Suami Dan Adik Ipar

Suami Dan Adik Ipar
Bab 28


__ADS_3

Bryan mulai mengutak-atik laptop papinya setelah papinya pamit pergi untuk urusan di luar dan meninggalkan Bryan untuk mempelajari proyek yang dijadikan tantangan untuknya dengan membuktikan dia mampu atau tidak menjadi CEO menggantikan posisi Arwana.


Namun bukan itu yang dilakukan Bryan, dia menunggu Arwana meninggalkannya sendiri di dalam ruang kerjanya karena memang ada tujuan tertentu yang ingin dia ketahui. Bryan ingat kalau Karina bekerja di perusahaan papinya. Meski tidak bisa bertemu setidaknya dia bisa melihatnya dari jauh dengan menyetujui untuk bekerja di perusahaan papinya.


Setelah diutak-atik sebentar muncullah data-data para karyawan perusahaan tersebut. Bryan mulai mencari di kolom penelusuran dengan nama Karina. Namun sejauh dia mencari tidak ada nama Karina dalam data yang dicarinya. Banyak nama Karina namun Karina, kekasihnya bukan mantan kekasih tepatnya tidak ada dalam data nama-nama seluruh karyawan.


"Kenapa tidak ada?" Guman Bryan mulai kembali menelusuri ke kolom lainnya yang lebih spesifik. Yaitu divisi keuangan. Seingatnya Karina pernah bekerja disini di dalam divisi keuangan dan Karina sebagai manager keuangan karena memang pekerjaannya yang nyaris sempurna tak pernah ada kesalahan.


Bahkan karena laporan yang selalu teliti dibuat Karina dapat menangkap pelaku yang sedang melakukan korupsi.


"Tidak mungkin." Bisik Bryan mempunyai dugaan buruk yang segera ditepisnya. Dia berharap dugaannya tidak benar terjadi. Akan semakin bersalah jika Bryan tahu.


Cklek


Bryan sontak mengalihkan tampilan layar laptopnya saat melihat Arwana masuk tiba-tiba.


"Ayo makan siang dulu, sudah waktunya!" Ajak Arwana masih berdiri di dekat pintu.


"Oh eh .. Sudah waktunya kah?" Ucap Bryan sedikit gugup melirik jam tangannya.


"Ayo!" Ajak Arwana lagi keluar dari ruang kerjanya diikuti Bryan juga melangkah menuju lift untuk ke kantin kantor yang ada di lantai lima.


"Kalau kau mencari datanya, dia sudah tidak bekerja disini lagi." Beri tahu Arwana acuh masih terus melangkah menuju kantin setelah keluar dari dalam lift.


Deg


Bryan sontak berhenti terpaku di tempatnya tak melanjutkan langkahnya mengikuti Arwana. Rasa penyesalan dan bersalah menyusup di dadanya. Ternyata papinya tahu apa yang dilakukannya diam-diam di laptop tersebut.


Bukan, bukan itu yang dicemaskan Bryan namun ucapan papinya yang mengatakan kalau Karina sudah tidak bekerja disini lagi. Dan apa perusahaan begitu bodoh melepaskan karyawan teladan yang melakukan pekerjaannya yang nyaris sempurna itu.


"A-apa maksud papi?" Tanya Bryan memastikan pendengarannya tidak salah.

__ADS_1


"Karina sudah berhenti bekerja dua minggu lalu." Arwana menuju kantin mengambil makan siangnya mengantri seperti yang lainnya. Arwana memang jarang sekali makan siang di kantin sering makan siang di rumah sehingga banyak karyawan yang terkejut melihat sang CEO ikut makan siang di kantin kantor.


Dan yang lebih mengejutkan lagi beliau juga membawa serta putranya yang digadang-gadang akan menggantikannya menjabat sebagai CEO mereka setelah tuan Arwana.


Arwana menoleh mencari keberadaan Bryan yang ternyata masih terdiam membeku di tempatnya tadi membuat Arwana terdiam merasa bersalah.


"Bry!" Seru Arwana yang melihat Bryan berlari kembali masuk ke dalam lift entah menuju ke mana. Wajahnya sudah tidak baik-baik saja. Rasa bersalah, kecewa, sakit hati juga marah terpancar jelas di wajahnya saat Arwana sempat melihatnya tadi sebelum berbalik kembali masuk ke dalam lift.


Bryan berlari kencang menuju tempat yang diketahui sebagai divisi keuangan. Setelah tiba di lantai yang dituju tadi, Bryan berlari seperti orang kesetanan menuju divisi keuangan untuk mengecek kebenaran ucapan Papinya tadi.


"Hah... Hah..." Nafas ngos-ngosan, wajah merah karena berlari membuat semua orang yang belum berangkat untuk makan siang tertuju padanya.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya seorang staf di bagian keuangan.


"Karin? Dimana Karina?" Tanya Bryan langsung dengan nafas yang masih terengah-engah memaksakan untuk bertanya.


"Ya? Maksudnya mbak Karin yang..."


"Karina sudah di PHK dua minggu lalu tuan. Siapa anda? Ada urusan apa tuan mencari mbak Karin?" Tanya Dina yang langsung menyerobot saat mendengar nama Karina disebut.


"Siapa anda? Ada apa anda mencarinya?" Tanya Dina beruntun.


"Apa maksudmu? Jawab!" Seru Bryan murka membuat nyali Dina menciut melihat Bryan yang sedang terlihat marah.


"Dia sudah tidak bekerja lagi disini. Entah apa salahnya dia diberikan surat PHK. Padahal dia karyawan teladan yang melakukan pekerjaannya nyaris sempurna." Jelas Dina mencoba untuk tidak takut sekaligus mencarikan keadilan untuk Karina yang diperlakukan tidak adil.


Bryan terdiam, pikiran buruk mulai menghantuinya. Rasa bersalah mulai menyergapnya. Dia ingin menepis pikiran buruknya itu tapi semua kenyataan mengarah pada apa yang dipikiran buruknya.


"Dimana ruang HRD?" Tanya Bryan sudah hampir hilang kewarasannya jika itu berhubungan dengan Karina, gadis yang masih dicintainya sampai saat ini meski hubungan mereka putus.


"Di lantai delapan." Jawab Dina singkat dan Bryan langsung berlari menuju lift lagi untuk naik satu lantai ke ruang HRD untuk mencari kebenaran dugaan pikiran buruknya.

__ADS_1


.


.


Cklek


Bryan menyelonong masuk begitu saja saat sudah sampai di ruang HRD yang dicarinya. Arya terkejut hendak marah karena sembarangan masuk ke dalam ruangannya namun saat tahu siapa yang masuk adalah putra CEO nya dia kembali terdiam menelan semua ucapannya yang hendak keluar tadi.


Arya mengenal Bryan karena tadi dia juga ikut meeting para pemegang saham.


"Tuan muda?" Sapa Arya langsung berdiri dari duduknya, Arya sedang makan siang di dalam kantor karena banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya sehingga malas untuk makan siang di kantin.


"Jadi benar Karina di PHK?" Tanya Bryan langsung tanpa basa-basi menatap Arya tajam.


"Eh... Ah... maksud... Oh... Karina manager keuangan?" Ucap Arya ingat sesuatu.


"Ya!"


"Ah, i-itu..." Arya juga ingat pesan dari nyonya bos untuk merahasiakan perihal itu pada yang lain.


"Katakan!" Bryan tak sabaran sampai menarik kerah kemeja pria yang berjarak lima tahun di atasnya itu.


Nyali Arya langsung menciut melihat Bryan yang terlihat murka itu. Sepertinya alasan apapun tidak akan masuk pada logika pemuda di hadapannya itu.


"Sa-saya tidak bisa mengatakannya tuan muda. Maaf." Jawab Arya sambil memejamkan matanya takut-takut melihat Bryan yang masih terlihat semakin murka itu.


"Apa... ibuku yang menyuruhmu melakukannya? Ah, maksudku nyonya bos besar?" Arya sontak terkejut karena tebakan Bryan benar, pupil matanya bergetar tak mampu menjawab ya atau tidak namun Bryan langsung melepaskan tarikan kerah kemeja Arya dan Bryan langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangan HRD tempat Arya bekerja.


"Tuan muda seran sekali meskipun tampan juga." Guman Arya merapikan kemejanya sekaligus menetralisir detak jantung ketakutannya pada calon CEO baru mereka.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2