
Tok tok tok
Rey mengetuk pintu kamar Karina setelah diberi tahu kalau istrinya ada di dalam kamar.
Tok tok tok
Rey kembali mengetuk karena tidak ada jawaban. Rey mencoba membuka hendel pintu dan ternyata tidak dikunci.
"Ceroboh." Guman Rey membuka pintu kamar sedikit dan mengintip dengan memunculkan kepalanya saja namun Karina tidak ada dimanapun.
Apa dia sedang mandi? Batin Rey masuk ke dalam kamar setelah menutup pintu kamar rapat.
Cklek
"Aarg." Kaget Karina saat keluar dari dalam kamar mandi melihat Rey sudah duduk di ranjang sambil menatap sekeliling kamar karena dia memang baru pertama kali itu masuk ke dalam kamar pribadi Karina yang ada di panti.
"Tu-tuan...?" Seru Karina mengelus dada meredakan rasa terkejutnya.
"Huff.. Aku datang untuk menjemputmu pulang." Tegas Rey kemudian duduk di sisi ranjang yang sudah tidak empuk lagi membuat Rey sontak menoleh ke arah ranjang yang didudukinya.
"Aku sudah mengirim pesan pada anda untuk menginap."
"Dan aku membacanya saat sudah sampai di depan. Bisakah kau menghubungiku dulu jika ingin kemari?" Protes Rey menatap istrinya tajam.
"Sa-saya sudah mengirim..."
"Dan itu terlambat Karin? Kau tahu aku mencemaskanmu?" Rengek Rey menatap Karina lekat membuat Karina merasa bersalah namun saat mengingat dia sudah diacuhkan selama tiga hari membuatnya ingin bertanya.
"Tuan mengacuhkan saya." Rey terlihat menghela nafas mendengar alasan Karina.
"Maaf. Bisakah kita pulang sekarang dan membahasnya di rumah? Kau tak mau kan kedua orang tuamu salah paham?" Karina terdiam, wajah datar dan dingin Rey masih saja bertahan meski nada suaranya terdengar permohonan.
"Baik." Rey keluar dari dalam kamar memilih menunggu di luar karena tak mau kehilangan kewarasannya saat melihat pakaian Karina yang hanya daster tipis tanpa sadar membuatnya bergairah.
Karina memilih untuk berganti pakaian yang lebih bersih dan mengemasi barang-barangnya. Dia pun segera keluar dari dalam kamar tak ingin suaminya menunggunya terlalu lama.
"Kalian tidak menginap?" Tanya Mira menatap Rey was-was tak mau salah paham terjadi antara pasangan tersebut.
"Maaf bu, bagaimana pun juga kami adalah pasangan pengantin baru. Kami butuh waktu berdua." Jawab Rey dengan senyum tipis tetap dengan wajah datar dan dinginnya.
__ADS_1
"Oh... Kau benar..." Sahut Mira.
"A-aku sudah siap." Karina muncul dan mengakhiri perbincangan mereka.
"Kami pamit." Ucap Rey menundukkan kepalanya sopan.
"Hati-hati!" Pesan Hartono menatap sepasang suami istri itu.
"Terima kasih pak." Ucap Rey meraih jemari tangan Karina untuk digandengnya dan Karina terdiam melihat tautan jemari mereka hingga beralih menatap kedua orang tua yang mengurus panti itu dengan hanya kode senyuman diantara mereka.
"Mereka terlihat seperti pasangan yang saling mencintai." Ucap Mira melambaikan tangannya pada Karina yang juga melambaikan tangannya.
"Rey memang mencintai Karina, dan kuharap Karina segera mencintai Rey juga. Karena memang seharusnya dia mencintai suaminya. Dia juga harus menghapus perasaannya pada mantan kekasihnya." Sahut Hartono berpendapat.
"Apa hubungan mereka akan berhasil dengan mantan kekasih Karina yang sepertinya tidak akan menyerah?" Tanya Mira menatap suaminya yang membimbingnya untuk masuk ke dalam rumah, anak-anak sedang belajar di dalam saat Rey pamit pada mereka.
"Kalau mereka berjodoh, sebesar apapun ujian yang datang mereka pasti mampu melaluinya. Mereka hanya butuh komunikasi dan kepercayaan." Ucap Hartono, Mira hanya mengangguk mengiyakan.
.
.
"Baik." Jawab Karina menghembuskan nafas kasar setelah melihat suaminya masuk ke dalam ruang kerja.
Bukankah tadi dia bilang mau bicara? Lalu, apa ini? Apa dia bermaksud mengacuhkanku lagi? Apa tadi di depan bapak dan ibu hanyalah sandiwara saja, agar kami terlihat baik-baik saja? Pintar sekali dia. Batin Karina melangkah menuju kamar utama yang ada di lantai dua.
Setelah meletakkan barang-barangnya Karina berganti pakaian dengan piyama dengan tali spageti yang tentu saja dengan jubah luarnya. Entah kenapa malam ini terasa gerah membuat Karina tidak memakai piyama setelan seperti biasanya. Perutnya terasa lapar, dia tadi bahkan belum makan sejak siang tadi. Perutnya terasa melilit sakit namun tidak berselera untuk makan. Namun untuk kesehatannya Karina memilih untuk makan di dapur.
Karina kembali melirik ruang kerja Rey yang masih tetap sama seperti sebelumnya. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Namun karena tadi dia tahu kalau suaminya ada disana, Karina hanya menghela nafas panjang.
"Apa kali ini aku harus menyerah untuk berjuang?" Guman Karina menatap meja makan yang sudah ada makanan yang disajikan maid yang dipekerjakan suaminya.
Karina mengambil piring untuk menyiapkan makanan untuknya. Untung saja belum terlalu dingin sehingga Karina tidak perlu menghangatkannya kembali. Saat dia meraih gelas yang ada di atas rak, tanpa sengaja lengan jubah sebelah melorot turun karena tadi Karina memang belum mengikat talinya di depan.
Karina mengacuhkannya, toh tidak ada orang lain selain dirinya di dapur tersebut. Namun dia salah, saat tadi dia meraih gelas tersebut Rey juga masuk ke dapur berniat untuk membuat kopi untuknya agar tetap waras. Namun saat tiba di pintu dapur Rey menghentikan langkahnya melihat ada siapa disana membuat Rey membelalakkan matanya terkejut. Apalagi melihat bahu putih mulus Karina yang tanpa sengaja tersingkap karena lengan lainnya meraih ke atas.
Tubuh Rey pun panas dingin, sudah sejak tiga hari lalu dia memang sudah menahan diri untuk tidak menyerang Karina karena terlalu seksi tubuhnya. Adik kecilnya tiba-tiba menegang sempurna di bawah sana.
Apa aku harus bersolo lagi? Batin Rey menatap Karina malah semakin membuatnya tidak fokus dan lagi, Karina memiringkan tubuhnya karena masih tidak bisa menggapai gelas muk tersebut.
__ADS_1
Dan lagi malah memperlihatkan paha mulus Karina yang memang gaun tidur itu hanya di atas paha, hanya saja harusnya tertutup jubah tidur sebatas mata kaki.
"Kau membuatku bergairah." Bisik Rey tepat di telinga Karina yang masih susah payah meraih gelas.
"Oh my..." Seru Karina terkejut dan gelas tadi tersenggol dan jatuh, refleks Rey langsung mendekap tubuh Karina memutar mencegah tubuh itu tertimpa gelas.
Grep
Karina masuk ke dalam pelukan Rey menghindari gelas yang jatuh tidak menimpanya.
Pyar
Gelas itu jatuh dan pecah membuat Karina terdiam saat menghirup aroma yang menenangkan dari ceruk leher Rey yang mendekapnya. Apalagi hembusan nafas Rey menggelitik tengkuk belakang Karina karena tubuh Karina hanya sebatas leher Rey.
"Ukh." Ringis Rey dalam pelukan Karina. Aroma sabun mandi yang menguar dari tubuh Rey membuat Karina terhipnotis di tempatnya sejenak. Bahkan dia menghirup aroma itu yang menenangkannya hingga dia memejamkan matanya.
"Maaf, tuan tidak apa-apa?" Tanya Karina langsung sadar posisi mereka namun dia tidak bisa melepaskannya karena tubuhnya mentok ke meja makan dan lengan kekar Rey melingkar di pinggangnya erat.
Rey terdiam tidak fokus, matanya menatap leher jenjang Karina yang menggodanya. Bibir Rey tanpa sadar mengecup leher yang membiusnya tersebut membuat tubuh Karina menegang menatap Rey lekat.
"Jangan memakainya lagi, kau terlihat menggairahkan, aku takut tidak mampu menahannya hingga kemudian menyerangmu kembali!" Bisik Rey di telinga Karina yang membuat wajahnya memerah karena malu. Bahkan dia melupakan ketegangan yang terjadi yang malah meninggalkan sensasi yang berbeda. Entah kenapa Karina menginginkan sentuhan fisik dengan suaminya.
"Ma-maaf.."
Cup
Karina sontak menoleh menatap Rey yang menatapnya penuh hasrat setelah memberikan kecupan singkat di pipinya.
Grep
"Kya!"
"Aku bereskan pecahan gelas ini dulu, Duduklah diam disini!" Pamit Rey melepas Karina yang didudukannya di atas meja makan, Karina hanya bisa diam tak bicara apapun dengan wajah memerah karena malu.
.
.
TBC
__ADS_1