
Bastian terduduk lemas di sofa ruang kerjanya. Bibirnya berkedut menyamarkan senyumnya. Hatinya membuncah bahagia, perutnya terasa melayang membuat senyumnya semakin lebar.
"Aku menemukannya sayang, aku menemukan anak kita?" Guman Bastian menangis bahagia.
"Terima kasih. Terima kasih sudah mempertahankannya. Maaf membuatmu menderita. Maaf." Guman Bastian menatap lagi kertas yang dipegangnya.
Sudah seminggu dia menunggu kabar itu dari sahabatnya yang merupakan direktur rumah sakit tempatnya dirawat gadis itu. Tak sia-sia dia mencarinya selama ini. Dan takdir mempertemukan mereka tidak sengaja dengan wajah yang begitu mirip dengan wanitanya, cinta pertamanya.
"Luc! Lucas!" Seru Bastian tertawa bahagia memanggil asistennya bersemangat.
"Iya tuan."
"A-aku harus menemuinya. Antar aku kesana!" Titah Bastian bersemangat.
"Kesana, kemana pa?" Suara seseorang membuat tubuh Bastian menegang di tempatnya berdiri kini. Karena terlalu bersemangat dia tidak mendengar ketukan pintu ruang kerjanya tadi.
"Ya?" Bastian langsung menoleh menatap sumber suara.
"Papa terdengar bersemangat?" Tanya Reina menatap Bastian yang langsung mengubah ekspresi wajahnya. Dia belum pernah menceritakan apapun pada putrinya.
__ADS_1
"Oh hanya... proyek kerja sama kita hampir selesai. Ya... Proyek. Benarkan Luc?" Bastian berganti menatap asistennya yang hanya berwajah datar dan dingin seperti biasanya. Namun Bastian sudah biasa melihat Lucas.
Reina memicing menatap papanya yang terlihat berbohong dan seperti menyembunyikan sesuatu. Namun dia segera menoleh ke arah asisten papanya yang tak pernah merubah raut wajahnya yang selalu datar dan dingin.
"Benarkah Luc?" Tanya Reina menatap tajam Lucas yang tetap tak merubah ekspresi wajahnya.
"Benar nona." Jawab Lucas tenang dan sopan seperti biasanya. Tak tahu apa dia berbohong atau tidak.
Reina berganti menatap papanya yang masih terlihat salah tingkah seolah dia memergoki papanya berselingkuh.
"Baiklah. Aku akan percaya kali ini." Jawab Reina.
"Tentu saja... Karena memang tidak ada sesuatu yang penting." Jawab Bastian mulai bisa mengendalikan kebohongannya.
.
.
"Dia... Kemana?" Tanya Karina melihat hanya Aldi yang muncul untuk menjemputnya pulang setelah satu minggu dirawat. Kini dia sudah merasa lebih baik dan sudah tiga hari ini suaminya tidak muncul untuk mengunjunginya di rumah sakit. Hanya Aldi yang muncul membuat Karina mengernyit heran namun dia tidak bertanya banyak hal.
__ADS_1
Informasi dari Aldi sudah cukup. Katanya suaminya sedang perjalanan bisnis kembali ke Beland*. Ada pekerjaan darurat yang membutuhkan dirinya langsung tanpa perantara. Dan Aldi diminta tinggal mengurus pekerjaannya sekaligus mengurus istrinya.
Namun yang membuat Karina bertanya-tanya, suaminya tidak berpamitan padanya atau hanya sekedar menghubunginya lewat panggilan ponsel atau sekedar mengirim pesan singkat membuat Karina merasa kalau ada yang tidak beres dengan suaminya.
Bahkan dia berpikir buruk kalau suaminya sedang ada masalah. Karina mulai tidak sabar hingga Aldi lah yang menjemputnya. Padahal sebelumnya, suaminya sudah berjanji akan mengantarkannya pulang saat dia sembuh nanti. Entah kenapa di hatinya merasa sedikit nyeri namun dia tak menggubrisnya memilih untuk biasa-biasa saja seolah tidak ada yang terjadi.
"Semua sudah siap tuan." Suara perawat yang membantu Karina membereskan barang-barangnya di rumah sakit membuyarkan lamunan Karina yang masih terdiam setelah Aldi memberi tahunya kalau suaminya masih banyak pekerjaan disana dan minta maaf karena tidak bisa menjemput Karina dari rumah sakit.
"Saya akan membawanya ke mobil nyonya." Jawab Aldi mengambil tas besar yang diserahkan perawat.
"Kita bersama saja." Ucap Karina mengikuti langkah Aldi langsung berjalan di depan Aldi. Awalnya Aldi ingin Karina menunggu di ruang perawatannya dulu dan dia akan menjemputnya dengan menggunakan kursi roda untuk menuju mobil mereka namun sepertinya mood sang nyonya terlihat memburuk membuat Aldi menghela nafas panjang melihat kelakuan pasangan suami istri tersebut.
Di sisi lain Aldi diperintahkan Rey agar melarang Karina untuk berjalan menuju mobilnya meski sudah sembuh. Dan di sisi lain Karina terlihat enggan menuruti ucapan Aldi memilih untuk berjalan cepat menuju mobil mereka. Karina terlihat marah di mata Aldi. Namun Rey sendiri pasti akan marah padanya jika tahu hal ini nanti. Aldi serba salah disini.
"Sial. Sebenarnya ada apa dengan mereka?" Kesal Aldi mengomel di belakang Karina meski berjarak cukup jauh namun jika mereka dekat, Aldi tak mungkin berani mengomel seperti itu.
"Kalau marah, kenapa tidak dibicarakan baik-baik? Dasar pengantin baru." Guman Aldi semakin kesal.
.
__ADS_1
.
TBC