Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 34


__ADS_3

Sudah tiga hari mereka mengurus pekerjaan di perusahaan pusat. Selain menemani Rey untuk bertemu dengan klien, Karina juga mempelajari pekerjaan yang sedikit banyak sama dengan perusahaan XXX cabang tanah air. Sekarang Karina sedang membuat laporan tentang meeting yang tadi siang dihadiri oleh Karina dan Rey.


Waktu menunjukkan pukul lima waktu setempat. Cahaya sore sudah masuk ke sela-sela jendela kaca yang ada di belakang kursi tempat bosnya duduk namun tetap tidak membuat Rey beranjak karena masih sibuk dengan laptopnya.


"Ini laporan untuk meeting tadi siang tuan." Ucap Karina menyodorkan sebuah berkas ke arah Rey yang langsung mendongak menatap wajah Karina.


"Hmm." Jawab Rey terlihat malas, dia merasakan wajahnya hangat dengan kepala sedikit pusing.


"Tuan baik-baik saja?" Tanya Karina melihat wajah sayu Rey seperti sedang sakit, apalagi ditambah dia memijat keningnya.


"I'm okey." Entah kenapa tak percaya melihat kondisi muka Rey yang jelas-jelas pucat dan tidak bertenaga.


"Wajah anda pucat tuan." Beri tahu Karina karena merasa Rey tidak akan sadar dengan keadaannya melihat memang pekerjaannya yang tidak pernah istirahat.


"Aku baik-baik saja, tidur sebentar kurasa akan membaik." Jawab Rey terdengar lemah.


"Tunggu sebentar!" Ucap Karina keluar dari ruang kerja menuju pantri untuk membuatkan minuman hangat untuk Rey.


Rey tak merespon ucapan Karina memilih beranjak dari kursi untuk menuju kamar pribadinya yang ada di dalam ruang kerjanya.


Bruk


Suara tubuh Rey jatuh pingsan di lantai tak ada yang mengetahuinya karena Karina keluar sebentar untuk membuatkan teh hangat. Tak sampai lima belas menit Karina sudah kembali ke ruang kerja dengan membawakan teh panas untuk bosnya. Untungnya dia selalu siap sedia minuman cair anti masuk angin yang dibawanya dari tanah air karena mengingat cuaca di negara ini tidak seperti cuaca di tanah air.


Cklek


"Tuan." Karina belum tahu Rey pingsan di sebelah kursi kerjanya karena terhalang meja dan sofa yang ada di dalam ruangan tersebut. Karina mengernyit tak mendapati Rey di dalam ruangan. Karina meletakkan dulu teh panas itu di meja kerja Rey dan menuju tas kerjanya di kursinya namun matanya tanpa sengaja melihat sesuatu di belakang meja bosnya.

__ADS_1


"Tuan Reynald!" Seru Karina terkejut melihat Rey terjatuh di dekat kursinya.


Karina panik dan cemas segera menghampiri tubuh bosnya.


"Tuan." Panggil Karina menepuk-nepuk pipi Rey dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Tuan, kumohonn buka matamu!" Ucap Karina lagi tak mampu berpikir, hanya mengangkat kepala Rey diletakkan di pangkuannya.


"Tuan, kita pindah ke sofa dulu! Semua orang sudah pulang tuan, Siapa yang membantuku memindahkannmu kalau tuan pingsan seperti ini." Racau Karina masih dengan wajah paniknya. Karina memaksa tubuhnya untuk membuat Rey berdiri dan memapahnya ke sofa panjang.


"Ka...mar... ba..wa.. A..ku...ke ... kamar..." Di ambang tipis kesadarannya yang dipapah Karina membuat Rey berguman menguatkan tubuhnya untuk berjalan meski sebenarnya dia sudah tidak mampu berdiri. Kondisi tubuhnya sudah diambang kebatasannya.


"Oh.. Baik." Jawab Karina merubah haluan menuju kamar pribadi bosnya di arah yang berlawanan sofa berada.


Dengan susah payah akhirnya Karina berhasih membaringkan tubuh besar dan kekar bosnya di ranjang yang ada di dalam kamar itu dengan nafas yang terengah-engah membuat Karina menghembuskan nafas kasar.


Rey bukannya melepaskannya namun malah mengeratkan dekapannya ke pinggang Karina seolah dia guling, guling hidup.


"Dingin.. di... Ngin..." Igau Rey dalam lelap tidurnya tak sadar dengan apa yang dilakukannya.


Karina menghela nafas melihat dekapan Rey yang begitu erat padanya tak tega untuk berontak melepaskannya.


"Ibu... Aku ... Merindukanmu.." Igau Rey lagi terenyuh mendengarnya.


"Apa beliau merindukan ibunya? Kudengar ibunya juga sudah meninggal. Untuk kali ini akan kubiarkan, tidurlah tuan." Ucap Karina lirih sambil mengusap rambut bosnya yang terlihat nyaman bahkan bibirnya tersungging senyuman tipis yang menandakan dirinya nyaman mendekap Karina yang sudah berbaring di sisi Rey dengan masih di dekap erat tanpa mampu melepaskand diri.


.

__ADS_1


.


"Kau sudah pulang nak?" Basa-basi Ambar menyapa Bryan yang baru saja pulang pukul sebelas malam. Bryan tentu saja terkejut mendengar teguran maminya yang tak mengira beliau masih bangun di jam segini.


"Kenapa mami belum tidur?" Tanya Bryan tanpa menjawab oertanyaan maminya.


"Oh mami terbangun karena haus jadi mami mengambil air di dapur." Jelas Ambar masih merasa canggung pada putranya tersebut.


"Sebaiknya mami segera kembali ke kamar, aku juga akan masuk." Ucap Bryan dengan nada datar dan dingin seolah belum memaafkan maminya namun Bryan memang sudah tak mau mengakrabkan dirinya pada sang mami karena masalahnya mengenai restu bebrapa terakhir waktu lalu.


"Maafkan mami." Ucap Ambar sudah beberapa kalil diucapkannya dan tak pernah direspon oleh Bryan meski dia sudah bersikap biasa pada maminya hanya saja wajahnya yang dulu penuh senyuman kini tak lagi nampak.


Bryan hanya menghentikan langkahnya sebentar dan menghela nafas sejenak hingga kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Ambar terdiam membeku di lantai bawah menatap punggung putranya sendu karena merasa bersalah dan membuat Ambar terisak namun memilih untuk menuju kamarnya tak mau membuat putranya semakin merasa bersalah karena letak kesalahannya ada pada dirinya.


Bryan menutup rapat pintu kamarnya yang tak lupa dikunci juga langsung meletakkan ponsel dan dompet serta kunci mobilnya di meja nakas sebelah ranjang. Dia melepaskannya jasnya dan meletakkannya di ranjang cucian begitu juga kemeja berikut celana bahannya. Hingga hanya tertinggal celana boxer saja yang menutupi bagian sensitifnya.


Dia berdiri di depan cermin seluruh badan yang ada di dalam walk in closet. Meski tubuhnya sedikit tirus sejak terakhir kali dia putus hubungan dengan Karina namun perut sixpacknya masih tertata jelas di perutnya sekarang.


Meski kehilangan semangatnya dan nafsu makannya tak membuat Bryan untuk turin berolahraga demi menjaga tubuhnya tetap sehat dan bentuk tubuhnya. Tekadnya untuk mendapatkan Karina kembali sudah ditanamkan jelas di dalam otaknya setelah kekuasaan serta kekuatan dia dapat sebagai pengganti papinya.


"Kuharap kau masih sabar menungguku dan masih setia pada perasaan kita masing-masing. Aku merindukanmu sayang." Ucap Bryan tanpa sadar air matanya menetes hingga tawa getir terdengar dari bibir Bryan. Merasakan rindu itu berat, apalagi pada mantan kekasih yang masih memiliki rasa yang sama yang dipaksa berpisah.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2