
"Kau sudah melakukannya?" Tanya Rey saat mereka bertemu di kantor.
"Iya tuan."
"Bagaimana?" Tanya Rey antusias berharap apa yang dicemaskan tidak terjadi.
"Itu... sepertinya..." Aldi berdehem pelan merasa tak enak hati dan bingung untuk menyampaikannya.
"Katakan!" Desak Rey tak kalah cemas.
"Malam itu nona Jessica sudah mengirimkan foto itu pada nyonya." Beri tahu Aldi dengan ragu membuka tubuh Rey membeku. Aldi merasa bersalah melihat reaksi bosnya yang terlihat shock.
"Jadi...?"
"Hanya foto, belum ada video yang dikirim sama sekali." Jelas Aldi.
"Jadi dia sudah melihatnya?" Lirih Rey terdiam mengusap wajahnya.
"Benar tuan."
Pantas saja malam itu dia terlihat acuh padanya?
Apa saat itu?
Dan dia baik-baik saja?
Apa dia belum mencintaiku?
Apa dia masih mencintainya?
Sial.
Tunggu, mereka tidak berencana untuk kembali lagi kan?
Aldi hanya terdiam melihat ekspresi wajah tuan mudanya yang berubah-ubah. Aldi tahu kalau bosnya sedang berpikir entah tentang apa. Terlihat wajahnya begitu putus asa dan frustasi. Padahal dulu bosnya itu sangat pintar menyembunyikan ekspresi wajahnya. Meski masalah seberat apapun bosnya tetap berekspresi datar dan dingin. Dan sekarang, sungguh cinta membuat orang berubah.
Semoga pernikahan bosnya baik-baik saja. Batin Aldi.
"Kau sudah mendapatkan rekaman cctv nya?" Tanya Rey mengurai lamunan Aldi.
"Saya masih berusaha tuan, apalagi saya harus meminta bantuan seseorang disana." Jelas Aldi membuat Rey menghela nafas.
"Saya boleh bertanya tuan? Itu... Sedikit pribadi." Tanya Aldi.
"Apa?"
"Apa ...maaf sebelumnya. Apa 'dia' masih sama saat bersama orang lain?" Tanya Aldi memberanikan diri.
"Dia? Siapa maksudmu?" Aldi memerah mendengar pertanyaan bosnya.
"Itu tuan..." Aldi menatap ke bawah dan Rey mengikuti arah pandang Aldi dan seketika Rey melotot tajam pada asistennya tersebut.
"Yak!" Kesal Rey menatap Aldi tajam, Aldi hanya memejamkan matanya.
__ADS_1
"Dulu anda pernah bercerita kalau dia tidak bisa bangun saat bersama wanita lain. Dan ternyata tidak sengaja terbangun saat berdekatan dengan nyonya. Dan itu lah yang membuat anda semakin jatuh cinta pada nyonya. Jadi..." Aldi menggantungkan ucapannya yang langsung dipahami oleh Rey.
"Tentu saja. Kau kira milikku semurahan seperti milikmu." Sindir Rey kesal membuang pandangannya. Aldi yang merasa tersindir cemberut kesal.
"Itu kan reaksi alamiah tuan. Dan tandanya saya normal kan?" Jawab Aldi.
"Kau kira aku tidak normal?"
"Bukan begitu tuan, itu kan bisa dijadikan bukti kalau kejadian malam itu hanya akal-akalan non Jessica kan?" Rey langsung konek dengan penjelasan Aldi dan dia pun langsung tersenyum cerah. Dan baru kali ini pun senyum cerah itu terlihat membuat Aldi terkejut melihatnya.
"Kekuatan cinta memang luar biasa." Bisik Aldi lirih.
"Apa katamu?"
"Tidak, saya hanya bicara sendiri." Elak Aldi.
"Apa nyonya akan percaya tuan?" Tanya Aldi lagi.
"Aku akan menjelaskan bersamaan dengan catatan dokter."
"Baik tuan."
.
.
"Hai." Sapa seseorang saat Karina sedang duduk makan dengan adik-adik panti. Setelah tiba di panti asuhan dan Bastian pulang. Karina mengajak beberapa adik-adik panti untuk belanja kebutuhan bulanan di dekat minimarket terdekat dengan panti asuhan.
Setelah cukup belanja dan membayarnya. Karina mengajak adik-adik itu untuk makan es krim di kedai dekat minimarket. Semua terlihat antusias, dan tak lupa dia juga membeli kemasan untuk adik-adiknya yang ada di panti yang tidak ikut.
"Kau sendiri?" Tanya Bryan sambil menatap sekitar mungkin Karina dengan suaminya mungkin. Bukankah tadi pagi bertemu di rumah sakit.
"Oh, dengan adik-adik panti." Jawab Karina tersenyum tipis.
"Boleh aku ikut bergabung?" Pinta Bryan sambil tersenyum lebar penuh harap.
"Kau... tidak bekerja?" Tanya Karina balik memastikan pria yang pernah menjadi kekasihnya itu tidak sedang sibuk.
"Aku baru saja bertemu klien, dan kebetulan melihatmu disini. Dan aku pun ingin menghampirimu. Bukankah ini artinya kita berjodoh?" Canda Bryan sambil tersenyum lebar yang begitu manis membuat Karina terdiam membeku di tempatnya berdiri.
"Kak, aku boleh nambah nggak?" Salah seorang adik pantinya tiba-tiba memegang jemari tangan Karina yang menggantung terdiam tadi. Karina sontak langsung sadar dan menoleh menatap adik pantinya tadi.
"Oh, tentu saja, tapi tidak boleh banyak-banyak ya? Biar tidak sakit." Nasehat Karina mengiyakan sambil dengan senyum tulusnya.
"Hore...aku boleh minta lagi!"
"Semuanya boleh nambah kakak yang traktir." Suara Bryan kembali menginterupsi semua adik-adiknya yang ada empat orang itu. Karina langsung menoleh menatap Bryan dengan raut wajah sungkan.
"Bryan... Biarkan aku saja..."
"Tidak apa-apa. Toh tidak setiap hari aku mentraktir mereka kan." Jawab Bryan dengan senyum cerahnya.
"Bryan..."
__ADS_1
"Ayo duduk!" Bryan menarik pergelangan tangan Karina untuk duduk berdampingan di meja tempat mereka semua duduk. Adik-adiknya berceloteh penuh semangat sambil bertanya-tanya dan juga menjawab bersahutan dengan Bryan membuat Karina tak bisa menolak lagi kebaikan Bryan yang memang tulus sejak dulu pada adik-adiknya semua.
.
.
"Terima kasih." Ucap Karina pada Bryan saat dia diantar juga ke panti asuhan bersama semua adik-adiknya dan tak lupa ikut menurunkan belanjaannya yang tidak sedikit itu.
"Tak masalah."
"Aku akan mengganti semuanya. Jadi..."
"Aku tidak semiskin itu untuk meminta ganti Karin." Tolak Bryan menatap Karina intens saat dia sibuk dengan ponselnya untuk mentransfer sejumlah uang untuk mengembalikan belanja es krim yang tidak sedikit tadi.
"Aku merasa sungkan jika tidak mengembalikannya, kumohon Bry!" Pinta Karina menatap penuh harap pada Bryan.
"Bagaimana kalau kau menggantinya dengan traktiran untukku?" Tawar Bryan karena dia tahu seperti apa watak Karina.
Saat berpacaran dulu, mereka kerap seperti itu. Kalau untuk Karina saja mungkin dia akan menerimanya. Tapi kalau untuk adik-adiknya di panti bukanlah tanggung jawab Bryan. Karina selalu mengingatkan hal itu. Meski sebesar apapun Bryan membujuknya namun Karina tetap tidak bisa menerimanya.
"Kapan kau ingin kutraktir makan? Dan aku harus meminta izin pada suamiku dulu tentu saja." Jawab Karina membuat senyum Bryan pun luntur.
"Kau benar. Kalau begitu minta izinlah pada suamimu dulu. Kalau dia mengizinkan aku akan menyebutkan dimana tempat kau harus mentraktirku." Jawab Bryan kembali tersenyum meski dadanya terasa sesak saat mengingat kalau Karina tidak bisa dia miliki lagi meski perasaannya masih menggebu-gebu.
"Baiklah."
"Kalau begitu aku pamit." Pamit Bryan sambil melambaikan tangannya pada Karina sampai masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pelataran panti asuhan. Karina menghela nafas setelah memastikan Bryan sudah menghilang dari pandangannya bersama dengan mobilnya. Karina pun masuk ke dalam.
Di kejauhan, kedua jemari tangannya mengepal erat melihat interaksi kedua orang itu. Dia tertawa getir melihat keakraban pasangan mantan kekasih tersebut.
"Jadi ini alasanmu untuk menginap di panti asuhan?"
"Ah, kau bodoh sekali Rey."
"Kalau kalian masih saling mencintai kenapa berpisah?"
"Apa pria itu masih sangat bertahta di hatimu sehingga kau belum bisa mencintaiku? Hahaha..." Tawa getir pria di dalam mobil itu menyaksikan drama itu langsung sejak dari kedai es krim.
Setelah memastikan kalau tidak ada yang terjadi apapun padanya dengan Jessica. Rey sangat bersemangat untuk mendatangi Karina sekaligus menjelaskan tentang fotonya dengan Jessica. Rey berharap mampu memperbaiki hubungan mereka agar lebih dekat. Rey sendiri memutuskan untuk melupakan hubungan kedua orang itu.
Bryan dan Karina, istri dan adik tirinya pernah memiliki hubungan yaitu sepasang kekasih yang tidak hanya baru saja. Mereka mengenal selama dua tahun dan berhubungan sebagai sepasang kekasih hampir empat tahun lamanya.
Seharusnya Rey sadar kenapa ayah dan ibu tirinya melarangnya menikah dengan Karina. Mungkin karena putranya mencintai Karina. Bahkan keduanya saling mencintai membuat Rey seperti orang bodoh saja.
"Baiklah. Mungkin menyatukan kalian itu lebih baik."
Apa kali ini kau akan bahagia bersamanya. Tentu saja, bukankah cinta kalian sempat terpisah dan berencana untuk kembali lagi?
Batin Rey menelungkupkan wajahnya di kemudi mobilnya hingga kemudian dia pergi lagi meninggalkan panti asuhan mengurungkan niatnya untuk menjelaskan semuanya.
.
.
__ADS_1
TBC