Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 9


__ADS_3

Karina melangkah ke arah restoran dengan gugup. Sepertinya dia sudah bisa menebak akhir dari pertemuannya dengan ibu kekasihnya, Ambar. Karina tanpa sadar meremat kedua jemari tangannya karena kegugupannya itu. Sebenarnya dia lebih baik menyerah untuk memperjuangkan cinta mereka karena dia tahu betul bagaimana berhubungan dengan kalangan atas seperti mereka.


Namun karena janji dan rasa cintanya yang besar terhadap Bryan, dia rela untuk memperjuangkan cinta itu nanti sampai mendapatkan restu dari orang tua Bryan terutama ibunya yang jelas-jelas semalam menunjukkan raut wajah penuh permusuhan padanya. Apalagi ditambah kebohongan yang diucapkan Bryan semalam meski dia sudah meralatnya.


"Selamat datang." Sapa ramah seorang pelayan restoran.


"Saya sudah ada janji dengan seseorang." Jawab Karina menetralisir kegugupannya. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau semua akan baik-baik saja. Selama ada Bryan yang mendukungnya, ini bukanlah apa-apa baginya. Dia sudah terbiasa mendapat perlakuan buruk sejak kecil karena status sosial yang disandangnya.


"Atas nama siapa nona?" Tanya pelayan itu masih ramah dengan senyumannya.


"Nyonya Atmajaya." Jawab Karina tegas.


"Mari silahkan nona!" Pelayan tadi semakin tersenyum ramah saat nama seorang yang berpengaruh disebut Karina.


Karina mengikuti langkah pelayan tersebut menuju lantai dua dimana ruang reservasi yang dimaksud.


Tok tok tok


Pelayan mengetuk pintu ruangan di depannya dan saat di luar mendengar izin masuk, pelayan pun membuka pintu lebar mempersilahkan Karina masuk.


Ambar sudah berada di dalam duduk di salah satu kursi restoran dengan secangkir teh. Duduk dengan begitu elegan dan berkelas hanya melirik kedatangan Karina yang berusaha tetap tenang meski dadanya bergemuruh kencang karena gugup.


"Silahkan duduk nona!" Persilahkan pelayan tersebut dan Karina pun duduk di kursi yang ditunjuk pelayan setelah kemudian menuangkan segelas air putih yang memang disiapkan untuk tamu sebelum pesanan diantar. Ambar masih terdiam sambil menyesap teh nya dengan anggun.


Pelayan menundukkan kepalanya sopan saat mendapat kode dari Ambar mengusir dari ruang privasi tersebut.


Ting


Ambar meletakkan cangkir tehnya setelah pintu tertutup rapat. Karina duduk tegak menatap lurus pada Ambar tapi masih dengan tahap penuh kesopanan yang menunjukkan keanggunan seolah dia seorang kalangan atas juga. Padahal Karina tidak pernah mempelajarinya secara khusus namun entah kenapa tubuhnya sudah refleks melakukannya secara alami.


"Langsung saja pada intinya. Tinggalkan putraku!" Tegas Ambar tanpa basa-basi menyapa. Dada Karina berdebar, denyut nadinya terasa berat karena merasa sesak dengan tatapan langsung Ambar begitu nyata menunjukkan langsung ketidak sukaannya padanya.


"Maaf Tante..."

__ADS_1


"Siapa kau berani mamanggilku seperti itu?" Seru Ambar membuat Karina tersentak kaget meski secepatnya dia mengendalikan dirinya. Dia masih bersikap sopan lantaran janji dan cintanya pada Bryan untuk berjuang bersama. Hal sepele seperti ini bukanlah berarti apa-apa dari pada gemblengan cobaan hidupnya selama ini.


"Saya..."


"Nyonya, kau hanya pantas memanggilku seperti itu." Tegas Ambar dengan arogansinya sengaja menunjukkan seberapa rendahnya status sosial Karina di hadapannya.


"Maaf nyonya. Saya tidak bisa melakukan permintaan anda." Jawab Karina tak kalah tegas setelah menghela nafas panjang sambil menatap Ambar dengan berani.


"Kau!" Seru Ambar menatap nyalang pada Karina.


"Saya mencintainya. Kami saling mencintai. Saya berjanji akan membahagiakan putra anda." Ucap Karina lagi masih tegas.


"Hahaha... Membahagiakannya? Dengan apa?" Tanya Ambar menatap remeh pada Karina. Jemari tangan Karina terlihat mengepal di bawah meja mendengar nada dan tatapan remeh dan merendahkan padanya membuat Karina hanya bisa meredam emosinya yang hampir saja meluap.


"Dengan cinta saya."


"Hahaha... Hahaha..." Tawa Ambar menggelegar di dalam ruang privasi restoran itu. Untung saja ruangan tersebut kedap suara sehingga tidak akan ada yang mendengar suara apapun dari dalam ruangan itu.


"Cinta? Hahaha... Sampai kapan? Sampai kalian miskin dan bertengkar karena ekonomi kalian yang sulit? Hahaha..." Lagi-lagi tawa meremehkan Ambar membuat Karina mengepalkan jemari tangannya.


"Jadi, jika kalian nekat kawin lari dan aku mencoret putraku dari daftar keluarga kalian akan berjuang atas nama cinta?" Tanya Ambar masih dengan nada meremehkan, senyum ejekan juga tak lupa disunggingkan di bibirnya.


"Mungkin untuk tahun pertama kalian baik-baik saja, tapi aku tak yakin untuk tahun-tahun berikutnya. Dan kau kira aku akan setuju membuat putraku meninggalkanku?" Tegas Ambar menatap nyalang pada Karina.


"Nyonya, saya akan membuktikan hal itu. Cukup anda memberikan restu pada kami. Kami saling mencintai dan menyayangi." Mohon Karina berlutut di sisi kursi Ambar yang kosong.


Ambar terdiam tak memperdulikan permohonan Karina yang berlutut padanya.


"Meski kau memohon dan berusaha sekuat apapun. Jangan harap kalian akan mendapatkan restu dariku! Selagi aku mengatakan hal ini baik-baik, tinggalkan putraku secepatnya! Jangan menguji kesabaranku!" Ambar pun berdiri dan pergi meninggalkan ruang privat tersebut tak mempedulikan segala ucapan permohonan ketulusan yang dilakukan Karina.


Hingga Karina hanya bisa terdiam di lantai ruangan tersebut.


"Apa aku harus menyerah sekarang? Bry, kau dimana?" Guman Karina menatap layar ponselnya yang hanya di jawab operator saat dia berusaha menghubunginya.

__ADS_1


.


.


Bryan terduduk lemas di lantai kamarnya dengan punggung bersandar pada ranjang menatap kosong ke dinding di depannya. Sejak kemarin dia dikurung seperti anak kecil saja, hp disita meski makanan selalu diantar bibi maid yang terpaksa dia makan demi memperjuangkan cintanya pada kekasih hatinya.


"Aku tidak akan menyerah sayang. Bersabarlah, tunggu aku! Aku pasti akan menikahimu meski dengan restu mamiku atau tidak." Tegas Bryan mengusap wajahnya kasar. Dia pun bangkit berdiri menatap sekeliling kamarnya mencari jalan keluar yang mungkin saja bisa dia lakukan untuk keluar dari kamarnya bertemu dengan kekasih hati yang dirindukannya.


"Sial." Umpat Bryan saat melihat bodyguard juga berjaga di balkon kamarnya.


"Ada yang bisa saya bantu tuan muda?" Tanya salah seorang bodyguard itu menatap Bryan tegap.


"Tidak!" Bryan kembali masuk kamar sambil menutup pintu balkon kamarnya.


"Mami benar-benar mengurungku. Apa maksudnya memperlakukanku seperti anak kecil saja." Kesal Bryan mondar-mandir di dalam kamarnya mencoba mencari alternatif jalan keluar lainnya.


"Ponsel! Ya, aku bisa pinjam ponsel mereka sementara untuk menghubungi Karina dan meyakinkannya untuk tidak menyerah." Guman Bryan tersenyum senang tentang rencananya.


Cklek


Kedua bodyguard sontak langsung menoleh menatap Bryan yang menatapnya antusias tidak seperti tadi.


"Pinjam ponselmu!" Pinta Bryan tegas lebih sebagai perintah yang membuat keduanya saling berpandangan.


"Jangan bilang kalian dilarang meminjamkan ponsel kalian padaku!" Kesal Bryan melihat keduanya ragu untuk mematuhi ucapan Bryan.


"Silahkan tuan muda!" Ucap bodyguard yang bertanya pada Bryan tadi di awal.


"Terima kasih." Bryan menyambutnya dengan sangat antusias dan membawanya masuk ke dalam kamar.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2