
Reynaldi berdiri di depan jendela kamar hotelnya sambil memegang gelas wine. Dia sudah sampai di kamarnya namun belum beranjak dari jendela meski sudah lebih dari tiga puluh menit. Niat hati ingin membersihkan tubuhnya namun urung saat mengingat pertemuan mereka dengan cinta pertamanya bahkan belum sempat dia utarakan karena terlanjur keduluan dengan orang lain.
Rey mengembuskan napas kasar, dia merasa sesak padahal jas dan kancing kemejanya sudah dilepaskan meski belum dilepas. Lengan kemeja yang digulung sebatas siku dengan kaos dalam yang terlihat mencetak perut sixpack nya.
Meski sudah seharian dia bekerja, ketampanannya masih terlihat jelas dan kusut karena bekerja sedari pagi tetap terlihat ketampanannya yang paripurna. Dia yakin gadis manapun akan rela mengantri untuk mendekat padanya. Hanya saja perasaannya masih terpaut dengan gadis masa lalu cinta pertamanya.
Cincin berlian, cincin yang dipakai Karina tadi meski dia yakin kalau gadis cinta pertamanya itu sudah dimiliki oleh orang lain, cinta Rey masih tetap sama dirasakan padanya. Dia benar-benar menyesali segalanya di masa lalu. Kenapa dia harus malu? Kenapa dulu dia tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya, meski dia tahu akan ditolak, setidaknya dia sudah berusaha mengatakannya. Dan sekarang dia bahkan masih memikirkannya.
"Huff.." Lagi-lagi hembusan nafas panjang dilakukan Rey setelah meneguk wine nya.
"Apakah kau sudah menikah? Kuharap belum? Seandainya sudah, apa kau bahagia? Aku berharap kau segera bercerai... Ah, kenapa pikiranku begitu jahat sekali." Guman Rey dengan helaan nafas panjang dan berat.
"Aku mencintaimu Karin." Guman Rey lagi.
"Binar mata itu, masih sama seperti sebelumnya. Hanya kau yang memperlakukan kami semua sama tanpa memandang status sosial."
"Bahkan aku takut mencari tahu tentang dirimu. Aku takut apa yang kuharapkan tidak sesuai ekspektasiku. Aku terlalu pengecut, dulu ataupun sekarang." Helaan nafas panjang terdengar lagi.
"Sampai kapan kau harus seperti ini Rey, gadis itu sudah menjadi milik orang lain. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya." Guman Rey pada dirinya sendiri.
.
.
__ADS_1
"Tinggalkan gadis itu!' Tegas Ambar pagi itu setelah sarapan. Suaminya sudah berangkat ke kantor. Kini dia duduk berhadapan di perpustakaan mansion dengan putranya Bryan.
"Maafkan Bryan mi, kali ini Bryan tidak akan menuruti perintah mami." Jawab Bryan tegas menatap Ambar. Dia sudah tahu apa yang ingin dikatakan Ambar saat memintanya untuk bicara berdua saja.
"Bryan! Kau mau durhaka pada mamimu?" Seru Ambar marah menatap Bryan tajam.
"Mami bisa meminta yang lain tapi tidak untuk meninggalkannya. Aku mencintainya mi, dia hidupku, di nyawaku. Untuk kali ini kumohon mi." Bryan tiba-tiba berlutut di hadapan Ambar disertai derai air mata yang turun di pipinya terlihat menyedihkan.
Ambar terkejut sebesar itu perasaan putranya pada gadis tak jelas asal-usulnya itu.
"Kau lupa apa yang mami hadapi dulu? Mau mami ingatkan bagaimana penghinaan keluarga ayah kandungmu karena hinaannya tentang mami anak keluarga miskin?" Murka Ambar menatap putranya tak terima karena anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang berani padanya.
"Mi, karena hal itu mi. Mami pasti mengalami hal itu dulu. Apa mami tak bisa merasakan apa yang dialami Karin saat mami menolaknya." Pinta Bryan masih di posisi yang sama memohon pada ibu yang mengandungnya juga yang melahirkannya.
"Tapi Bryan mencintainya mi, Bryan hanya mau dia mi." Desak Bryan penuh harap sudah tak bisa menahan dirinya.
Ambar langsung berdiri dari duduknya, dia tak mau goyah karena permohonan putranya. Penghinaan dari mantan mertuanya masih teringat jelas diingatannya. Hanya karena status sosial mereka berbeda mereka tidak merestui bahkan lahirnya Bryan tidak mempengaruhi kedua mertuanya.
Sejak saat itu, dia berjanji pada dirinya sendiri akan mencari menantu dan keluarga dengan status sosial yang sama dengannya saat ini. Tak peduli dari mana dulu dia berasal, dia tak peduli meski dia dulu berasal dari status sosial rendah.
"Jangan panggil mami sebagai ibumu jika kau tidak menuruti ucapan mami!" Tegas Ambar dengan teganya pergi begitu saja meninggalkan Bryan yang sudah meraung-raung di lantai. Lutut kakinya bahkan sudah tidak mampu menumpu hingga dia terduduk lemas di lantai yang dingin.
Tangisan isakan pilu kesedihan yang dialami Bryan membuat siapapun akan merasa kasihan. Namun semua maid yang mendengarnya hanya bisa diam tak berani berkomentar. Setahu mereka begitulah watak nyonya besar mereka. Tegas dan kejam, bahkan pada putra kesayangannya sendiri.
__ADS_1
"Nyonya memanggil saya?" Tanya Albert yang masuk ke dalam kamar Ambar.
"Selidiki gadis itu! Buat janji besok untuk menemuiku di restoran biasanya. Buat dia harus menemuiku besok!" Titah Ambar tegas yang diiyakan oleh Albert tanpa banyak bantahan.
Ambar memang sudah mengetahui hubungan putranya dengan gadis itu sejak dulu. Namun Ambar tidak terlalu cemas karena mengira cinta mereka hanyalah cinta monyet sesaat namun semakin lama hubungan keduanya semakin lekat saja. Sehingga Ambar menyarankan pada putranya untuk mengambil S2 di negeri jauh agar keduanya berpisah.
Namun, bukannya berpisah keduanya memutuskan untuk saling berjanji dan tetap berhubungan meski LDR. Bahkan Ambar sudah membayar beberapa gadis untuk menggoda putranya agar ingkar janji dengan gadis itu. Namun pertahanan putranya begitu kukuh, padahal dia tahu sejauh apa putranya itu berhubungan dengan gadis panti asuhan itu.
Ambar tak yakin kalau keduanya belum pernah berhubungan intim meski Ambar tahu sebesar apa pengendalian putranya tersebut. Toh, jika itu terjadi putranya tidak rugi apapun. Yang pasti gadis itu yang akan banyak dirugikan jika hal berharganya sudah diserahkan pada putranya.
Dan saat pertama menginjak di tanah air beberapa hari lalu, Ambar juga tahu dimana putranya berada. Banyak orang dibayarnya hanya untuk mengawasi gerak-gerik putranya yang berhubungan dengan siapapun. Dan sialnya putranya terlalu setia dan mencintai hanya pada gadis itu saja meski banyak gadis cantik dan kaya berusaha merayu dan mendekatinya.
Ambar sangat murka sekarang, ingin marah pada putranya dia tidak setega itu. Kalau putranya tidak mau menyerah, maka dia harus menemui gadis itu untuk menjauhi putranya. Segala macam cara akan dilakukannya nanti untuk memisahkan keduanya.
"Bagaimana pun caranya jangan berharap untuk mendekati putraku lagi, apalagi sampai menikah. Sampai kapanpun aku tidak akan merestui mereka." Selain karena status sosial, gadis itu mengingatkan dirinya pada seseorang di masa lalu yang sangat dibencinya. Seorang gadis yang dicintai mantan suaminya sebelum dia menikah dengan mantan suaminya itu.
Ambar mengepalkan tangannya menahan amarah. Dia harus tega pada putranya yang masih menangis terdengar memilukan di ruang perpustakaan mansion besar itu.
.
.
TBC
__ADS_1