mengajaknya kemari untuk menemui langsung Karina." Guman Aldi yang akhirnya mendapatkan jalan keluar.


"Biar bos yang minta nomer ponsel Karina sendiri dan merasakan aura intimidasi yang dikeluarkan cinta pertamanya." Guman Aldi lagi tersenyum smirk membayangkan nyali bosnya menciut di hadapan gadis yang dicintainya itu dulu sampai sekarang.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2